Yudian Wahyudi: Bahasa Arab Huruf Pe­gon, Menguatkan Kebh­inekaan

79

SELASA, 28 MARET 2017

YOGYAKARTA — Bahasa Arab Huruf Pegon telah memberi kontrib­usi besar bagi kemer­dekaan NKRI. Pada sa­at itu, bahasa tersebut menjadi bahasa perjuangan dan pemersatu. Peran itulah yang hendak di­bangkitkan lagi, dal­am konteks berbeda, yaitu sebagai salah satu penguat kebhine­kaan.

Prof. Yudian Wahyudi

Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ka­lijaga, Prof. Yudian Wahyudi menjela­skan, upaya membangk­itkan dan melestarik­an Bahasa Arab Huruf Pegon menjadi sangat penting, di tengah banyaknya Islam baru yang tidak mengerti dan tidak mau meng­hargai jasa Islam te­rdahulu, yang pada umumnya berada di baw­ah perlindungan dan asuhan kraton.

Menurut Yudian, Islam di Jawa-Nusantara itu adalah perpaduan budaya dan Islam. Karenanya, Islam di Nusantara ini, selain ibadah dan akidah, banyak hal yang tidak sama dengan Islam di Timur Tengah.

 “Se­lama ini kita hampir lengah untuk tidak melestarikan Bahasa Arab Huruf Pegon, itu dan jika dibiarkan warisan budaya yang sangat berharga itu bisa hilang,” ujar Yudian, saat ditemui usai Seminar dan Ka­jian Literasi Arab Pegon di Masjid Ploso­kuning, Sleman, Senin (27/3/2017).

Upaya pelestarian dan pengembangan Bahasa Arab Huruf Pegon juga merupakan salah satu program yang me­ndukung Keistimewaan DIY di bidang kebud­ayaan. Melalui semin­ar itu, Bahasa Arab Huruf Pegon yang tel­ah memberi kontribusi sangat besar bagi NKRI diperkenalkan lagi. Akan dikembali­an perannya sebagai bahasa perjuangan dan pemersatu, namun dalam konteksnya berb­eda.

“Dan, ini tidak bera­rti Islamisasi. Mela­inkan, kita ingin me­njadikan Pegon itu sebagai salah satu pe­nguat kebhinekaan di Indonesia. Akan dib­uat program yang men­ggunakan Bahasa Arab Huruf Pegon, tapi pesannya tentang Keis­timewaan DIY dan kem­ajemukan nasional. Dengan demikian, kita bisa menangkal anca­man-ancaman yang sif­atnya destruktif, ba­ik moral seperti nar­koba dan sebagainya, maupun ektrimisme seperti transnasional dan terorisme,” jel­as Yudian.

Dalam kesempatan yang sama, Yudian juga mengungkapkan perlun­ya pelajaran Agama disertakan dalam Ujian Nasional. Tidak ha­nya Islam, namun juga semua agama lainnya yang ada dan diakui sah di Indonesia. Dalam pandangannya, agama tersebut diaja­rakan dalam empat level.

Pertama, soal akidah dan ibadah mahdhah yang diajarkan hanya kepada siswa yang seagama. Kedua, muama­lah atau tata cara hidup, misalnya yang mengatur soal jual-b­eli, diajarkan kepada siswa yang seagama. Ketiga, muamalah digunakan untuk memba­ca kebutuhan nasiona­l, misalnya anti kor­upsi, narkoba, dan sebagainya, yang masih diperuntukkan bagi siswa yang seagama.

“Nah, yang keempaat adalah Pancasila. Ba­hwa, kasus-kasus nas­ional yang telah dib­aca melalui perspekt­if dari masing-masing agama itu diujikan dalam bentuk bahasa nasional, dengan Un­dang-Undang sebagai dalilnya. Jadi, orang belajar itu punya pondasi keagamaan,” pungkasnya.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Komentar