Umat Hindu Malang Raya Gelar Upacara Ngembak Ghni dan Dharmasanti

74

RABU, 29 MARET 2017

MALANG — Usai kemarin melaksanakan ritual Catur Brata Penyepian selama 24 jam penuh, hari ini ratusan umat Hindu se-Malang raya menggelar upacara Ngembak Ghni dan Dharmasanti sebagai ritual penutup dari rangkaian kegiatan Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka Warsa 1939. 

Suasana Uapacara Ngebak Ghni.

Dua ritual tersebut sekaligus diadakan di Candi Badut yang berlokasi di Des Karangwidoro, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang. Turut hadir dalam kegiatan tersebut Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) kota Malang, Kabupaten Malang dan Kota Batu serta Wali Kota Malang Mochammad Anton.

Menurut ketua PHDI kota Malang, Putu Moda Arsana, Hari Ngembak Ghni jatuh tepat sehari setelah Hari Raya Nyepi sebagai penanda berakhirnya Brata Nyepi. Pada Hari Ngembak Ghni, umat Hindu akan memulai hidup baru dengan sikap mental yang kukuh dan penuh kesadadan untuk mengabdi kepada sang Hyang Widhi serta mengabdi kepada keluarga, masyarakat dan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sedangkan Dharmasanti merupakan perwujudan rasa damai dalam kehidupan di dunia yang dilakukan dengan saling berkunjung dalam keluarga dan mengucapkan selamat tahun baru, urainya.

“Hari Raya Nyepi adalah ajaran leluhur yang sangat luar biasa karena setelah 364 hari kita selalu hidup dengan hiruk pikuk, maka satu hari dalam satu tahun kita diminta untuk hening untuk melihat ke dalam diri. Setelah 364 hari kita selalu melihat ke luar dengan mata, maka satu hari kita diminta untuk melihat kedalam dengan mata hati atau biasa disebut Mulat Sariro (intropeksi diri),” jelasnya, Rabu (28/3/2017).

Umat Hindu Menaruh Sesajen di Candi Badut.

Menurutnya, pada saat melakukan Mulat Sariro, manusia harus mampu melihat dan mensyukuri diri sendiri bahwa kehidupan ini adalah karunia tuhan yang sangat luar biasa. Setiap bangun tidur manusia harus melihat jasmaninya dengan tuntutan yang bermacam-macam dan mansia harus mampu melayaninya. Namun layanan ini memang wajib karena kehidupan ini adalah karunia.

“Dalam filsafat Hindu, kalau anda tidak hidup berkali-kali anda tidak akan mencapai moksa. Dengan kehidupan inilah suatu ketika kita akan mencapai moksa, oleh karena itu harus disyukuri bahwa jasmani kita harus dipelihara dengan baik, jangan sampai di abaikan,” ucapnya.

Selanjutnya manusia juga harus mulat sariro kepada keluarga. Apakah kita sudah berbuat cukup dan memenuhi sandang, pangan, papan keluarga terutama anak dan istri. Setelah itu barulah manusia juga melakukan mulat sariro terhadap sekeliling seperti kepada tetangga dan pemerintah.

Begitu pula kita juga harus mulat sariro dengan lingkungan, apakah kita sebagai manusia sudah menjaga lingkungan ini dengan baik atau belum. Karena manusia tidak bisa hidup tanpa lingkungan yang baik. Dan yang terakhir sudahkah kita berterimakasih kepada sang pencipta.

“Lima hal itulah yang harus kita lakukan mulat sariro selama hari raya Nyepi selama kita melaksanakan catur brata penyepian. Kalau lima hal ini sudah dikerjakan maka manusia akan mendapatkan hasil untuk kemudian pada hari ini kita lahir menjadi manusia baru yang punya rasa syukur dan mensyukuri kehidupan,” pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Wali Kota Malang Mochammad Anton, menurutnya sebagai manusia harus mampu intropeksi diri, apa yang telah di lakukan sehari-hari dan selama ini menjadi salah satu bagian dari pembelajaran dalam kehidupan berbangsa dan bernegara khususnya di Kota Malang dan warga Malang Raya. Lebih lanjut orang nomer satu di pemerintahan Kota Malang ini mengajak masyarakat khususnya umat Hindu untuk terus menjaga persatuan dan kesatuan.

“Kesatuan dan persatuan sangat penting sekali dimana pada Hari Raya Nyepi ini saya berpesan kepada warga umat Hindu di Malang raya untuk memperkuat tali persatuan dan kesatuan serta persaudaraan baik antar sesama umat Hindu maupun dengan umat agama yang lainnya,” ujarnya.

Tutur Anton,tidak ada satupun agama di bumi ini yang mengajarkan hal-hal yang justru bisa menyengsarakan umatnya. Tapi yang jelas semuanya memiliki keinginan bersama membangun kedamaian dan ketentraman bahkan kesejahteraan bagi semua umat beragama di bumi ini. Keinginan membangunan hubungan baik itu,  tidak hanya antar manusia, lingkungan juga harus di jaga.

“Karena lingkungan merupakan bagian dari kehidupan yang tentu harus bisa di jaga sehingga bisa kita bisa berdayakan bersama untuk kepentingan umat manusia,” pungkasnya.

Peniratan Tirta suci.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Agus Nurchaliq

Komentar