Uni Des: Bermula dari Tabur Puja, Motor Saya Kini Sudah Dua

0
20

KAMIS, 23 MARET 2017
SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Seperti sebuah ungkapan, ciri orang yang sukses yakni orang yang hari ini kualitas hidupnya lebih baik daripada hari kemarin. Mungkin ungkapan ini juga bisa disematkan kepada Desis Sriyanti (33) yang berjualan di depan MTsN Koto Baru, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Uni Des sedang membuat pesanan minuman.

Siapa yang menyangka, ibu dengan dua anak yang biasa disapa Uni Des ini, yang mulai berjualan sejak 2007 lalu, hanya memiliki tempat berjualan kaki lima sepanjang satu meter. Namun, jika dibandingkan dengan saat ini, tempat berjualannya sudah mencapai panjang tiga meter dengan berbagai ragam jenis jualan. Tidak hanya itu, ia juga memiliki tempat berjualan baru, tepatnya di sebelah tempat berjualan sekarang.

Usut punya usut, ternyata usaha Uni Des mulai meningkat setelah adanya penambahan modal yang didapatkannya dari dana pinjaman Program Tabur Puja (Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera) Posdaya Bina Karya binaan KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok bekerja sama dengan Yayasan Damandiri. Tidak banyak, namun untuk pedagang kecil jumlah tersebut lebih dari cukup.

“Pinjaman awal saya di Tabur Puja sebesar Rp2 juta,” sebut Uni Des di tempat berjualan, mengawali pembicaraan dengan Tim Cendana News.

Meski sedikit, namun jika dimanajemen dengan baik juga memperhatikan skala prioritas dapat menghasilkan hal besar. Hal inilah yang dilakukan oleh Uni Des dalam empat kali periode peminjamannya.

Di awal pinjaman, dana digunakan untuk membeli alat pendingin (ice pack), pinjaman kedua membeli etalase untuk berdagang mie, pinjaman ketiga membeli dua blender untuk pembuatan minuman serbuk, dan yang keempat untuk modal penambahan bahan baku dagangan.

Semua alat itu digunakan untuk mendukung usaha yang dijalaninya, yakni menjual berbagai macam minuman serbuk, nasi goreng, mie goreng, hingga makanan ringan lainnya.

“Perlahan tapi pasti, dengan adanya perangkat tersebut, beberapa usaha dapat dilakukan,” sebutnya.

Dengan manajemen yang baik, dana yang didapatkan dari hasil penjualan, sebagian diputarkan lagi, sebagian untuk membayar angsuran setiap minggu dan juga untuk tabungan.

“Secara tidak sadar, tabungan saya di Tabur Puja sudah mencapai Rp1.500.000. Rencananya akan digunakan untuk biaya kurban saat Idul Adha nanti,” katanya sambil melayani pembeli yang kebanyakan pelajar MTsN yang tengah istirahat.

Berbicara tentang omzet, tiga tahun terakhir, dengan bertambahnya ragam jualan juga meningkatkan jumlah pendapatan. Sebelumnya, hanya mampu meraih Rp100 ribu per hari, namun saat ini rata-rata Rp300 ribu per hari.

“Karena sudah banyak stok bahan, saya bahkan pernah mendapatkan omzet dalam satu hari Rp1,5 juta, saat ada keramaian di sini,” terangnya.

Dengan meningkatnya omzet, kualitas ekonomi dan kehidupannya juga meningkat. Hasil usaha yang ditekuninya sudah dapat membantu perekonomian keluarga bersama suaminya yang berprofesi sebagai sopir. Beberapa barang yang dibutuhkan juga sudah mampu dibeli.

Pelajar MTsN tengah memesan minuman serbuk di warung Uni Des.

“Bermula dari modal yang dipinjamkan Tabur Puja, saat ini motor saya juga sudah dua, semua dilunasi dengah hasil berdagang,” sebutnya bangga.

Jurnalis: ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: ME. Bijo Dirajo

Komentar