Festival Ogoh-ogoh Kota Semarang, Sinergi Budaya Lintas Agama

288

MINGGU, 2 APRIL 2017

SEMARANG — Sore itu, Minggu (2/4/2017), kawasan Kota Lama tampak lebih ramai daripada biasanya. Banyak orangtua bersama anak-anak berkerumun di depan Gedung Keuangan I, Jawa Tengah, sementara di seberang jalan terlihat panggung kecil disiapkan untuk jajaran Forum Komunikasi Pemerintah Daerah (Forkompinda), untuk menonton Karnaval Ogoh-Ogoh Kota Semarang. 

Ogoh-ogoh yang diarak oleh persoinel TNI

Setelah ditunggu beberapa saat, akhirnya momen tersebut pun tiba. Ogoh-ogoh sebagai representasi setan Bhuta Kala dalam ajaran Hindu yang diarak oleh prajurit TNI melintas di depan panggung. Masyarakat dan jajaran Forkompinda bertepuk tangan histeris melihat atraksi tersebut. Tepuk tangan semakin membahana, ketika setan-setan yang sudah dikenal luas masyarakat seperti Genderuwo, Sundel Bolong, Wewe Gombel menunjukkan ‘kebaikan hati’, dengan tertib mengikuti pawai yang berakhir di Balaikota Semarang tersebut. Bukannya takut, masyarakat malah mengambil kesempatan tersebut untuk berfoto dengan para setan.

Kota Lama menjadi bukti tidak ada perbedaan jabatan, etnis, agama, kepercayaan dan budaya dalam festival yang bermakna ada kekuatan gaib yang selalu menjerumuskan manusia dalam kejahatan itu. Semua membaur menjadi satu dalam keberagaman memeriahkan Festival Ogoh-ogoh untuk mewujudkan Semarang adalah kota yang bersahabat terhadap semua etnis yang ada di Indonesia. “Kami ingin mewujudkan bahwa dengan adanya Karnaval Ogoh-ogoh ini tidak hanya bagi umat Hindu semata, tetapi juga sebagai festival pawai seni lintas agama dengan tujuan silaturahmi antar etnis dan agama,” kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kota Semarang, I Nengah Wirta Darmayana.

Karnaval Hantu Indonesia

Menurut I Nengah, tujuan Festival Ogoh-ogoh kali ini untuk memberdayakan para penggiat seni dan komunitas budaya yang ada di Semarang. Karena itu, dalam festival yang kelima kali ini, juga ditampilkan keanekaragaman budaya dari berbagai suku, sehingga bisa memantik perilaku seni untuk berkreativitas menciptakan kesenian yang baru, dan secara konsisten bisa merajut Bhineka Tunggal Ika yang ditandai saat pembukaan acara menampilkan kesenian asli Kota Loenpia, Gambang Semarang.

Ditemui di kesempatan yang sama, Wakil Walikota Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti, menambahkan, pada dasarnya budaya Ogoh-ogoh mempunyai makna mendalam karena dapat menghilangkan tujuh dosa sosial seperti yang diutarakan Mahatma Gandhi, yaitu politik tanpa prinsip, kekayaan tanpa proses kerja, kesenangan yang dinikmati tanpa suara hati, ilmu pengetahuan tanpa karakter, perniagaan tanpa mengindahkan nilai moral, sains yang melupakan sisi kemanusiaan, dan ibadah tanpa melewati jalan pengorbanan. “Pawai Ogoh-ogoh sebagai pengingat budaya negatif manusia untuk selalu ingat kepada Tuhan YME,” terang wanita yang sering dipanggil Ita, tersebut

Lebih lanjut, Ita menjelaskan, dengan adanya pawai Ogoh-ogoh ini membuktikan Kota Semarang sebagai kota yang kondusif, dan toleran terhadap budaya dan agama. Ini membuktikan pula, kerukunan agama dan budaya bisa disinergikan. Terselenggaranya festival ini juga berkat kerjasama antar elemen, seperti Pemerintah Kota, masyarakat dan terpenting umat beragama.

Mengingat keunikan festival ini di Semarang, ke depan Pemkot Semarang berencana mengajukan Festival Ogoh-ogoh Kota Semarang kepada Kemenparkraf, untuk dijadikan salah satu even nasional, mengingat untuk lebih mengenalkan karnaval ini juga butuh dukungan dari Pemerintah Pusat. Namun, untuk menjadi agenda tahunan dari kementerian, harus ada pondasi satu ketentuan dan standarisasi yang harus dipenuhi, sebagai syarat untuk menarik wisatawan, mengingat Kota Semarang pada 2016 didatangi sekitar 4,5 juta wisatawan Indonesia dan 100 ribu wisatawan luar negeri.

Pembukaan Festival Ogoh-Ogoh oleh Wakil Walikota Semarang, Hevearita Gunaryati

Festival Ogoh-ogoh Kota Semarang diikuti ratusan orang yang terdiri dari perwakilan agama dan budaya dari beberapa daerah di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Selain Wakil Walikota Semarang dan Perwakilan Kemenparkraf, acara tersebut juga dihadiri oleh Sekertaris Daerah Adi Tri Hananto.

Acara Festival Ogoh-Ogoh Kota Semarang juga dimeriahkan oleh berbagai Parade Budaya, antara lain kesenian Gambang Semarang, Kuda Lumping dari Jawa, Barongsai serta Liong dari Tionghoa serta tarian India, selain itu untuk lebih memeriahkan suasana juga diadakan parade Fashion Show dari remaja dan anak-anak.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar