Berkembangnya Posdaya di Minang, Bukti Nyata Kepedulian Damandiri

103

KAMIS, 6 APRIL 2017

PADANG — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Tumbuh dan berkembangnya Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) di Sumatera Barat (Sumbar) hingga saat ini bukan merupakan hal yang mudah dilakukan. Seperti bertanam padi di sawah, untuk menghasilkan beras yang bagus, harus menghadapi panasnya terik matahari, berlumpur, dan bercucuran keringat. 

 Konsultan Posdaya Sumbar, Zasmeli Suhaemi.

Zasmeli Suhaemi, seorang calon doktor yang akan melangsungkan ujian terbuka di Fakultas Peternakan Universitas Andalas pada 7 April 2017 besok, adalah sosok perempuan yang gigih dalam sejarah adanya Posdaya di Sumbar.

Ia menceritakan, pada 2010 Posdaya dulunya hanya diinsiasi oleh Universitas Tamansiswa (Unitas) dari institusi perguruan tinggi. Diawali dari perkenalannya dengan Prof. Haryono Suyono melalui media Facebook, kemudian di-follow up oleh Yayasan Damandiri dengan kedatangan Prof. Haryono Suyono ke Unitas Padang pada Agustus 2010, dan langsung ditanggapi olehnya dengan membentuk Posdaya Oktober 2010 di Padang Pariaman melalui kegiatan pengabdian masyarakat.

Untuk pengembangan yang lebih luas, melalui kerjasama dengan Yayasan Damandiri, mulai tahun 2011. “Unitas telah melaksanakan KKN Tematik Posdaya yang berhasil membentuk Posdaya melalui mahasiswa KKN di 7 kabupaten yang ada di Sumatera Barat, dominannya di Kota Padang,” jelas Emi (panggilan akrab untuk Zasmeli Suhaemi), Konsultan Posdaya Sumbar ini, Kamis (6/4/2017).

Geliat dan pergerakan Posdaya yang diperjuangkan oleh Emi, sempat mendapat ungkapan miring dari Ketua PKK Padang pada awal 2012. Bahkan Emi menyatakan, dirinya pernah ditegur oleh Ketua PKK Padang ketika itu, karena dianggap mengambil program PKK untuk Posdaya.

“Jadi, beliau merasa dilampaui oleh saya, karena ketika itu saya mengadakan kegiatan, tapi tidak sempat mengundang Pemerintah Kota Padang juga dari PKK-nya. Nah, Ketua PKK Padang itu minta agar saya melapor dulu ke PKK sebelum menggelar kegiatan. Tapi, saya berpikir, jika saya ingin membantu masyarakat di wilayah kelurahan yang ada, tidak sewajarnya melapor ke Ketua PKK,” ujarnya.

Tantangan dan anggapan miring yang diterima oleh Emi itu, tidak berlangsung lama, berkat kesabaran dan kegigihannya pada 2012 tepatnya di bulan April, Emi justru diundang langsung oleh Ketua PKK Padang ketika itu, dan mendapat dukungan dari Pemko Padang untuk dibentuk Posdaya di setiap kelurahan.

Sejak itu, Emi terus bergerak membangun Posdaya, melalui berbagai program, baik sebagai ketua LPPM atau pun sebagai pribadi dan motivator Posdaya. Bahkan pernah mendapatkan dana CSR Pertamina senilai ratusan juta untuk Posdaya Tarusan Jaya di Padang Pariaman. Sayangnya, PT Pertamina tidak ingin nama Posdaya yang dimunculkan dalam program Kelompok Ekonomi Masyarakat (KEM) tersebut.

Seiring berkembangnya Posdaya yang ditumbuhkan oleh Emi, di bawah naungan LPPM Unitas, pada bulan April 2014 melalui Koperasi Keluarga Besar Tamansiswa (KKB Unitas), ia mengajukan penyelenggaraan SKIM atau alur kerja ala Tabur Puja untuk Posdaya-posdaya yang telah terbentuk. Diawali dengan 15 Posdaya di 9 Kecamatan/Kota Padang yang saat ini telah mencapai 51 Posdaya untuk semua kecamatan yang ada.

Terhitung mulai April 2016, SKIM Tabur Puja tersebut pelaksanaannya dipindahkan kepada Koperasi Posdaya Dewantara Ranah Minang. Saat ini, Zasmeli menilai, Posdaya yang ada di Sumbar tumbuh cukup bagus, dan sudah banyak masyarakat yang kurang mampu terbantu melalui Tabur Puja sebagai modal pinjaman untuk usaha yang bergerak di berbagai bidang, seperti berdagang, bertani, menjadi nelayan, kuliner, dan pengelola tempat wisata.

Pada awalnya, karakter Minang yang berbeda dengan budaya orang Jawa, memberikan kekhawatiran tersendiri bagi Emi untuk mengembangkan Tabur Puja.

“Jadi, sempat diragukan, kalau di Minang tidak bisa berkembang dengan baik Tabur Pujanya. Tapi, dengan kesungguhan bersama Posdaya lainnya, akhirnya keraguan itu pun terbantahkan. Sumbar pun mendapat penilaian, merupakan daerah yang bagus untuk Tabur Puja, bahkan Terbaik II se-Indonesia. Saya bahagia, apa yang telah dirintis dulu akhirnya berkembang dengan baik,” ungkapnya kepada Cendana News.

Tumbuh dan berkembangnya Posdaya di Sumbar, mendapat perhatian dan apresiasi yang istimewa dari Pemerintah Provinsi Sumatera Barat, yang masih dipimpin oleh Gubernur Irwan Prayitno. Irwan dianggap berjasa dan peduli terhadap Posdaya yang ada di Sumbar, karena sebagai gubernur pertama yang me-launching Posdaya untuk wilayah Provinsi pada 2012, yang waktu itu kegiatannya dilaksanakan di area gubernuran.

Sejak itu, Yayasan Damandiri juga sangat memberikan perhatian yang khusus, sehingga langsung dijanjikan untuk program Tabur Puja di dua wilayah kabupaten/kota dengan bantuan modal pinjaman sebanyak Rp6 miliar.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Muhammad Noli Hendra

Komentar