Warga Terdampak JTTS, Sukarela Pindah Rumah

0
21

SABTU, 25 MARET 2017

LAMPUNG — Sejak proses pengerjaan proyek Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS) dimulai pada April 2014, beberapa persoalan muncul terkait proses pembebasan lahan yang akan digunakan di Jalan Tol Trans Sumatera Ruas Bakauheni Lampung Selatan-Terbanggibesar, Lampung Tengah, sepanjang 140,41 kilometer.

Sejumlah rumah warga yang dibongkar

Sebagian warga bertahan akibat kesepakatan uang ganti rugi atas lahan yang ditinggali belum menemui titik temu, terutama di seksi I Bakauheni-Sidomulyo yang belum dibebaskan akibat 8 Kepala Keluarga (KK)belum mendapatkan uang ganti rugi pembebasan lahan tol. Namun, 8 KK yang belum menerima uang ganti rugi tersebut akhirnya bersedia pindah setelah melalui mediasi pihak Pemerintah Kabupaten Lampung Selatan, Polsek Penengahan, pihak pelaksana tol serta keluarga yang tinggal di Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni dan berada di dekat STA 00 Bakauheni.

Proses perpindahan dilakukan melibatkan keluarga, kerabat serta tetangga yang tinggal di sekitar rumah dengan cara bergotong-royong, mulai dari mengangkat perabotan hingga membongkar bagian rumah yang masih bisa dimanfaatkan sebelum rumah tersebut diratakan dengan tanah. Sejumlah Kepala Keluarga mulai memindahkan barang-barang di dalam rumah sejak siang hingga sore pada Sabtu (25/3/2017) ini, dengan sukarela dan bergotong-royong.

Ruas jalan Tol Trans Sumatra di Bakauheni

Menurut salah satu warga, Yunus Raden Panji (65) dan sang istri, Siti Aminah (55), kepindahan tersebut merupakan upaya terakhir setelah sekitar dua tahun ia dan ketujuh anaknya bertahan di rumah yang belum mendapat uang ganti rugi bangunan, lahan terdampak Jalan Tol Trans Sumatera. Yunus mengungkapkan, bersama ketujuh anaknya tetap bertahan bahkan dengan jumlah cucu sebanyak 28 cucu di rumah yang ditinggalinya selama bertahun-tahun di RT 01 Dusun Kenyayan, Desa Bakauheni.

“Kami sepakat pindah setelah dua tahun rumah kami sebagian sering kebanjiran dan bahkan kini berada tepat di bawah tol. Setelah ada mediasi, kami bersedia pindah dengan sukarela, karena kami sebetulnya tidak pernah menghalangi upaya Pemerintah untuk membangun jalan tol. Hanya saja, hak kami harus dibayarkan,” terang Yunus, saat ditemui Cendana News di kontrakan yang tak jauh dari rumah yang siap akan digusur, Sabtu (25/3/2017).

Yunus yang sementara ini mengontrak sebuah rumah bersama anak-anak mengaku belum menerima uang ganti rugi. Uang tersebut bahkan hingga kini masih tersimpan di bank sebagai uang ganti rugi untuk tanam tumbuh, bangunan yang ada di lahan yang ditempati selama puluhan tahun. Ia mengaku dalam waktu dekat akan mengambil uang yang sudah ada di bank tersebut, meski untuk persoalan uang ganti rugi lahan pihaknya masih menempuh jalur hukum dengan pihak lain, yakni Sjachroedin Z.P, yang juga mengklaim lahan yang ditinggali oleh Yunus dan keluarganya.

Yunus Raden Panji

Belum dicairkannya uang ganti rugi tanam tumbuh, bangunan yang tersimpan di bank itu membuat proses kepindahan secara sukarela dari sebanyak beberapa rumah tersebut menggunakan uang bantuan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan. Meski telah melakukan proses pindah, Yunus mengaku masih mengontrak di sebuah rumah dengan biaya kontrak Rp350.000 per bulan dan belum ada rencana untuk pindah lagi akibat uang ganti rugi tanam tumbuh dan bangunan belum dicairkan.

Terkait proses kepindahan warga terdampak Jalan Tol Trans Sumatera di Bakauheni yang selama dua tahun masih bertahan dan baru pindah pada Sabtu (25/3/2017) tersebut, Camat Kecamatan Bakauheni, Zaidan, SE saat dikonfirmasi mengaku mengapresiasi langkah warga. “Mediasi memberi pengertian kepada warga yang masih bertahan sudah kita lakukan dan baru pekan ini Yunus dan anak-anaknya bersedia pindah, karena intinya mereka tak pernah menghambat program Pemerintah untuk pengerjaan Jalan Tol Trans Sumatera,” ungkap Zaidan.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar