Tokoh NU di Banjar Ungkapkan Duka Cita atas Wafatnya KH Hasyim Muzadi

66

KAMIS, 16 MARET 2017

BANJAR — Tokoh NU yang juga sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Banjar, Jawa Barat, KH. Muhtar Gozali, ikut berduka secara mendalam atas meninggalnya KH. Achmad Hasyim Muzadi, Kamis (16/3/2017 ) pukul 06.15 WIB di kediamannya Kompleks Pesantren Al-Hikam Malang, Jawa Timur.

KH. Muhtar Gozali.

Menurut KH. Muhtar Gozali, Kiai Hasyim merupakan tokoh ulama nasional bahkan internasional dengan kiprah yang baik sehingga menjadi seorang tokoh panutan. Tak ada yang mengelak, kiprah kiai kelahiran Bangilan, Tuban 72 tahun yang lalu itu, baik secara nasional dan internasional.

“Inna lillahi wa inna ilayhi raaji’un. Nahdliyin sangat kehilangan salah satu tokoh terbaiknya, KH, Achmad Hasyim Muzadi, yang berpulang pada Kamis pukul 06.15 WIB. Beliau adalah sosok panutan yang telah banyak meninggalkan uswah hasanah,” ungkap KH. Muhtar Gozali, Kamis (16/3/2017), di Kota Banjar, Jawa Barat.

KH. Muhtar Gozali menambahkan, dedikasi Kiai Hasyim untuk Nahdlatul Ulama di Indonesia sangat luar biasa dan tidak pernah surut. Kiai Hasyim merupakan tokoh NU yang berkhidmah sejak dari tingkat ranting hingga Pengurus Besar Nahdatul Ulama (PBNU) pusat.

“Kematangan organisasi, pengabdian sekaligus kepemimpinan beliau tidak diragukan lagi,” kata KH. Muhtar Gozali.

Atas nama NU Kota Banjar, dan seluruh Nahdliyin, KH. Muhtar Gozali mengungkapkan, turut berduka cita dan bela sungkawa sedalam-dalamnya atas wafatnya Kiai Hasyim Muzadi. Ia juga menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya atas jasa-jasa beliau selama ini.

“Semoga beliau mendapatkan maghfirah dan diterima di sisi Allah SWT,” tandasnya.

Sementara, Ma’mun Syarif, tokoh Ansor Kota Banjar, menyatakan, wafatnya Kiai Hasyim Muzadi adalah kehilangan tokoh kharismatik bagi bangsa Indonesia dan dunia Islam.

“Wafatnya KH. Hasyim Muzadi adalah kehilangan bagi bangsa Indonesia dan dunia Islam. Semoga amal ibadah almarhum diterima Allah SWT,” ungkapnya.

Jurnalis: Baehaki Efendi / Editor: Satmoko / Foto: Baehaki Efendi

Komentar