Uni Las: Dari Penerima Upah Tenun Songket Pandai Sikek hingga Bisa Jual Sendiri

0
23

JUMAT, 24 MARET 2017

SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — “Dulu saya hanya penerima upah,” kata Lasmiati (38) yang berprofesi sebagai penenun kain songket pandai sikek saat dijumpai tim Cendana News di kediamannya di Nagari Gantuang Ciri, Kubung Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Uni Las sedang menenun songket pandai sikek.

Menjalani aktivitas sehari-hari, Uni Las, demikian akrab disapa, selalu berkutat dengan alat tenun yang terbuat dari susunan kayu dan bambu. Duduk di atas panta (tempat duduk penenun), kaki berada di tijak-tijak (tempat kaki penenun) bergoyang mengikuti alur motif. Turak (alat untuk membawa benang dari kiri ke kanan dengan bantuan tangan) mondar-mandir di antara susunan benang yang dipisahkan oleh karok (alat untuk mengatur benang yang terletak di atas dan di bawah). Ditimpali bunyi suri atau sisir (alat untuk merapatkan benang) menjadi irama tersendiri yang khas.

Helai demi helai benang yang beraneka ragam, seperti sutra (suto), benang emas hilir-mudik menggunakan turak yang dibantu dengan lidi-lidi sungkitan (pengatur motif) membentuk sebuah motif yang cantik bernilai tinggi seperti itiak pulang patang, bada mudiak dan sirangkak.

Aktivitas tersebut sudah dilakoninya sejak gadis, tepatnya sejak 1995. Pada 2000, Uni Las pindah ke Nagari Gantuang Ciri dan tetap beraktivitas menjadi penenun songket pandai sikek. Namun dari awal hingga beberapa tahun yang lalu, ia hanya mampu menjadi penerima upah.

“Bahan dan alat tenun milik induk semang, saya hanya menerima upah kurang-lebih Rp1,5 juta untuk satu stel kain songket,” sebutnya.

Meski memiliki niat untuk mengembangkan, namun harapannya terkendala karena modal. Untuk mendapatkan pinjaman, perlu beberapa persyaratan yang mesti dipenuhi dan menunggu waktu yang cukup lama.

“Modal ndak ado, ndak bisa mangambangannyo, untuak agunan indak ado pulo,” katanya dalam dialek Minang yang artinya, modal tidak ada sehingga tidak bisa untuk mengembangkan usaha, untuk agunan juga tidak punya. Padahal, permintaan songket pandai sikek sangat banyak dengan berbagai macam corak dan warna dasar.

Namun, beberapa tahun lalu, ia bertemu dengan Elmiyeli (50), admin di program Tabur Puja di bawah naungan Posdaya Jihad Koperasi KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri. Hingga kini, Uni Las sudah masuki pinjaman ke tiga dengan besaran Rp3 juta rupiah.

“Dananya saya gunakan untuk membeli alat tenun dan bahan baku,” sebut Uni Las.

Dari adanya modal tersebut, Uni Las sudah dapat berdikari, mulai dari mencari pelanggan sendiri, membuat dengan alat milik sendiri, bahan baku beli sendiri dan juga memasarkan sendiri, sehingga keuntungan lebih besar dari sebelumnya.

“Dulu upah paling tinggi Rp1,5 juta. Sekarang meningkat menjadi di atas Rp2 juta untuk setiap kain yang sudah jadi karena bisa langsung menjual sendiri. Rata-rata setiap kain yang dijual harganya berkisar di atas Rp2 juta,” sebutnya.

Dikatakan Uni Las, hasil yang meningkat sudah mulai bisa memperbaiki perekonomian keluarga. Selain biaya dapur dan sekolah anak, keuntungan juga dapat membantu menambah modal suami yang berprofesi sebagai pedagang buah musiman.

Saat ini, ia berupaya untuk dapat menambah alat tenun baru agar nanti juga dapat membuat kain dengan warna dasar berbeda sehingga pengerjaan pesanan bisa lebih cepat.

Alat tenun songket tradisional.

“Dasar kain itu ada dua, merah dan hitam, mudah-mudahan terkumpul modal untuk pembelian alat baru sehingga pesanan akan meningkat,” harapnya mengakhiri pembicaraan dengan tim Cendana News.

Jurnalis:  ME. Bijo Dirajo/ Editor: Satmoko / Foto: ME. Bijo Dirajo

Komentar