Lulusan SMP, Kelola Tabur Puja Rp200 Juta

27

MINGGU, 9 APRIL 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Menjadi pengurus simpan pinjam di lingkup dusun, dengan mayoritas peminjam merupakan  warga kelas menengah ke bawah, bukan hal mudah. Tak hanya harus selalu mengingatkan agar membayar cicilan tepat waktu, pengurus juga harus rela tak mendapat bayaran. 

Indarti

Di Dusun Tirto, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, Simpan Pinjam Tabur Puja yang merupakan program pemberdayan ekonomi masyarakat Yayasan Damandiri, dikelola oleh Posdaya Tapak Dara. Terdapat tiga pengurus Simpan Pinjam Tabur Puja di Posdaya tersebut, yakni ketua, sekretaris dan bendahara. Mereka inilah yang senantiasa mengurus segala hal terkait simpan pinjam, dengan besaran dana pinjaman yang disediakan oleh Yayasan Damandiri melalui KUD Tani Makmur mencapai Rp200 juta.

Adalah Indarti (53), Ketua Posdaya Tapak Dara, sekaligus Ketua Simpan Pinjam Tabur Puja di Dusun Tirto. Wanita berjilbab, ini tak hanya berperan sebagai penanggung-jawab atau motor penggerak pemberdayaan warga, namun juga sekaligus menjadi cerminan serta panutan seluruh anggota maupun warga di dusunnya dalam memajukan usaha.

Meski telah hidup mapan dan berkecukupan dengan usaha pembuatan gerabah serta jual beli sovenir milik keluarganya, wanita satu ini tetap memberi contoh kepada warga di dusunnya untuk tak malu dan ragu dalam mengembangkan usaha, dengan cara mengajukan pinjaman modal Tabur Puja. Meski sebenarnya tak terlalu membutuhkan, Indarti tetap meminjam bantuan usaha sekedar untuk memberikan contoh kepada anggotanya.

“Saya tetap meminjam dana Tabur Puja sebesar Rp2 juta. Sekedar ‘ngombyongi’ yang lainnya. Kalau tidak, ya untuk dipinjamkan pada warga lainnya, namun dengan atas nama saya,” katanya.

Indarti mengaku, menjadi pengurus Simpan Pinjam memang susah-susah gampang. Ia harus bertanggungjawab, agar pinjaman warga lancar dan tak bermasalah. Selain selektif dalam memilih anggota, ia mengaku harus selalu mengingatkan semua anggotanya agar tertib membayar cicilan. Saat awal pencairan, ia juga selalu menanamkan kepada setiap anggotanya, agar bertanggungjawab atas pinjamannya.

“Alhamdulillah, selama ini lancar. Tidak pernah ada masalah. Karena selain selektif, kita juga selalu menekankan kepada anggota yang telah tandatangan dan setuju, harus tertib. Kalau hutang kewajibannya, ya membayar. Kita juga selalu mengingatkan anggota maupun ketua kelompok di masing-masing RT, agar tidak terlambat membayar cicilan setiap bulan,” katanya.

Sebagai pengurus simpan pinjam, Indarti sebagai ketua serta dua orang warga lainnya sebagai sekretaris dan bendahara, sebenarnya tidak memiliki latar belakang pendidikan istimewa. Ia hanya lulusan SMP, sementara dua pengurus lainnya hanya lulusan SD dan SMA. Namun, hal itu tak menjadi kendala baginya. Dengan pelatihan yang diberikan, mereka mampu mengelola Simpan Pinjam Tabur Puja, dengan baik.

“Secara hitung-hitungan, pengurus memang mendapatkan komisi sebesar 2 persen dari hasil simpan pinjam. Seperti kemarin, kita mendapat komisi sebesar Rp1,9 juta. Namun, itu tidak kita gunakan pribadi. Melainkan digunakan untuk beli seragam atau rekreasi semua pengurus, termasuk ketua kelompok di tiap RT,” katanya.

Indarti mengaku, adanya program Tabur Puja di dusunnya sejak 3 tahun terakhir, paling tidak dapat memberikan suntikan modal bagi warga dalam mengembangkan usaha. Dari semula warga sekedar bisa menjalankan usaha, hingga perlahan bisa berkembang. Namun, yang paling penting baginya, adanya program Tabur Puja juga dapat menghindarkan warga dari jeratan rentenir yang banyak berkeliaran di dusunnya.

“Ya, paling tidak dengan adanya  pinjaman ini warga yang semula tidak memiliki stok dagangan, menjadi bisa memiliki stok dagangan lebih banyak. Namun, yang juga tidak kalah penting, warga bisa terhindar dari rentenir. Walaupun untuk yang sudah terlanjur itu kita sulit membantu, karena jika kita pinjami dana Tabur Puja, justru khawatir akan menambah beban mereka,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar