Coklat Topeng Malangan, Tembus Pasar Luar Negeri

63

JUMAT, 7 APRIL 2017

MALANG — Di balik rasanya yang manis, ternyata coklat juga bisa dimanfaatkan sebagai media pembelajaran sekaligus pelestarian kesenian tradisi. Di tangan Djoko Rendy yang juga berprofesi sebagai perajin replika Topeng Malangan, berhasil membuat replika topeng berbahan coklat. 

Coklat Topeng Malangan

Djoko mulai membuat Coklat Topeng Malangan berlabel ‘Jajanan khas Malang’ tersebut sejak 2016, lalu. Ia mengaku terinspirasi dari ibu-ibu yang pada saat itu banyak membuat kue lebaran. “Awalnya, saya terinspirasi dengan ibu-ibu yang banyak membuat kue lebaran. Dari situ kemudian terpikirkan untuk membuat makanan berbentuk topeng dan ternyata yang termudah itu dengan menggunakan bahan dari coklat,” katanya, kepada Cendana News, saat mengikuti pameran di Gedung Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang.

Djoko menjelaskan, untuk membuat coklat topeng, caranya dengan menggunakan cetakan yang terbuat dari silikon. Setelah dicetak, jika bentuknya ada yang dirasa kurang baru kemudian di cutter atau diukir. Untuk bahan coklatnya, Djoko mengaku bisa menggunakan coklat batangan yang di beli di toko. Tapi, hanya merk-merk tertentu saja yang bisa dipakai dalam pembuatan coklat topeng.

Selain dari toko, ia juga biasa mendapatkan coklat dari kelompok binaan perkebunan coklat. Ia menyampaikan, coklat topeng untuk saat ini memang belum dijual di toko, tapi hanya melalui order dari teman-teman. Terkadang juga untuk oleh-oleh saat anggota DPRD atau dinas-dinas melakukan kunjungan atau dijual saat ada pameran.

Meski demikian, coklat berbentuk replika topeng tersebut peminatnya sudah cukup banyak, karena bisa untuk jajanan di rumah, apalagi menjelang lebaran. Saat ini yang paling laris, yaitu coklat topeng ukuran 3 centi meter dengan harga Rp4 ribu, karena makannya lebih nyaman, tidak terlalu besar ukurannya. Kalau ukuranya terlalu besar, biasanya orang malah merasa sayang atau eman kalau harus dimakan sampai akhirnya justru tidak termakan.

“Kami juga sudah menerima pesanan dari Jerman dan Perancis. Semua ini sistemnya masih getok tular, mungkin ada teman-teman dari Malang yang berkunjung ke negara tersebut dengan membawa coklat topeng ke sana,” terangnya.

Djoko Rendy

Untuk harga coklat topeng sendiri bervariasi, mulai dari Rp4 ribu hingga Rp400 ribu per biji, tergantung ukuran dan beratnya. Ada bermacam-macam warna dan karakter dengan 12 rasa pilihan, di antaranya rasa melon, strawbery, mentol, coklat original dan rasa lainnya yang kebanyakan menggunakan rasa buah. Coklat Topeng ini sudah terdaftar di Depkes dan sudah terjamin kehalalannya.

“Orientasi saya sebenarnya bukan produksi, tapi lebih condong ke edukasinya, sehingga saya ajarkan ke Ibu-ibu PKK untuk membuat coklat topeng yang  tujuannya selain bisa dijadikan kerja sampingan, juga agar kesenian tradisi seperti ini bisa lebih dikenal oleh masyarakat, khususnya generasi muda sejak dini,” tuturnya.

Lebih lanjut, Djoko menyampaikan, dinas perindustrian dan perdagangan sebenarnya sudah menyarankan untuk membuat hak paten, tapi ia masih menunggu waktu yang tepat untuk membuat hak paten. Ibu-ibu yang sudah bisa membuat coklat topeng dan mau menjualnya, harus menggunakan merk yang sama dengan merek yang dipakainya, yakni coklat topeng  ‘jajanan khas Malang’, tujuannya untuk menjamin kenyamanan dan keamanan coklat topeng yang dijual. “Cara membuat coklat topeng ini memang saya ajarkan ke orang lain, tapi dengan catatan harus mengunakan bahan yang sama dengan saya. Jangan sampai nanti bahannya dicampur dengan bahan lainnya,  yang ditakutkan justru membahayakan, nanti malah saya yang kena imbasnya,” katanya.

Selain coklat, Djoko juga membuat pengharum ruangan dan mobil berbentuk topeng, bakso bentuk topeng dan kue semprit berbentuk topeng.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Agus Nurchaliq

Komentar