Wabup Sikka, Janji Perbaiki Kinerja Pemerintah

30

JUMAT, 31 MARET 2017

MAUMERE — Bantuan bibit ternak yang diberikan Pemerintah Kabupaten Sikka kepada masyarakat di 2016, tidak tepat sasaran. Bahkan, semua ternak yang dibagikan seperti kambing, babi dan sapi, semuanya mati setelah diserahkan kepada masyarakat.

Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar.

Demikian disampaikan Fraksi Partai Golkar, Hanura, Gerindra dan PKPI dalam rapat paripurna pandangan umum fraksi-fraksi DPRD Sikka terkait Laporan Kerja Pertanggungjawaban (LKPJ) Bupati Sikka akhir tahun anggaran 2016, belum lama, ini.

Fraksi Golkar memandang, pengadaan bibit ternak agar dijaga prosedur keamanan bibit ternak dalam mencegah berbagai penyakit yang kemudian timbul setelah ternak berada di tangan masyarakat, dan mendukung ketersediaan fasilitas pendukung lainnya. “Ternak sapi yang dibagikan hanya bertahan dalam waktu seminggu, setelah berada di tangan masyarakat lalu ternak tersebut mati,” tegas fraksi Golkar.

Senada, fraksi Hanura juga berharap, agar Pemerintah dalam hal ini Dinas Pertanian, melalui Bidang Kesehatan Hewan bisa mengerahkan petugas kesehatan hewan terjun ke masyarakat untuk mengecek wabah penyakit yang sedang melanda masyarakat. Ribuan binatang peliharaan masyarakat sejak pertengahan 2016 hingga 2017, banyak yang tiba-tiba mati mendadak akibat terserang penyakit. Selain itu, fraksi Hanura juga meminta agar Pemerintah selalu mengawasi wabah penyakit rabies yang masih menjangkiti anjing peliharaan, sehingga tidak menimbulkan korban jiwa. “Dalam memberikan bantuan kepada masyarakat harus tepat sasaran, harus ada pendampingan dan hasilnya pun harus ada,” tegas fraksi Hanura.

Pemerintah dalam jawabannya sebagaimana disampakaian oleh Wakil Bupati Sikka, Drs. Paolus Nong Susar, mengatakan mekanisme pendistribusian bibit ternak kepada masyarakat sudah diatur dalam spesifikasi teknis termasuk aspek kesehatan hewan.

Menanggapi hal itu, Ketua Fraksi Partai Golkar, Gregorius Nago Bapa, menegaskan, jika memang semua prosedur bantuan ternak sudah sesuai aturan, namun kenyataan di lapangan berbeda sehingga harus diperbaiki. Selain ternak, bibit tanaman seperti padi dan jagung yang dibagikan Dinas Pertanian juga dikembalikan masyarakat, sebab banyak yang sudah rusak dan tidak bisa ditanam seperti di Desa Munerana. “Di Talibura juga setelah hewan diterima 30 ekor, seminggu kemudian semuanya mati, sehingga masyarakat merasa bingung dan kecewa atas apa yang dilakukan pemerintah,” ungkapnya.

Add Pejabat Pemda Sikka yang menghadiri rapat paripurna LKPJ Bupati Sikka Tahun Anggaran 2016.

Dalam tanggapan fraksi terkait jawaban Pemerintah, Fraksi Gerindra mempersoalkan ratusan bahkan ribuan ekor ternak mati sejak sekitar pertengahan 2016, bahkan sampai saat ini pun masih ada ternak yang mati akibat wabah penyakit. “Pertanyaan kami, di manakah petugas dari Dinas Pertanian, khususnya bidang kesehatan hewan saat masyarakat mengalami kesulitan,” tanya Fraksi Gerindra.

Fraksi PDIP dalam pendapatnya mempersoalkan pembagian los pasar yang terkesan tebang pilih dan ada beberapa orang yang diduga dekat dengan pejabat mendapatkan los kios lebih dari satu, sementara para pedagang yang sejak lama berjualan di pasar tidak mendapatkan kios.

Juru Bicara Frkasi PDIP, Stf Sumadi, mengatakan, satu orang pengusaha memiliki lebih dari empat los dan dia menjualnya kepada orang lain seharga Rp15 juta, sementara masyarakat kecil diadu untuk berkelahi hanya untuk memperebutkan satu kios. “Mungkinkah Sikka yang mandiri bisa tercapai, sebab beberapa waktu lalu pernah ada demo dari pedagang dan saat itu pemerintah mengatakan tunggakan pembayaran retribusi di pasar diputihkan sebab banyaknya tunggakan,” tanya Fraksi PDIP.

Hal senada juga disampaikan Fraksi Hanura, saat kunjungan ke rumah sakit TC Hillers milik Pemda Sikka, ditemukan ada pasien yang dikeluarkan dari ruangan karena pasien merupakan keluarga miskin dan ditempatkan di lantai luar ruangan perawatan. “Tapi ketika keluarga pasien mengatakan mempunyai saudara seorang pejabat, petugas tergesa-gesa memasukkan kembali pasien tersebut ke dalam ruangan, kejadian dan ini bukan hal sepele,” ungkap Florensia Klowe, juru bicara fraksi Hanura.

Wakil Bupati Sikka dalam jawabannya berjanji akan menindaklanjuti segala temuan dari dewan dengan memperbaiki kinerja dengan bekerja sesuai norma atau aturan yang berlaku, dan tetap berpegang kepada asas manfaat bagi masyarakat. “Segala masukan ini juga menjadi catatan perbaikan, sebuah otokritik bagi kami di Pemerintah untuk meningkatkan profesionalisme dalam bekerja,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Komentar