Kondisi Cuaca Ekstrim, Situasi Pelayaran di Selat Sunda Normal

106

KAMIS, 6 APRIL 2017

LAMPUNG — Kondisi perairan Selat Sunda khususnya di wilayah alur pelayaran Selat Sunda bagi kapal kapal roll on roll off (Roro) dalam beberapa hari terakhir disertai angin kencang dan alun gelombang yang cukup besar.

Kondisi cuaca gelap, angin kencang di perairan Selat Sunda.

Meski demikian, arus transportasi angkutan kapal dari Pelabuhan Bakauheni Lampung menuju Pelabuhan Merak Banten masih berjalan normal. Kondisi perairan di laut memang tidak bersahabat bahkan cenderung ekstrim.

Kepala Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni, Suyatno, mengungkapkan, kondisi alun gelombang dengan riak gelombang akibat angin kencang sangat berpengaruh bagi kapal berukuran kecil seperti kapal nelayan yang akan melaut. Meski demikian, kondisi gelombang yang tak menentu dan cepat berubah tersebut tidak berpengaruh bagi kapal roro di lintasan Selat Sunda.

Suyanto menyebut, saat ini para nahkoda kapal roro di lintasan Selat Sunda harus selalu berhati-hati dan selalu memantau perkembangan cuaca melalui Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Selain melakukan pemantauan dengan acuan prakiraan cuaca dari BMKG, ia mengimbau para nahkoda selalu memantau komunikasi melalui channel 16 dan juga selalu berkoordinasi dengan ship traffic control (STC) di Pelabuhan Bakauheni maupun Merak.

“Saat ini kita pantau komdisi cuaca masih cukup normal untuk pelayaran terutama kapal yang berlayar di Selat Sunda dari Pelabuhan Bakauheni maupun Pelabuhan Merak, dioperasikan kapal-kapal besar di atas 5000 Gross Ton,” terang Kepala Kantor Syahbandar Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni, Suyatno, saat ditemui di Pelabuhan Bakauheni, Kamis (6/4/2017). 

Suyatno, Kepala Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas V Bakauheni.

Menurut Suyatno, saat ini KSOP Bakauheni belum mengeluarkan surat resmi larangan berlayar karena kondisi cuaca dan gelombang masih dinilai belum membahayakan bagi jalur pelayaran. Namun, jika kondisi cukup berbahaya pemberitahuan untuk larangan berlayar akan dikoordinasikan dengan pihak PT Angkutan Sungai Danau dan Penyeberangan (ASDP) cabang Bakauheni dan cabang utama Merak. Selain imbauan lisan, KSOP Bakauheni juga tetap memberikan imbauan secara tertulis melalui masing-masing perusahaan pelayaran untuk selalu berhati-hati dalam aktivitas pelayaran di Selat Sunda.

Di Pelabuhan Bakauheni, ungkapnya, selain kepada seluruh pengguna jasa pelayaran, sebuah monitor khusus disiapkan di lobi pembelian tiket penumpang tentang kondisi prakiraan cuaca yang disediakan oleh BMKG. Berdasarkan prakiraan BMKG bidang meteorologi maritim yang ada di lobi penumpang tertera kondisi perairan Lampung rata-rata dalam kondisi berawan dan hujan ringan dan gelombang mencapai 1 meter hingga 2,5 meter serta dengan kondisi angin di seluruh perairan Lampung umumnya mempunyai kecepatan 3-20 knot.

Kondisi antrian di dermaga 5 dan KMP Virgo 18 yang akan sandar di Bakauheni.

Sementara khusus untuk wilayah Selat Sunda yang sebagian menjadi perlintasan kapal kapal Roro terutama di bagian Selat Sunda bagian utara, kondisi cuaca berawan dengan angin dari arah Barat Daya ke Barat mencapai kecepatan 4-20 knot, tinggi gelombang mencapai 0,25 meter hingga 2 meter. Sementara di perairan Selat Sunda bagian Selatan kondisi cuaca berawan dengan angin dari Barat Daya ke Barat mencapai kecepatan 4-20 knots dengan ketinggian gelombang mencapai 0,25 meter hingga 2 meter.

Pantauan Cendana News di monitor pelayanan sejumlah dermaga di pelabuhan Bakauheni, PT ASDP cabang Bakauheni masih mengoperasikan sebanyak 26 kapal dalam satu hari dengan sekitar 5 dermaga dioperasikan di antaranya dermaga 1,2,3,5, dan dermaga 6 akibat kondisi dermaga 4 yang tak layak digunakan. Meski masih cukup normal sejumlah kapal yang akan bersandar di sejumlah dermaga terlihat cukup berhati-hati saat akan melakukan olah gerak untuk sandar kapal akibat alun gelombang yang kencang. Bahkan kapal penarik (tug boat) TB Merak yang selesai melakukan aktivitas pemantauan lokasi damping di sekitar perairan Bakauheni sempat mengalami kesulitan sandar di dermaga IV yang tidak dipergunakan untuk sandar kapal besar.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar