Harga Anjlok tak Kurangi Minat Pembudidaya Rumput Laut di Pantai Ketapang

148

SELASA, 4 APRIL 2017

LAMPUNG — Para pembudidaya rumput laut di wilayah pesisir pantai Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan, terus membudidayakan komoditas hasil laut tersebut meski harga terus anjlok.

Riyan sebagai pembina dan pembeli rumput laut milik petani di wilayah Ketapang.

Salah satu pembudidaya rumput laut di Desa Tri Dharmayoga, Kecamatan Ketapang, Wayan Ardi (40), menyebut, meski harga komoditas rumput laut di tingkat pengepul hanya mencapai Rp7.000 per kilogram, namun diakuinya rumput laut masih menjadi sumber penghasilan tambahan di samping profesi utama sebagai nelayan tangkap ikan di wilayah perairan timur Lampung.

Ia bahkan menyebut dengan harga Rp7.000 ia masih bisa memperoleh sekitar Rp7juta dari sekitar satu ton rumput laut yang telah dibudidayakannya. Sementara saat panen raya  dengan harga di atas Rp10.000 dirinya bisa memperoleh uang sekitar Rp13 juta sekali panen.

Wayan Ardi menyebut, penurunan harga komoditas rumput laut dari para pembudidaya tersebut mulai berlangsung secara bertahap mulai akhir tahun 2016 hingga awal tahun 2017. Menurut Ardi, harga awal mulai dari Rp10.000 kini sudah mencapai harga Rp7.000 per kilogram. Meski demikian, dari sebanyak 500 lajur tali yang dimilikinya, ia masih tetap mempertahankan budidaya rumput laut yang siap dibeli oleh para penampung untuk disetor ke sejumlah pabrik pembuatan kosmetik dan makanan di wilayah Bandarlampung.

“Kalau bekerja sebagai nelayan saya harus pergi sore pulang pagi tapi dengan memiliki pekerjaan sampingan sebagai pembudidaya rumput laut bisa saya gunakan waktu untuk merawat tanaman rumput laut yang saya budidayakan sejak tiga tahun silam,” ungkap Wayan Ardi saat ditemui Cendana News tengah membenahi lajur atau tali tambang dengan pelampung dari botol bekas untuk budidaya rumput laut di Pantai Onar, Desa Tri Dharmayoga, Kecamatan Ketapang, Selasa (4/4/2017).

Sebanyak 500 lajur tersebut, ungkap Wayan Ardi, rata rata sepanjang 100 meter sehingga ia bisa membudidayakan banyak rumput laut di wilayah perairan tersebut. Sementara petani pembudidaya rumput laut yang ada di wilayah Desa Tri Dharmayoga sebagian merupakan anggota dari Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Komunitas Rumput Laut Mekar Sejati II Desa Tri Dharmayoga, Kecamatan Ketapang, Kabupaten Lampung Selatan. Kelompok tersebut, ungkapnya, dibentuk untuk memfasilitasi para pembudidaya rumput laut dalam hal pemberian bantuan bibit, pinjaman lunak dan kemudahan dalam pemasaran.

Jenis rumput laut yang sudah kering siap dijual.

Selama ini, ia menyebut, dengan adanya Pokdakan dirinya bisa bersama-sama dengan puluhan anggota kelompok pembudidaya ikan di antaranya para petambak ikan dan juga pembudidaya rumput laut bersama-sama mengusahakan kesejahteraan para pembudidaya ikan dan rumput laut di wilayah tersebut. Harga yang masih terbilang rendah, diakui Wayan Ardi, tak membuat sejumlah nelayan mengeluh sebab  menjadi pekerjaan tambahan sebagian nelayan setempat. Meski memiliki perahu untuk mencari ikan sebagian juga memiliki kebun jagung untuk sumber penghasilan.

Beberapa kendala yang dihadapi oleh para pembudidaya rumput laut, diakuinya, di antaranya kondisi cuaca yang tak bersahabat akibat gelombang berimbas lajur atau tali untuk budidaya rumput laut kerap terbawa arus. Sementara itu, selain kendala cuaca, hama penyakit di antaranya ikan pemangsa rumput laut kerap menjadi penyebab menurunnya hasil produksi rumput laut. Belum lagi harga yang anjlok. Namun sejumlah pembudidaya rumput laut masih berusaha membudidayakan rumput laut di wilayah tersebut sebagai komoditas unggulan yang bisa digunakan sebagai sumber penghasilan untuk kebutuhan sehari-hari.

“Saat ini kami sedang libur untuk merawat rumput laut karena masih mempersiapkan untuk Hari Raya Galungan bagi umat Hindu,” ungkap Wayan Ardi.

Sementara itu, salah satu pengepul rumput laut di wilayah Kabupaten Lampung Selatan, Riyan (35) mengungkapkan, selama hampir lima tahun ia mendampingi para pembudidaya rumput laut di wilayah Lampung Selatan. Ia menyebut dari sekitar puluhan kelompok ia menampung sekitar 300 pembudidaya rumput laut di sepanjang pesisir pantai timur Lampung hingga pantai barat Lampung Selatan. Dalam sepekan ia menyebut, rata-rata mengirimkan sebanyak 50 ton rumput laut kering ke Bandarlampung untuk selanjutnya dikirim ke Surabaya, Jawa Timur. Dalam musim harga yang masih anjlok, pasokan dari petani masih cukup minim meski sejumlah petani memiliki stok rumput laut untuk dijual.

“Saya mengirim sesuai dengan permintaan pabrik dan jika ada stok saya telepon pabrik siap kirim dengan rata-rata satu pekan di atas 50 ton atau bahkan lebih,” ungkap Riyan.

Riyan juga menyebut, saat panen raya rumput laut, ia bisa memenuhi permintaan pabrik dengan jumlah mencapai 150 ton rumput laut. Rumput laut tersebut merupakan hasil dari para petani binaannya dan menjual hasil panen kepada Riyan dengan harga pernah mencapai Rp14-15 ribu per kilogram. Namun di bulan Maret hingga April tahun ini, harga rumput laut saat ini hanya mencapai Rp7.000 di tingkat petani dan dijual ke pabrik di kisaran harga Rp9.500 per kilogram. Beberapa permintaan diakuinya banyak diperuntukkan bagi pabrik atau industri pembuatan kosmetik di antaranya sabun, serta pabrik pembuatan makanan berupa jelly atau agar-agar.

Wayan Ardi petani rumput laut di Pantai Onar Desa Tridharma, menyiapkan tali pelampung rumput laut.

Permintaan yang tinggi dengan harga yang masih cukup rendah tersebut, diakui Riyan, masih belum menguntungkan bagi petani. Namun, ia mengaku, saat ini petani belum mempunyai pilihan lain untuk melakukan pengolahan sendiri rumput laut yang dihasilkan menjadi bahan jadi sehingga terpaksa menjual rumput laut kering meski harganya sedang turun. Ia berharap, menjelang Bulan Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri beberapa bulan ke depan harga komoditas rumput laut meningkat seiring dengan banyaknya kebutuhan akan produk makanan.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar