ABK, Punya Hak Sama di Bidang Pendidikan

52

MINGGU, 9 APRIL 2017

MALANG — Sejak 2012, Kota Malang, sudah dicanangkan dan mendeklarasikan diri seabagai kota pendidikan inklusi. Jika dulu Malang hanya sebagai kota pendidikan, sekarang ada tambahannya, yakni kota pendidikan inklusi. Kota yang ramah terhadap Anak-anak Berkebutuhan Khusus (ABK), terutama di bidang pendidikan.

Yanuar

Hal tersebut disampaikan Yanuar, salah satu Guru Pendamping Khusus (GPK) SMP Muhammadiyah Malang, saat di temui Cendana News dalam acara Parade Bersama ABK di Museum Brawijaya. “Saat ini, pendidikan ABK di Malang telah dijamin oleh Dinas Pendidikan, bahwasa mereka juga punya hak yang sama dengan anak-anak normal pada umumnya, untuk sekolah dan mendapatkan pendidikan yang sama, meski dengan berbagai macam perbedaan yang ada,” ucapnya, Minggu (9/4/2017).

Yanuar mengatakan, jika dulu ABK identik dengan Sekolah Luar Biasa (SLB), sekarang  justru dengan adanya model pendidikan inklusi, anak-anak spesial ini bisa bergabung dengan anak-anak normal pada umumnya. Ada dua sinergi yang bisa dirasakan dengan penerapan model pendidikan inklusi. Bagi anak-anak yang normal, mereka bisa belajar, bahwa ternyata di lingkungan sekitarnya ada anak-anak berkebutuhan khusus. Mereka juga bisa belajar cara menangani teman-temannya yang memiliki kebutuhan khusus, sehingga bisa memunculkan rasa empati.

“Yang paling penting adalah anak-anak yang normal ini tidak mengucilkan dan mengejek ABK, ketika mereka mendapatinya berada di tengah-tengah masyarakat,” tuturnya.

Sedangkan bagi ABK, akan merasa dihargai dan merasa kehadirannya bisa diterima oleh lingkungannya. Dengan begitu, secara otomatis juga akan berdampak positif terhadap terapinya dan kepercayaan diri ABK bisa semakin tinggi.

Menurut Yanuar, sebenarnya model pengajaran di sekolah umum negeri atau swasta sama saja bagi anak-anak normal, tapi untuk anak-anak berkebutuhan khusus ada kurikulum yang dimodifikasi sesuai taraf perkembangan kognitifnya. “Misalnya, ada seorang  Tuna Grahita taraf pemahaman mereka seharusnya sudah berada di usia SMP, tapi pada kenyataannya taraf pemahaman mereka masih di usia SD. Di situ kemudian kita sesuaikan kurikulumnya dengan taraf kognitif mereka. Karena itu, ada yang namanya kurikulum modifikasi. Jadi, pelajaran mereka tidak harus benar-benar mengikuti anak-anak normal pada umumnya. Jika mereka tidak mampu, maka akan kita sederhanakan kurikulumnya,” terangnya.

Nantinya, di satu kelas ada dua guru yang mengajar khusus bidang studi dan ada guru yang khusus mendampingi ABK. “Untuk itu, kami berharap agar orangtua yang memiliki anak berkebutuhan khusus harus bersinergi dengan GPK dalam hal pendidikan. Tidak usah lagi orangtua murid itu takut ataupun malu memiliki anak-anak spesial, karena sekarang sudah ada wadah dan pendidikan bagi mereka,” pungkasnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Agus Nurchaliq

Komentar