Tiga Poin Atasi Penurunan Debit Air di Kota Jayapura

138

RABU, 22 MARET 2017

JAYAPURA — Kota Jayapura sebagai Ibukota Provinsi Papua dengan kepadatan penduduk yang lebih dari 300 jiwa ini bergantung hidup dengan air. Sementara ketersediaan air itu sendiri tiap tahunnya terus menurun. Untuk antisipasi hal tersebut, seorang aktivis lingkungan berikan tiga poin penting solusinya.

Kali Kamwolker melintas Kota Jayapura dan Kabupaten Jayapura.

Dian Yasmin Warasaka aktivis lingkungan dari Forum Peduli Port Numbay Green (FPPNG) yang juga akademisi pada salah satu perguruan tinggi di  Kota Jayapura mengungkapkan ketersediaan air di Kota Jayapura semakin tipis. Ia menjelaskan salah satunya di Kali Kamwolker, Waena, Ibu Kota Provinsi Papua tiap tahun debit airnya berkurang drastis.

“Kamwolker tahun 90-an itu 100 meter kubik per detik, turun terus hingga sekarang 2017, 10 meter per detik,” diungkapkan Dian kepada Cendana News, Rabu (22/03/2017).

Menurutnya, ada tiga poin yang harus dilakukan secara bersama-sama baik masyarakat, kelompok pekerja, lembaga swadaya masyarakat (LSM) bahkan pemerintah setempat. Dikatakan Dian, pertama aturan harus tetap ditegakkan, tak memberikan izin sepihak kepada kelompok ataupun perusahaan tertentu.

“Di Kamwolker masyarakat dilarang buka lahan kebun, menebang pohon di hutan untuk buat arang kayu. Tapi ada bangunan di situ, ada tambang kapur juga di situ. ini kan jadi serba salah,” tuturnya.

Poin kedua yang harus dilakukan yaitu, kata Dian berikan alternatif kepada masyarakat sekitar lokasi mata air atau kali dengan menyediakan lahan pertanian yang baik dan berikan pelatihan serta pemahaman bercocok tanam tanpa harus berpindah-pindah tempat. Berkebun secara pindah-pindah, menurutnya adalah pola-pola tradisional yang dibawa dari kampung ke kota, sehingga harus diberikan pemahaman.

“Tapi kan motifnya mereka ekonomis. Untuk itu sediakan lahan pertanian dan berikan pelatihan bertani yang baik kepada mereka,” katanya.

Poin ketiga kata Dian yang pernah tinggal di Eropa selama 2-3 bulan lamanya saat melakukan penelitian, kesadaran diri orang-orang menghemat air. Perlu kesadaran dalam hal penggunaan air yang dimulai dari diri sendiri hingga keluarga bahkan lingkungan sekitar.

“Di Eropa, air itu berharga sekali. Orang di Eropa benar-benar manfaatkan air hujan untuk mencuci mobil, menyiram tanaman. Kalau air bersih memang dikhususkan untuk minum dan mencuci sayur mayur,” tuturnya.

Dikatakannya, saat ini dari kacamatanya terdapat tiga sumber air yang digunakan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jayapura, masing-masing di Kali Angkasa, Kali Entrop dan Kali Kamwolker.

“Untuk di kota paling air berkurang dikarenakan penebangan pohon secara liar di areal titik mata air, kalau pencemaran air hanya di Kali Acai,” katanya.

Sementara, Adbul M.Petonengan selaku Direktur Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jayapura saat dikonfirmasi dari ujung selulernya membenarkan penurunan debit air tersebut. Tiap tahunnya air terus menurun, sebelumnya debit air 895 liter per detik kini turun menjadi 524 liter per detik.

Hal ini diakibatkan terjadi pengerusakan areal mata air seperti penebangan pohon, penambangan batu dan pasir.

“Semua itu akibatkan penurunan kualitas dan kuantitas air kita, dari sisi kualitas indikasi kalau hujan air disungai sangat keruh. Tapi kalau tak hujan air kita itu sangat jernih,” kata Abdul M.Petonengan.

Dikatakan Abdul, kelayakan air yang dapat diminum tanpa dimasak yakni disaat tak terjadinya hujan, karena aliran dari mata air sangat jernih sebesar 5 mtu. Rata-rata dari 10 sumber mata air yang ada kalau tak hujan di bawah nol koma, melainkan kalau hujan kualitas air meningkat sampai 11 mtu, itu kalau sudah sangat keruh.

“Inilah indikator akibat hutan kita sudah rusak, karena tak dapat ada menyimpan air,” ujarnya.

Untuk melakukan reboisasi butuh waktu yang panjang. Menurutnya jangka waktu dekat solusinya mencari sumber air yang baru dengan mengelola air Danau Sentani, Kabupaten Jayapura.

“Konsekuensi kelola air danau sentani biayanya sangat mahal. Dan pastinya berdampak pada harga air itu sendiri. Karena kita harus menyiapkan pompa, bahan bakar solar,” tuturnya.

Kendala saat ini, lanjut Abdul harus ada kesepakatan dengan hak pemilik ulayat di Danau Sentani. Dari sisi kelayakan, menurutnya air Danau Sentani memang ada pencemaran dari limbah rumah tangga cukup tinggi.

“Jadi harus kita olah lagi, kalau mengolah bakterologi nanti tinggal berikan disinfeksi air tersebut sudah bagus kembali, untuk kandungan lainnya saya pikir tak berbahaya,” ujarnya.

Untuk diketahui, kali di Ibu Kota Papua antara lain kali Dok IX, VII, APO, Anafree, Hanyaan, Entrop 1, Entrop 2, Acai, Siborogonyi, Mati, Tami, Kojabu, Onabu, Hubari, dan Temani. Sedangkan kali yang melintasi antar kota dan kabupaten yakni Kali Tami, Kamwolker/Kojabu, Onabo, Hubari  dan Temani.

Dian Yasmin.Waraska.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Indrayadi T Hatta

?

Komentar