Diana, Mengajar Belasan Tahun Digaji Rp100.000 per Bulan

86

SABTU, 8 APRIL 2017

MAUMERE — Sekolah Dasar Negeri (SDN) Kolit di Desa Ojang, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, merupakan salah satu sekolah milik Pemerintah di negeri ini. Sekolah dengan 5 ruang kelas ini berjarak sekitar 76 kilometer arah timur Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka.

Diana Pisesa Bahar (kanan) bersama para guru honor lainnya dan murid SDN Kolit, Desa Ojang, Kecamatan Talibura.

Namun demikian, bangunan gedung sekolahnya sangat merana, dengan lantai tanah dan dinding bambu belah (halar). “Saya dulu mengajar di SDK Ojang dan sejak 2013 dipindah ke sekolah ini, untuk mendirikan sekolah ini setelah dipisah dari SDK Ojang,” ujar Diana Pisesa Bahar.’

Saat ditemui Cendana News di Kapela Stasi Santo Antonius dari Padua, Dusun Likot, Desa Ojang, Kecamatan Talibura, Sabtu (8/4/2017), Diana sedang melatih anak-anak untuk menyanyi dalam perayaan ekaristi di Kapela, ini pada Minggu (9/4/2017), esok hari.

Diana mengatakan, awalnya hanya ada dua ruang kelasdan masih berupa SD Satu Stap (Satap), tapi setelah setahun beroperasi, sekolah ini menjadi sekolah definitif sejak 2014 berkat kerja kerasnya. Sarjana pendidikan yang awal mula mengajar hanya berijazah Sekolah Menengah Atas (SMA), ini mengaku, meski sudah mengajar sejak 2001, namun hingga kini ia masih berstatus guru honor komite. “Setiap bulan saya bersama 4 teman guru honor lainnya hanya digaji 100 ribu rupiah yang diambilkan dari uang komite sekolah,” tuturnya.

Meski menerima upah yang tidak layak, Diana mengaku tetap bersemangat mengajar anak-anak di SDN Kolit, sebab menjadi guru merupakan panggilan jiwanya. “Saya sudah berulangkali memasukkan berkas untuk diangkat menjadi guru berstatus pegawai negeri, bahkan menjadi guru honor daerah. Namun, usaha tersebut selalu kandas, sebab tidak memiliki relasi baik di Dinas Pendidikan dan Kepemudaaan Sikka atau pegawai di satuan kerja perangkat daerah lainnya, maupun yang menjadi anggota DPRD Sikka,” katanya.

Diana juga mengatakan, setiap kali ada penerimaan pegawai, para guru di pedalaman tidak pernah diberitahu dan tidak pernah diangkat menjadi pegawai negeri, meski sudah lama mengabdi. Sementara yang lain baru 5 tahun menjadi guru sudah menjadi pegawai negeri.

Diana Pisesa Bahar, Guru SDN Likot, Desa Ojang, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Dengan gaji yang minim, tidak membuat istri dari Fredirikus Raro asal Bajawa dan menetap di Desa Ojang ini patah arang. Sebab, baginya para orangtua  sudah merelakan anak mereka menempuh pendidikan, sehingga sebagai seorang guru, ia merasa wajib mendidik mereka. “Saya tiap hari harus jalan kaki sejauh 2 kilometer pulang pergi dari rumah ke sekolah, melewati jalan semen, sebab kalau harus bayar ojek sepeda motor, sehari harus keluarkan uang 10 ribu rupiah, sedangkan gaji saya hanya cukup buat bayar ojek 10 hari saja,” ungkapnya.

Bila harus membayar ojek terus, tentu ibu dua orang anak berusia 11 tahun dan 4 tahun ini tidak memiliki sisa uang yang bisa dibawa ke rumah untuk membantu biaya rumah tangganya, sebab sang suami hanya seorang petani dan terkadang jadi kuli bangunan. “Kalau Pemerintah masih memiliki hati, guru-guru seperti kami yang mengajar di pedalaman ini sudah diperhatikan dengan memberikan gaji yang layak,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Komentar