Umat Hindu Lakukan Upacara Tawur Agung Kesanga di Kompleks Candi Prambaman

43

SENIN, 27 MARET 2017

YOGYAKARTA —  Rangkaian prosesi peringatan Hari Raya Nyepi tahun 1939 Saka, umat Hindu di DIY dan Jawa Tengah menjalankan prosesi Upacara Tawur Agung Kasanga yang secara nasional dipusatkan di kompleks Candi Prambanan Yogyakarta, Senin (27/03/2017). Upacara yang digelar satu hari sebelum hari raya Nyepi ini diawali ritual Mendak Tirta yang dilanjutkan ritual Pradaksina.

Suasana prosesi ritual Pradaksina 

Ritual Mendak Tirta merupakan ritual pengambilan air suci yang diambil dari sumber air yang terdapat di Kawasan Candi Boko. Prosesi arak-arakan membawa air suci (tirta suci) ini dipimpin oleh seorang pemimpin upacara atau Pedande. Mereka berjalan kaki beriringan membawa air suci dari komples Candi Boko menuju Kompleks Candi Prambanan yang berjarak sekitar empat kilometer ke arah utara.

Ketika tiba di Kompleks Candi Prambanan, para pemangku pura bergabung dengan iring-iringan pembawa air suci lantas langsung melakukan ritual Pradaksina. Ritual Pradaksina merupakan ritual mengelilingi candi utama Syiwa yang dalam kepercayaan umat Hindu merupakan dewa yang bertugas meleburkan segala sesuatu yang sudah usang dan tidak dipergunakan lagi di bumi. Ritual mengelilingi candi ini dilakukan sebanyak tiga kali putaran, dengan membawa sesaji dan kelengkapan upacara lainnya.

Ida Bagus Agung

Sejumlah umat Hindu juga nampak terus berdatangan dari berbagai daerah menuju kompleks candi Prambanan dengan membawa sesaji masing-masing dan ditaruh di meja panjang yang disiapkan di pelataran candi.

Ketua Parisade Hindu Dharma Indonesia (PHDI) DIY, Ida Bagus Agung mengatakan, upacara Tawur Agung Kesange merupakan ritual untuk mengharmoniskan alam semesta. Tahun ini perayaan hari raya Hindu mengangkat tema membangun harmoni untuk persatuan dan kerukunan alam semesta.

“Dengan berbagai rangkaian upacara peringatan hari raya Nyepi ini diharapkan seluruh unsur baik dan buruk dapat berjalan harmonis dan rukun dengan kita umat manusia,” katanya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Komentar