KSU Derami Padang Luncurkan Komunitas Peduli Sampah untuk Lingkungan dan Olah Sampah

93

KAMIS, 6 APRIL 2017

PADANG — Bertepatan pada peringatan hari jadi Koperasi Serba Usaha (KSU) Dewantara Ranah Minang (Derami) Padang, Sumatera Barat (Sumbar) meluncurkan Komunitas Peduli Sampah. Ketua KSU Derami, M. Hasymi mengatakan, Komunitas Peduli Sampah ini dibentuk merupakan salah satu pilar Yayasan Damandiri yakni pilar lingkungan. 

Ketua Komunitas Peduli Sampah  Nina Dewi Sukmawati.

Pembentukan komunitas ini mendukung Pemerintah Kota Padang yang telah memberlakukan Peraturan Daerah (Perda) No. 21 Tahun 2012 Tentang Pengelolaan Sampah. Keberadaan komunitas ini bisa bersinergi membersihkan Padang dari sampah.

“Jadi dalam hal ini KSU Derami mendukung apa yang dilakukan oleh penggerak peduli sampah, dan nantinya juga akan disinergikan dengan Posdaya yang ada atau yang menjadi nasabahnya Tabur Puja. Tentu harapan kita, Komunitas Peduli Sampah ini turut membantu pemerintah dalam hal lingkungan,” jelas Derami, Kamis (6/4/2017).

Sementara itu, Nina Dewi Sukmawati yang mendapat amanah sebagai Ketua Komunitas Peduli Sampah mengatakan, terbentuknya Komunitas Peduli Sampah itu merupakan cita-citanya terhadap kepeduliannya dari aspek lingkungan, seiring adanya aturan yang diberlakukan oleh pemerintah.

Nina melihat, sejauh ini hingga ditegakannya Perda sampah tersebut, membuat sampah di Padang benar-benar menumpuk.  Hal itu bisa dilihat pada setiap kontainer yang ada setiap kelurahan yang benar-benar kewalahan.

Kondisi tersebut, menurut Dewi jika tidak ada penanganan yang efektif, maka pemerintah akan kesulitan untuk menyediakan lahan untuk tempat pembuangan sampahnya.

“Komunitas Peduli Sampah ini akan bergerak untuk mensosialisasikan kepada masyarakat dalam skala berkelompok tentang cara mengelolah sampah yang bisa menghasilkan manfaat. Selama ini yang saya lihat, masyarakat belum melakukan pemisahan sampah yang dibuangnya. Oleh masyarakat sampah basah dan sampah kering dicampur baurkan saja, dan cara itu sebenarnya salah,” tuturnya.

Dewi menyebutkan, dengan telah diluncurkan Komunitas Peduli Sampah ini perlahan-lahan kebiasaan masyarakat untuk mengelolah sampah akan lebih baik. Paling sedikit masyarakat sudah bisa memisahkan sampah yang bisa dikelola dengan sampah yang benar-benar harus dibuang.

Menurutnya, dengan adanya kesadaran masyarakat yang demikian, maka akan mudah untuk dikumpulkan sehingga memiliki nilai jual. Namun, apabila ada dari rumah tangga  tidak memiliki keahlian untuk menghasilkan kreasi dalam sampah tersebut, maka Komunitas Peduli Sampah akan membantu memberikan bimbingan cara membuat karajinan dan kreasi dari hasil sampah yang tidak berguna itu.

“Ini lah satu peran komunitas yang telah dibentuk ini, untuk memberikan pelatihan kepada ibu-ibu rumah tangga yang berminat untuk melahirkan kreasi dari sampah. Jika hal ini bisa dimulai dan diterima serta berminat untuk dipelajari oleh ibu-ibu rumah tangga, bisa menghasilkan uang loh,” ucap Dewi.

Ia menegaskan, dalam waktu Komunitas Peduli Sampah akan turun ke lapangan untuk mensosialisasikan tata cara pengelolaan sampah itu, dan bakal bekerjasama dengan Pemko Padang melalui Dinas Tanaga Kerja nya, untuk memberikan pelatihan tentang kerajinan yang dihasilkan dari sampah tersebut.

Sebelum terbentuknya Komunitas Peduli Sampah, Dewi sudah lama menjadi penggiat bank sampah di Kota Padang. Awalnya bank sampah yang buat itu sudah dikerjakan sejak 2011 lalu. Namun ketika itu, masih terkendala dana dalam membeli barang-barang bekas yang dikumpulkan oleh pemulung.

Dengan adanya peminjaman modal usaha dari KSU Derami, Dewi bersama rekan-rekannya bisa membeli banyak barang bekas yang dikumpulkan oleh pemulung.

Mengelola  Sampah Jadi Komoditas

Bank sampah yang dibuat oleh Dewi bukan hanya sekedar mengumpulkan barang-barang bekas/buangan saja, tapi barang bekas itu dikelolah menjadi barang yang bisa digunakan kembali, dan bahkan layak jual.

Sampah yang bisa diolah  adalah sampah anorganik, yakni plastik pembungkus makanan, kertas, plastik mainan, botol dan sebagainya. Untuk kertas, misalnya kertas surat kabar, dengan memiliki 5-7 orang ibu-ibu rumah tangga yang hidupnya tergolong kurang mampu, Dewi bisa melatih para ibu-ibu itu, bisa menghasil barang – barang yang bernilai. Khusus dari kertas surat kabar, sudah ada yang membuat tempat tisu, tempat air gelar, pot bunga, dan yang lainnya.

Hasil kreativitas ibu-ibu rumah tangga itu, ikut membantu ekonomi kebutuhan sehari-hari, karena harga untuk tempat tisu yang terbuat dari kertas koran mampu terjual Rp50.00 hingga Rp150.000 per unitnya, tergantung besaran ukurannya.

Selain memanfaatkan barang bekas atau sampah seperti kertas surat kabar, bank sampah tersebut juga mengolah barang bekas dari bahan plastik pembungkus makanan. Dewi menjelaskan, untuk dari plastik pembungkus makanan itu, ibu-ibu rumah tangga juga bisa menghasilkan kreasi barang lainnya, seperti tas dan dompet.

Barang-barang karya pengrajin dari hasil bank sampah itu pun terbukti dapat dipasarkan hingga ke Pulau Jawa, sekalipun belum dalam jumlah yang banyak.  Menurut  Dewi barang hasil olahan barang bekas itu cukup laris dikalangan antara Posdaya yang ada di Kota Padang.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Muhammad Noli Hendra

Komentar