Tiga Tahun Pinjam Modal Tabur Puja, Ni Eli Sudah Miliki Warung dan Kos-kosan

0
15

SABTU, 25 MARET 2017
 
SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Untuk dapat bergerak cepat, tentunya perlu didukung dengan perangkat yang memadai. Begitu juga dalam berusaha maupun berdagang, untuk mendapatkan untung yang melimpah, selain manajemen yang baik tentu perlu sokongan modal. Hal inilah yang menjadi kendala umum masyarakat kecil dalam berusaha.

Fresia Lili dan warung gorengannya.

Hal yang sama juga dirasakan oleh Fresia Lili (38) yang berdagang gorengan di Nagari Koto Baru, Kecamatan Kubung, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Ni Eli, demikian ia akrab disapa, sebelumnya hanya mengisi waktu dengan membuat gorengan di rumah dan ditumpangkan ke warung-warung yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Meski terniat untuk membuka lapak sendiri, namun kembali lagi kepada modal yang membuatnya harus mengurungkan niat tersebut.

Pucuk tercinta ulam pun tiba, sejak 2014 lalu, ia bergabung menjadi anggota di Posdaya Bina Karya yang berada di bawah naungan Koperasi KPRI Kencana Kabupaten Solok yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri. Dengan pinjaman awal Rp2 juta, ia sudah dapat membuka sendiri warung kecil-kecilan di pinggir jalan, tepatnya di dekat kolam pemancingan.

“Dana pinjaman awal saya gunakan untuk pembuatan warung kecil-kecilan di sini,” sebut Ni Eli sambil menggoreng gorengan di warungnya kepada Tim Cendana News.

Warung berukuran dua kali tiga dengan satu gerobak di depannya untuk meletakkan dagangan dan penggorengan menjadi tumpuan usaha untuk berdagang. Setelah terbangun warung, usaha Ni Eli mulai menunjukkan peningkatan. Selain menaruh dagangannya ke warung, ia juga bisa langsung menjual sendiri.

“Biasanya, pendapatan hanya berkisar Rp150 ribu setiap hari, sekarang lebih-kurang Rp300 ribu per hari,” sebutnya.

Di pinjaman kedua, ia mulai memikirkan untuk menambah ragam usaha, lontong, mie rebus hingga mengganti etalase warung menjadi kaca yang sebelumnya hanya ditutup dengan plastik bening. Perlahan tapi pasti, omzet yang didapatkan setiap hari juga meningkat dan langganannya juga mulai banyak. Bahkan ia sudah bisa menabung.

“Biasanya, saya membayar angsuran lebih dari yang seharusnya dibayar,” katanya.

Ternyata, hal ini memberikan keuntungan tersendiri baginya. Kelebihan angsuran tersebut dapat dinikmatinya saat mengambil pinjaman tahap tiga yang dipergunakan untuk reparasi rumah untuk kos-kosan anak sekolah MTsN yang tidak jauh dari kediamannya.

“Saya kaget, pinjaman ketiga yang cair sebenarnya Rp3 juta, tapi yang saya terima Rp4 juta,” sebutnya.

Usut punya usut, tambahan satu juta merupakan kelebihan dari angsuran yang ternyata tercatat sebagai simpanan sukarela yang dapat diambil kapan saja. Meski sudah diambil satu juta, ternyata masih tetap tersisa Rp300 ribu di rekening tabungan Tabur Puja.

Saat ini pun pemasukannya juga bertambah Rp250 ribu per bulan dari hasil sewa kamar kos-kosan. “Kamar kos-kosan sekarang juga sudah diisi sama dua orang pelajar dengan biaya per bulan Rp125 ribu per orang,” katanya sambil menawarkan gorengan kepada Tim Cendana News.

Dengan semakin meningkatnya omzet dari perdagangan dan rumah kos-kosan, membuat perekonomiannya terus membaik. Hasil usahanya sudah dapat membantu suami dalam menyekolahkan dua anak yang saat ini duduk di MTsN dan SD.

Ni Eli tengah menggoreng makanan.

“Selain sekolah anak, alhamdulillah saya juga dapat membantu anak yatim yang tinggal di rumah,” tutupnya.

Jurnalis: ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: ME. Bijo Dirajo

Komentar