Wayang Dakwah, Bangkitkan Kembali Cara Dakwah Para Wali

58

JUMAT, 31 MARET 2017

SLEMAN — Gubuk sederhana di dekat masjid Pathok Negoro, Plosokuning, Condongcatur, Sleman yang biasa digunakan untuk tempat parkir kendaraan, malam itu disulap menjadi tempat penyelenggaraan wayang kulit warga. Sejumlah anak-anak nampak duduk antusias di barisan paling depan. Di sebelah kanan, ibu-ibu grup hadroh warga sekitar tak henti bersholawat dengan rampak diiringi tepukan rebana. Sementara sejumlah bapak menyimak lakon yang dibawakan sang dalang, sambil sesekali tertawa bersama.

Suasana pertunjukan wayang dakwah di Masjid Pathoknegoro Plosokuning.

Seorang dalang muda, Miftahul Qoir (25), mahasiswa Fakultas Dakwah UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sibuk memainkan wayang yang nampak tidak biasa. Meski terbuat dari kulit sebagaimana wayang purwo pada umumnya, sejumlah tokoh wayang yang dimainkan nampak asing. Tak ada tokoh Ramayana seperti Hanoman atau Rahwana, tak ada pulang tokoh wayang Mahabarata seperti Arjuna atau Gatotkaca.

“Ini namanya wayang dakwah. Memang semua terbuat dari kulit seperti wayang pada umumnya. Yang membedakan hanya pada tokoh dan cerita atau lakonnya. Wayang dakwah ini tokohnya adalah para wali. Karena lakon cerita dalam wayang ini merekonstruksi dakwah para wali dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa,” ujar Miftahul yang akrab disapa Miko di sela acara, belum lama ini.

Miftahul menjelaskan, wayang Dakwah digelar sebagai upaya menyampaikan dakwah pada masyarakat dengan cara yang berbeda. Jika dakwah biasa dilakukan dengan cara pengajian-pengajian resmi, maka dengan pagelaran wayang dakwah bisa disampaikan dengan lebih santai serta penuh hiburan. Sehingga diharapkan melalui wayang dakwah inilah masyarakat bisa menerima dakwah dengan betah serta tanpa merasa digurui.

“Harapannya agar dakwah bisa lebih luas. Tidak hanya lewat mimbar-mimbar saja. Masyarakat juga tidak bosan karena dakwah disampaikan dengan hiburan. Selain itu juga untuk mengembalikan wayang sebagai sarana dakwah. Karena dulu wayang digunakan oleh para wali sebagai sarana dakwah,” katanya.

Pengunjung wayang dakwah.

Membabar lakon Sunan Ampel, dalang muda Miftahul menceritakan kisah Sunan Ampel dalam mendirikan pesantren di Surabaya. Seorang warga datang ke pesantren dengan niat belajar mengaji, namun sempat dilarang oleh seseorang. Akhirnya Sunan Ampel berhasil menaklukkan orang yang melarang mengaji tersebut hingga mau mengaji bersama.

“Dua puluh lima persen isi wayang adalah hiburan. Sementara 75 persen itu dakwah. Jumlah tokohnya ada banyak dan selalu bergambar. Namun untuk kali ini hanya ada 10-15 tokoh saja yang kita bawa,” katanya.

Tokoh masyarakat sekaligus Ketua Takmir Masjid Pathok Negoro, Plosokuning, Kamaludin Purnomo, mengatakan, penyelenggaraan wayang dakwah di sekitar Masjid Plosokuning ini adalah yang pertama sejak puluhan tahun silam. Hal itu tidak terlepas karena masyarakat dusun sekitar Plosokuning yang menganggap tabu pagelaran wayang. Karena wayang dianggap identik dengan judi cliwik, sehingga bertentangan dengan budaya masyarakat Dusun Plosokuning yang agamis.

“Selama ini masyarakat di sini menganggap tabu dan negatif penyelenggaraan wayang. Kalaupun ada wayang, harus digelar sekitar 1 kilometer dari dusun ini. Padahal kan sebenarnya pada zaman dahulu wayang digunakan sebagai sarana dakwah para wali,” ujarnya.

Karena itulah Kamaludin mengaku bersyukur dengan adanya wayang dakwah ini. Ia berharap penyelenggaraan wayang dakwah di Masjid Plosokuning dapat menjadi awal penyelenggaraan wayang sebagai media dakwah bagi warga. Terlebih wayang juga merupakan warisan leluhur yang perlu dilestarikan keberadaannya.

Miftahul Qoir

“Kita berharap dengan adanya wayang dakwah yang dikemas dengan positif ini, masyarakat sekitar akan lebih peduli untuk mau melestarikan wayang. Karena wayang itu milik kita sendiri. Wayang diharapkan dapat menjadi media dakwah sebagaimana sebagaimana dulu dilakukan para wali. Itu yang ingin kita bangkitkan kembali,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar