Batu Menyan, Tempat Favorit Anak-anak Lampung Berakhir Pekan

144

MINGGU, 2 APRIL 2017

LAMPUNG — Berada di pesisir Pantai Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, menjadikan wilayah Kecamatan Bakauheni memiliki beberapa tempat favorit untuk bersantai bagi berbagai kalangan, termasuk anak anak. Salah satunya, Batu Menyan, yang berada di wilayah teluk landai.

Dataran pasir yang terbentuk dari longsoran material pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra

Menurut Kepala Dusun Minangruah, Desa Kelawi, Shupadi (40), kawasan yang dikenal dengan sebutan Batu Menyan itu merupakan jajaran batu-batu yang besar membentuk pola kubistik beraturan, dengan batu-baru karang serta pasir putih halus yang dipadukan dengan ombak cukup tenang. Selain batu menyan, jajaran batu menyan menyatu dengan wilayah lain yang dikenal dengan Karang Lo, Pantai Temu Lapar dan Gua Lalai.

Selain memiliki batu-batu besar berbentuk unik, beberapa pohon di tepi pantai juga bisa digunakan untuk bermain. Karenanya, tempat tersebut sering menjadi lokasi bermain bagi anak anak sekitar Dusun Minangruah, bahkan juga dari berbagai wilayah lain. Bersama orangtua, mereka ada yang membawa pelampung, ba,n serta beberapa alat untuk mandi di pantai. “Akhir pekan selalu ramai. Selain pantainya datar dengan penghalang alami batu-batu datar yang dikenal dengan Batu Menyan, lokasi ini sangat bagus untuk menikmati matahari terbenam dan lokasi bermain anak-anak dengan pasir yang cukup luas dan landai,” terang Shupadi.

Selain bisa bermain pasir dan berenang menggunakan ban sebagai pelampung, wisatawan juga bisa berswafoto dengan latar belakang Gunung Anak Krakatau. Ditempuh dengan waktu sekitar 15 menit dari pintu masuk Desa Kelawi, Kecamatan Bakauheni, atau sekitar 30 menit dari Pelabuhan Bakauheni, Batu Menyan juga memiliki lokasi yang cukup bagus dengan pantai berpasir putih dan dilengkapi beberapa warung tepi pantai, sejumlah vila serta homestay yang disediakan oleh masyarakat.

Menurut Shupadi, kendati lokasi yang masih alami dengan sebagian kawasan yang terlindung oleh batu-batu menyerupai bongkahan kemenyan tersebut belum dilengkapi fasilitas yang memadai, namun Batu Menyan itu semakin ramai dikunjungi saat akhir pekan. “Saat ini, jumlah volume pasir yang membentuk reklamasi alami memanjang sekitar tiga puluh meter dari bibir pantai dan sangat menyenangkan untuk bermain anak-anak,” ungkapnya.

Shupadi menunjukkan Batu Menyan

Luasan pasir dengan panjang sekitar 30 meter, memanjang sekitar 1 kilometer itu, menurut Shupadi, merupakan dampak pembangunan Jalan Tol Trans Sumatera (JTTS). Longsoran material pasir yang volumenya mencapai jutaan kubik membentuk dataran luas di pesisir pantai, hingga Batu Menyan yang semakin disukai anak-anak untuk bermain. Pasir kiriman yang terbawa dari aliran Sungai Kelawi tersebut, bahkan sebagian telah menutupi batu-batu karang curam yang kini menyisakan daratan pasir bersih yang juga disukai anak-anak untuk bermain.

Selain bisa menjadi lokasi bermain dengan semakin banyaknya pasir yang sekaligus juga menjadi penahan gelombang alami, Batu Menyan kerap digunakan sebagai lokasi wisata edukasi tentang dahsyatnya ledakan Gunung Krakatau pada 1883. Sebab, secara geologi, batu-batu tersusun rapi menyerupai bongkahan menyan tersebut merupakan hasil dari pembekuan lava atau magma yang terbawa hingga ke pantai Desa Kelawi, di pesisir Selat Sunda tersebut. Lava yang membeku dan menepi di tepian pantai membentuk batu menyerupai batu menyan menjadi bahan pelajaran tentang batuan gunung berapi yang sudah membeku.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar