Tukijo, Buruh Bangunan yang Sukses Bertani Cabai

0
16

MINGGU, 19 MARET 2017

LAMPUNG — Bekerja sebagai buruh bangunan selama bertahun-tahun dengan penghasilan sekitar Rp60-70.000 per hari, telah ditekuni oleh Tukijo (55), warga Dusun Banyuurip, Desa Kuripan, Kecamatan Penengahan. Penghasilan yang tak menentu sebagai buruh bangunan tersebut membuat Tukijo meninggalkan lahan sawah dan kebun yang ada di samping rumah dan terbengkelai tanpa ditanami apapun.

Tukijo

Namun, setelah merasakan penghasilan sebagai buruh yang hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari tanpa bisa menabung, Tukijo mulai memutuskan untuk melakukan budidaya tanaman cabai merah sejak awal 2015, dengan menanam tanaman cabai sebanyak 1000 bibit. Bermodalkan uang pinjaman dari salah-satu keluarga, sebanyak 1000 batang bibit yang ditanamnya tersebut mampu menghasilkan sekitar 1000 kilogram cabai merah besar yang selanjutnya digunakan sebagai modal untuk menyewa lahan milik petani lain.

Tukijo mengaku dibantu sang anak, Amri (24), untuk menanam cabai, dan anak-anaknya yang lain di antaranya Andi (13), menyemai bibit cabe merah besar dan membantu proses pengolahan lahan, perawatan hingga pascapanen. Awalnya, lahan tanaman cabai merah hanya digunakan sebagai lahan untuk menanam padi, namun serangan hama tikus dan kurangnya pasokan air membuatnya memutuskan beralih ke tanaman cabai merah, dan saat panen sempat mengalami harga yang cukup bagus di kisaran Rp50-60.000 per kilogram di tingkat pengepul.

Modal yang diperoleh dari pinjaman dan juga biaya operasional, diakuinya sudah bisa dikembalikan, dan ia mulai memperluas penanaman cabai merah dengan menggunakan lahan sawah yang berada di dekat aliran Sungai Way Kuripan. “Keberuntungan berpihak kepada saya saat saya memanen cabai merah bertepatan dengan harga yang bagus, dan saya mantap untuk bertani cabai merah dengan dibantu anak-anak saya. Hingga kini, sudah memasuki tahun ketiga saya budidaya cabai merah,” ungkap Tukijo, saat ditemui Cendana News di Dusun Banyuurip Desa Kuripan Kecamatan Penengahan, Minggu (19/3/2017).

Selain menanam cabai merah di lahan sawah, samping rumah, ia mengaku mengajak kerabatnya yang lain memanfaatkan lahan untuk menanam cabai hingga 7.000 batang dengan hasil sekitar 40 ton, dan digunakan untuk modal menyewa lahan milik petani lain dan sebagian digunakan untuk membeli kendaraan pengangkut. Berkat usaha menanam cabai merah tersebut, Tukijo juga mengaku bisa membuatkan rumah untuk sang anak, sehingga ia mantap melakukan usaha budidaya tanaman cabai yang diakuinya menjadi pekerjaan bagi anak-anak dan kerabatnya hingga kini.

Pada masa tanam bulan Maret ini, Tukijo mengaku agak terlambat memindahkan bibit cabai merah sebanyak 1500 bibit ke sebanyak 10 guludan dengan menggunakan mulsa, yang panjangnya masing-masing mencapai 50 meter. Sebelum proses penanaman pada mulsa tersebut, ia terlebih dahulu membuat guludan yang telah diberi pupuk kandang dan dolomit, dan dibiarkan selama hampir satu minggu sebelum ditutup mulsa. Berbekal kesuksesan masa panen pada saat panen sebelumnya yang berhasil memperoleh hasil sekitar 1 ton, ia mengaku pada saat musim tanam tahun ini menambah beberapa guludan untuk hasil lebih maksimal.

Salah-satu anak Tukijo membantu menyemai bibit cabai

Meski menguntungkan, terutama saat harga mencapai Rp50-60.000 per kilogram, namun saat ini ia mengakui harga cabai merah saat ini hanya Rp26.000 per kilogram. Harga tersebut masih bisa memberi keuntungan bagi petani cabai, meski tidak terlalu besar. Harapan akan keuntungan tersebut pun terkadang masih dihadapkan dengan hama penyakit pada tanaman cabai merah miliknya, di antaranya kutu daun, serangan daun berkerut, hama tungau, ulat glayak hingga lalat buah. “Kalau musim kemarau saya harus menyiapkan alat sedot yang bisa diambil dari sungai yang letaknya lebih rendah daripada lahan tanaman cabai yang saya miliki,” ungkap Tukijo.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar