Warga Bakauheni Masih Alami Sulit Air Bersih dan Sungai Kotor

0
21

RABU, 22 MARET 2017

LAMPUNG — Hujan deras yang melanda wilayah Kabupaten Lampung Selatan dan mengguyur Kecamatan Bakauheni dimanfaatkan anak-anak di Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni, Kecamatan Bakauheni, untuk bermain air di sungai.

Seto Suhadi coba aktifkan saluran air dari sumur bor untuk warga.

Sungai alami yang kini sebagian telah berubah menjadi sungai buatan dengan semen dan juga dibatasi dengan pagar setinggi dua meter menjadi pemisah perumahan masyarakat Bakauheni dengan kawasan titik nol Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Meski demikian, sebagian anak masih tetap bergembira bermain di sungai keruh berwarna kecokelatan akibat longsoran material pengerjaan jalan tol trans Sumatera tersebut. Belum lagi ditambah kotornya sampah rumah tangga yang dibuang oleh warga di antaranya sisa plastik, sisa makanan, bahkan sebagian kotoran dari dalam rumah yang dibuang melalui pipa buangan dari kamar mandi serta dapur.

Kondisi tersebut, menurut salah seorang anak di Desa Bakauheni, Andi (13) sudah terjadi sejak 2014, terutama saat jalan tol Trans Sumatera mulai dibangun. Lahan bermain anak yang biasanya berupa kali alami kini sudah tak ada lagi. Bahkan menjadi sungai beton yang sudah tak bisa digunakan untuk memancing ikan atau sekadar mencari udang di sungai tersebut. Sungai kecil atau tepatnya selokan yang kini selalu berwarna kecokelatan juga sudah tak bisa dimanfaatkan untuk keperluan mencuci atau bahkan untuk mandi akibat kondisinya yang semakin kotor.

“Kalau hujan atau panas sungai menjadi tempat bermain kami. Tapi kalau untuk bilas mandi kami memakai air di bak penampungan umum yang ada di mushola Dusun Kenyayan,” terang Andi, salah satu anak di Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni, yang ditemui Cendana News saat bermain bersama anak seusianya di sepanjang Sungai Kenyayan, Rabu (22/3/2017).

Anak-anak masih suka bermain di sungai yang kotor.

Lokasi bermain berupa sungai yang bisa dipergunakan oleh anak-anak tersebut, ungkap Andi, bahkan kini harus diterobos dengan memanjat pagar pembatas tol untuk bisa bermain di sungai tersebut. Sementara  sungai yang berada persis di belakang rumah sudah tak bisa digunakan karena dipenuhi kotoran sampah pasca hujan deras melanda. Beberapa pekan sebelumnya, akibat hujan deras yang melanda, sungai kecil tersebut sempat mengakibatkan perumahan warga yang berada di bantaran sungai diterjang banjir. Meskipun tidak menyebabkan semua bagian rumah terendam.

Peroleh Bantuan Tiga Titik Sumur Bor dari Pengembang Tol SumateraKondisi anak di Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni, yang bermain di sungai pasca terdampak Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dengan kondisi air sungai keruh, juga dialami warga Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni. Sebagian anak menggunakan ceruk air di sungai untuk bermain dengan ember. Jaraknya hanya sekitar 3 kilometer dari Dusun Kenyayan.

Namun, kondisi air keruh berwarna putih kecokelatan menjadi pemandangan sehari-hari di Sungai Kubang Gajah sejak 2014. Terutama pasca proyek pengerjaan Tol Sumatera dari Bakauheni menuju ke Terbanggibesar dikerjakan. Hal tersebut, dibenarkan Seto Suhadi (40) selaku Kepala Dusun (Kadus) Dusun Kubang Gajah, Desa Kelawi, saat ditemui Cendana News di rumahnya. Ia mengaku, ratusan kepala keluarga total sebanyak 100 kepala keluarga (KK) mengeluhkan kondisi sungai yang sangat keruh.

Ia mengungkapkan, puluhan tahun warga di Dusun Serungku, Dusun Kepayang, Dusun Kubang Gajah, mempergunakan air bersih dari Sungai Kubang Gajah. Air bersih tersebut bahkan dipergunakan untuk keperluan mandi, cuci dan bahkan minum saat kondisi air Sungai Kubang Gajah masih jernih. Kedalaman air Sungai Kubang Gajah pada beberapa bagian, ungkap Seto Suhadi, bahkan bisa mencapai 2-3 meter. Namun pasca pembangunan proyek Tol Trans Sumatera akses air bersih warga mati.

Selokan tetap kotor meski sudah ada larangan buang sampah sembarangan.

“Sudah puluhan tahun warga kami membuat belik, membuat sumur di ceruk sungai lalu disedot menggunakan mesin sedot dialirkan ke bak penampungan, namun kini sudah tak bisa lagi menggunakan air kali kubang gajah,” ungkap Seto Suhadi.

Akibat material pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera bahkan kini kedalaman air hanya sebatas mata kaki orang dewasa dan saat banjir sedalam lutut. Sebagian sungai hanya dipergunakan untuk bermain anak-anak sekitar dan sebagian masyarakat mempergunakan material pasir untuk mencari tambahan penghasilan. Meski demikian, dipastikan sejak 2014 atau sekitar 3 tahun terakhir warga sudah tak bisa mengambil air bersih dari Sungai Kubang Gajah.

Berkoordinasi dengan ratusan masyarakat di Desa Kelawi, terdampak JTTS dengan imbas material tanah, pasir dan padas, ratusan warga  melakukan protes ke pihak pelaksana JTTS. Protes keras warga cukup beralasan dari Dusun Kubang Gajah, Dusun Serungkuk, Dusun Kepayang yang selama puluhan tahun mengakses air bersih dari sungai tersebut. Meski tak berkelit, pihak pengembang tol melalui PT Pembangunan Perumahan (PP), ungkap Seto Suhadi, baru merealisasikan permintaan warga akan kompensasi air bersih setelah beberapa tahun.

“Kalau kita hitung kerugian tidak bisa mengakses air bersih sejak 2014 hingga sekarang sudah tiga tahun. Namun kami akhirnya diberi kompensasi dengan pembuatan sumur bor,” terang Seto Suhadi.

Seto Suhadi sedang berada di bak penampungan air bersih dari sumur bor yang masih tahap pengerjaan.

Dana puluhan juta yang diberikan kepada Desa Kelawi untuk pembuatan sumur bor dibagikan kepada tiga dusun termasuk Dusun Kubang Gajah. Proses mengebor sumur bor dengan kedalaman sekitar 38 meter akhirnya berhasil memperoleh air bersih tepat di belakang rumah sang kepala dusun. Sebab di beberapa titik mata bor tak berhasil menembus tanah akibat kontur tanah perbukitan dan batu di wilayah Kelawi. Sementara dusun lainnya pun mulai membuat sumur bor serupa dengan dana sekitar belasan juta untuk proses mengebor sumur.

Seto Suhadi bahkan merelakan tanahnya untuk dibor sementara tanah hibah milik warga lain dengan jarak sekitar 30 meter diperoleh untuk bak penampungan. Meski air sudah mengalir, namun hingga kini, terang Seto Suhadi, akses air bersih untuk sekitar 100 KK warganya belum selesai dibuat. Terkendala hujan untuk proses konstruksi bangunan bak penampungan air berukuran 1,5 meter x 4 meter. Setelah bak penampungan yang dibuat dengan konstruksi cor semen agar awet, akan dibuat dua ruang khusus untuk laki-laki dan sebagian untuk perempuan.

“Kita masih lakukan proses pengerjaan ditargetkan selesai beberapa minggu ke depan. Soalnya ini masih penyemenan dan nanti akan dibuat atap, air bersih akan disalurkan dengan pipa 30 meter dan warga bisa mengakses air bersih secara gratis,” ungkap Seto Suhadi.

Meski saat ini warga harus membeli air bersih dengan tangki seharga Rp75 ribu untuk 1000 liter air. Ia mengaku, saat instalasi air bersih yang dibuat oleh Dusun Kubang Gajah secara swadaya dan bantuan dari pengembang JTTS selesai, warga tak perlu membeli dan akan semakin membutuhkan air bersih saat musim kemarau datang. Lokasi yang berada di perbukitan dan lembah tersebut, membuat sebagian warga tidak memiliki sumur dan memanfaatkan air sungai yang saat ini sudah kotor. Dengan debit 1000 liter per 30 menit, air bersih dari sumur bor tersebut diharapkan mampu memenuhii kebutuhan masyarakat akan air bersih, baik untuk mandi, mencuci, atau memasak.

Sebagai bentuk kepedulian masyarakat dan untuk biaya perawatan ke depan, Seto Suhadi mengaku, masih akan dilakukan rapat menentukan iuran per bulan bagi warga yang memanfaatkan air bor tersebut. Iuran dipergunakan untuk biaya penggunaan listrik dan pembelian meteran listrik sehingga bisa dipergunakan untuk kepentingan masyarakat banyak.

Salah satu warga Dusun Kubang Gajah, Ansori (34), mengaku, menunggu lama untuk bisa memperoleh kompensasi dari pihak pelaksana Tol Trans Sumatera. Sebab, ia mengaku, selama belum mendapat bantuan sumur bor ia dan puluhan warga lain yang belum memiliki sumur terpaksa meminta air kepada warga lain pemilik sumur bor. Ia berharap dengan adanya instalasi air bersih tersebut, warga bisa mengakses air bersih dan tak lagi menggunakan air sungai yang kini sudah sangat kotor serta belum bisa dipastikan kapan akan kembali bersih.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar