Zainal Arifin, Sosok di Balik Perlawanan Kendeng

130

JUMAT, 31 MARET 2017

SEMARANG — Perawakannya yang kurus, tidak menggambarkan sosok bernama Zainal Arifin sebagai salah satu orang yang mengadvokasi warga Kendeng yang memperjuangkan haknya melawan pabrik semen di Pegunungan Karst. Tetapi, saat melihat wajah tirusnya, barulah tergambar beratnya perjuangan yang dilaluinya, selama berhadapan dengan kedzaliman.

Zainal Arifin

 Kepada Cendana News, mantan aktivis Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tersebut bercerita tentang seluk-beluk perjuangannya saat diamanahi menjadi Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Semarang, saat membela Jaringan Masyarakat Peduli Pegunungan Kendeng (JMPPK), pergolakan pemikiran selama menjadi kader HMI, pandangannya mengenai kondisi mahasiswa, arti masyarakat saat ini serta harapan tentang penegakkan hukum ke depan.

Zainal kecil tumbuh seperti anak pada umumnya. Lahir di Kota Wali Demak, 29 Oktober 1985. Ia mengenyam pendidikan di SD Telogosit 2, setelah lulus melanjutkan ke SMP Negeri 2 Demak dan SMA Negeri 1 Demak. Perjuangan kehidupan Zainal dimulai setelah lulus SMA. Saat itu, ia sempat menjadi kuli bangunan selama satu tahun. Kerasnya kehidupan menjadi buruh menjadikan Zainal memahami penderitaan rakyat kecil.

Setelah menjadi kuli bangunan, Zainal melanjutkan pendidikan ke perguruan Tinggi Jurusan Siasah Jinayah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Walisongo, Semarang. Di tempat tersebut, ia mulai merasakan pergolakan batin. Apalagi, ketika memutuskan masuk ke HMI, ia kerapkali bersinggungan dengan kondisi masyarakat yang selalu didzalimi oleh penguasa.

Asisten pengacara di Karya Latihan Bantuan Hukum (Kalabahu) Jakarta, menjadi tempat persinggahan selanjutnya pada 2011. Saat mulai “asyik” mengadvokasi masyarakat, tiba-tiba surat ancaman Drop Out dari IAIN memaksanya kembali ke Semarang untuk menyelesaikan studinya. Setelah lulus kuliah, Zainal kembali ‘terdampar’ di lembaga penegak hukum lainnya di LBH Semarang sebagai volunteer, staff kemudian pada Januari 2016 diangkat sebagai direkturnya.

Awal mula kuliah di IAIN, Zainal memutuskan bergabung di HMI. Saat berkecimpung di organisasi mahasiswa Islam terbesar dan tertua di Indonesia tersebut, Zainal mengalami fase awal pergolakan pemikiran. Filosofi sebagai organisasi pengkaderan juga membuat Zainal berpikir bagaimana cara mengabdikan diri kepada masyarakat. Saat itu, di tengah kesibukannya menyelesaikan studi, ia juga harus pintar membagai waktu untuk mengurus organisasi yang didirikan oleh Lafran Pane tersebut.

Karena HMI bermadzahab pluralis, membuatnya sering berinteraksi dengan aktivis dari berbagai macam pemikiran dan ideologi, saat itulah Zainal mulai berinteraksi dengan Front Pemuda Pejuang Indonesia (FPPI). Interaksi Zainal bersama FPPI membawanya kembali ‘tenggelam’ dalam dunia agraria. Mereka mengaktifkan kembali kajian-kajian tentang agraria dari berbagai perspektif ilmu.

Zainal sering menekankan, tanah adalah sumber penting bagi kehidupan manusia sehingga harus dijaga kelestariannya dari cengkeraman para pemodal. “Di HMI, saya belajar tentang tanggungjawab melanjutkan regenerasi pengkaderan dan bertanggungjawab untuk mewujudkan masyarakat adil dan makmur,” kata Zainal.

Zainal juga melihat, hari ini kondisi pergerakan mahasiswa mengalami banyak kemunduran, karena banyak kampus yang mengekang kegiatan kemahasiswaan, jadwal kuliah padat dan tugas yang menumpuk. Semua itu merupakan salah satu penyebab menurunnya mental kreativitas mahasiswa menjadi rutinitas, mahasiswa dipaksa untuk menyelesaikan rutinitas tersebut hingga melupakan tujuan utamanya bergerak di ranah advokasi sosial untuk memberdayakan masyarakat.

Pembredelan pers dan pembubaran diskusi menjadi ‘penyakit’ yang selama ini menghinggapi kampus. Terkadang kampus yang dianggap sebagai titik pertemuan berbagai paradigma pemikiran malah phobia terhadap ilmu pengetahuan yang baru. Beberapa kali LBH Semarang menerima pengaduan dari mahasiswa mengenai kasus-kasus tersebut. “Beberapa kali kami turun tangan mengatasi pembredelan pers dan pembubaran diskusi,” tambahnya.

Walaupun mengalami kemerosotan, Zainal tetap optimis dengan masa depan pergerakan mahasiswa. Kuncinya adalah kreativitas organisasi mahasiswa, baik itu internal maupun eksternal untuk melakukan pengkaderan di wilayah kampus, karena bagaimanapun aktivis yang saat ini berada di barisan terdepan untuk membela masyarakat merupakan bekas aktivis kampus yang pernah terlibat dalam organisasi, sehingga hidupnya organisasi juga akan sangat mempengaruhi keberpihakan terhadap masyarakat.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar