Gelombang Besar, Nelayan Lampung tak Bisa Melaut

64

JUMAT, 7 APRIL 2017

LAMPUNG — Gelombang besar dan angin kencang di perairan wilayah Ketapang, Lampung Selatan, yang terjadi selama lima hari ini, membuat sejumlah nelayan tangkap tradisional di wilayah perairan Pantai Timur dan Barat, Lampung Selatan, tidak bisa melaut.

Sejumlah nelayan memperbaiki jaring

Salah satu nelayan di wilayah perairan Kecamatan Ketapang, Ansori, mengatakan, kondisi tersebut menyebabkan sebagian nelayan mengurungkan niatnya untuk melaut, karena khawatir dengan keselamatan. Sebagian nelayan memilih menggunakan waktu tidak melaut dengan memperbaiki alat tangkap berupa jaring, pancing rawe, jaring cumi serta memperbaiki bagian perahu yang rusak.

Ansori menyebut, sebelum kondisi cuaca ekstrim yang dominan terjadi saat sore menjelang malam hari, sebagian nelayan khususnya nelayan tangkap yang menggunakan bagan congkel dan juga jaring payang, masih bisa melaut. Namun, setelah kondisi cuaca yang kerap berubah sewaktu-waktu, sebagian nelayan memilih sementara beristirahat sembari menunggu kondisi cuaca membaik.

Angin dengan kecepatan 4-20 knot diakui Ansori diperoleh dari memantau prakiraan cuaca dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sehingga ia bisa melihat kondisi cuaca untuk jangka waktu tertentu. “Selain kita melihat kondisi nyata di laut, kita juga memantau prakiraan cuaca dari internet, karena kami sudah mendapat sosialisasi dari pihak Syahbandar Pelabuhan, agar melihat prakiraan cuaca dari BMKG, selain melihat kondisi langsung di perairan,” terang Ansori, saat ditemui Cendana News, Jumat (7/4/2017).

Menurut Ansori, kondisi perairan Pantai Timur Lampung yang langsung menghadap ke Selat Sunda dan Laut lepas, dan tidak banyaknya pulau pulau kecil untuk berlindung membuat nelayan enggan melaut. Akibatnya, sejumlah tempat pendaratan ikan mengalami kekurangan stok ikan tangkapan nelayan, dan mengandalkan nelayan-nelayan yang masih nekat melaut, terutama dari kapal-kapal nelayan yang memiliki ukuran lebih dari 7 Gross Ton, yang bisa berlindung di beberapa pulau, di antaranya Pulau Legundi, Pulau Sebesi dan gugusan Kepulauan Krakatau.

Hal yang sama juga dialami oleh nelayan di perairan Barat Lampung, Basroni. Nelayan asal Desa Kunjir, Kecamatan Rajabasa itu mengaku sudah lima hari ini tidak melaut dan memilih memperbaiki jaring dan perahu miliknya. Selain tidak mau beresiko dengan keselamatan akibat gelombang tinggi, kondisi perahu kecil miliknya tidak memungkinkan untuk melaut dalam kondisi gelombang besar dan angin kencang. Jika pun dipaksakan, dalam kondisi gelombang tinggi dan angin kencang, nelayan tidak bisa mendapatkan hasil tangkapan secara maksimal.

Basroni yang memiliki beberapa rumpon dan juga keramba jaring apung bahkan terpaksa meminggirkan alat-alat miliknya ke tepi pantai, menunggu kondisi cuaca membaik. Keramba jaring apung dan rumpon yang ditahan dengan beberapa pelampung dari busa tersebut, ditepikan di sekitar pantai untuk menghindari terseret arus dan hilang. Ia menyebut, tahun sebelumnya ada beberapa nelayan pemilik keramba jaring apung dan bagan apung yang terpaksa kehilangan alat tersebut akibat terseret arus hingga ke kabupaten lain.

Basroni mengungkapkan, dalam kondisi cuaca baik, rumpon yang dipasangnya dilengkapi dengan fasilitas jaring bisa memperoleh lebih dari 50 kilogram ikan berbagai jenis, seperti layur, tongkol, sotong serta berbagai jenis ikan lainnya.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar