Lembutnya Bubur Ayam Cakwee dan Bubur Ayam Kedai Asri di Lamsel

53

SABTU, 8 APRIL 2017

LAMPUNG — Sarapan pagi menjadi kebutuhan bagi siapapun sebelum menjalankan aktivitas sehari-hari. Salah satu menu sarapan yang paling banyak disukai adalah bubur. Teksturnya yang lembut, membuat bubur terasa cocok untuk mengawali mengisi perut sekaligus tenaga.

Bubur Ayam siap saji

Di kawasan Jalan Lintas Sumatera, Bakauheni, Lampung Selatan, ada sejumlah warung yang menyediakan menu Bubur Ayam. Salah satunya Warung Nasi Uduk Pak Aceng. Menurut juru masak Warung Nasi Uduk Pak Aceng, Ana (28), pada awalnya bubur ayam belum banyak dikenal, karena warung Pak Aceng lebih dikenal sebagai warung nasi uduk. “Mula-mula hanya menu nasi uduk dan lontong ayam sayur, namun karena di sini juga dekat dengan kontrakan, banyak pekerja yang tak sempat membuat sarapan menanyakan bubur ayam, lalu kita mulai membuat bubur ayam sejak dua tahun silam,” ungkap Ana, saat ditemui di warungnya.

Ana menyebut, bubur ayam buatannya dibuat dengan merujuk pada resep Bubur Ayam Cianjur, Jawa Barat, yang menggunakan cakwee atau tepung beras gurih yang diiris-iris. Juga taburan bawang goreng, kedelai goreng, kerupuk merah, daun seledri yang diiris halus, kecap asin, kecap manis dan terakhir sambal. Irisan atau suwiran ayam yang ditaburkan di bawah taburan kedelai goreng, memberi kesan renyah dan mempermanis tampilan. “Bubur kami buat dari beras yang dimasak hingga halus, dan kami menggunakan beras pandan wangi untuk menciptakan rasa yang enak sebagai dasar bubur,” terang Ana.

Ana tengah menyiapkan bubur ayam

Selain itu, juga kuah ayam, yang bagi pelanggan yang ingin menikmati bubur ayam di warung, kuah ayam akan disiramkan ke racikan bubur ayam yang telah dibuat. Namun jika ingin menyantapnya di rumah, kuah daging ayam yang dipisahkan menggunakan wadah plastik khusus, sehingga tidak tercampur dengan kerupuk serta racikan bumbu lain.

Bubur ayam buatan Ana yang cukup lezat dengan kuah ayam terbuat dari ayam kampung, membuat pelanggan yang sebagian anak kecil menyukainya. Bahkan, menjadi menu favorit bagi anak-anak sekolah yang saat berangkat dari rumah tidak sempat sarapan. Salah satu pelanggan, Andi (23), mengaku bersama kawan-kawannya kerap mampir saat pagi untuk sarapan. Rasa yang pas dan gurih di lidah diakui Andi menjadi alasan untuk selalu mencari sarapan di warung tersebut, dan kerap membawa pulang bubur ayam untuk dimakan adiknya di rumah.

Bubur ayam yang biasa disajikan saat pagi hari, juga dilakukan oleh Putri (23), pemilik Kedai Asri di Desa Pasuruan yang merupakan ibukota Kecamatan Penengahan. “Bubur ayam dan nasi uduk selalu kami sediakan setiap pagi, terutama karena lokasi saya berjualan dekat dengan pasar dan sekolah, sehingga banyak yang membeli untuk sarapan,” ungkap Putri.

Putri menuang kuah bubur ayam

Menurut Putri, bubur yang dibuatnya sengaja menggunakan beras berkualitas bagus jenis rojo lele, karena memiliki peran penting dalam warna bubur yang putih bersih. Sementara untuk bumbu kaldu ayam yang menjadi penentu utama rasa bubur ayam, Putri mengaku membuatnya dari ayam kampung, untuk menciptakan rasa yang sempurna, karena umumnya bubur hanya berasa gurih atau bahkan hambar, dan penentu rasa ada pada kaldu ayam serta taburan pada bubur.

Beras yang telah direbus dengan menggunakan daun salam, garam dan mulai menjadi bubur, diletakkan dalam sebuah dandang khusus yang akan dipanaskan kembali di atas kompor sesuai kebutuhan. Putri menyebut, menu bubur buatannya banyak disukai, karena ditambah dengan irisan hati ayam dan ampela ayam yang kerap disukai anak-anak kecil. “Kaldu ayam yang saya buat juga sengaja selalu dipanaskan sebelum pelanggan membeli, dengan bumbu rempah-rempah seperti bawang merah, ketumbar, kemiri, kunyit, lada, pala, yang bisa menghangatkan tubuh saat pagi hari,” ungkap Putri.

Salah satu pelanggan Kedai Asri, Ansori, mengaku selalu menyempatkan menyantap bubur ayam dengan rasa ayam yang gurih pada kuah buatan Putri. Bubur Ayam buatan Putri diakuinya memiliki rasa lembut dan sangat baik untuk sarapan di pagi hari.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar