Manisnya Bubua Kampiun Nasabah Tabur Puja

0
22

SABTU, 1 APRIL 2017 
SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Bubur hitam, candil, bubur sumsum, lupis dan kue serabi menjadi satu di dalam sebuah piring kaca. Siraman manisan yang terbuat dari gula merah menambah aroma dan semakin enak dipandang. Membuat air liur menetes ingin segera menyantap.

Dari kiri ke kanan: pembeli, Yurnalis, dan Febri Zardi Melinda.

Seperti itulah gambaran dari apa yang Cendana News rasakan saat berhenti di sebuah tenda yang menjual bubua (bubur: Minang) kampiun di sebuah perlintasan kereta api dekat Danau Singkarak, Kabupaten Solok.

Meski hanya berteduhkan payung ukuran besar, namun tidak membuat pembeli melewatkannya begitu saja. Baik warga lokal hingga wisatawan terlihat ramai untuk mencicipi hidangan khas masyarakat Minang tersebut. Tangan sang penjual yang cekatan terus meramu dan membungkus permintaan dari pembeli.

Begitulah aktivitas yang dijalani Febri Zardi Melinda (37) atau akrab juga disapa Ni Imel sehari-hari. Di kala pagi, ia mempersiapkan bahan-bahan untuk pembuatan dagangan, mulai dari bahan untuk lupis, bubur hitam hingga makanan khas lainnya seperti lapeh bugih (kue Bugis) dan onde-onde khas Minang yang dijual di tenda mininya di depan garasi yang sudah dikasih izin pemilik rumah.

Meskipun dengan tenda seadanya, meja seadanya, dan tempat duduk seadanya, tidak membuat pembeli berhenti untuk datang. Bahkan sang penjual pun tidak memiliki kesempatan untuk duduk sejenak karena pembeli yang datang silih berganti. Hanya dalam hitungan jam, dagangannya sudah habis terjual.

Bubua kampiun.

“Harus capek, kalau talambek seh mambali bisa ndak dapek wak lai. Iko seh ampiah ndak dapek lai (harus cepat, kalau terlambat bisa tidak kebagian, sekarang saja sudah hampir habis),” ucap seorang nenek yang memesan beberapa bungkus bubua kampiun.

Hal itu bukan tanpa alasan, Cendana News yang penasaran dengan rasanya juga mencoba sepiring bubua kampiun buatan Ni Imel. Rasa kue serabi yang lembut menggoda mulut untuk terus mengunyah. Ditambah aroma manisan gula merah yang memanjakan hidung dan membuat tangan tak berhenti menyendok hidangan di dalam piring.

“Buatan Ni Imel memang khas dan banyak peminatnya. Dalam waktu dua jam sudah habis dagangannya,” kata Yurnalis (58), penanggung jawab Posdaya Dermaga yang menunjukkan Cendana News ke lokasi tersebut.

Sebelumnya, Ni Imel hanya berdagang tiga kali dalam seminggu, namun karena peminat sangat banyak, ia berencana untuk mencari tambahan modal. Meskipun banyak rentenir yang berseliweran di daerahnya, namun karena bunganya tinggi dan ditagih setiap hari, membuatnya mengurungkan niat.

Pembeli meramaikan tempat berjualan bubua kampiun Ni Imel.

Hal inilah yang menjadi awal pertemuannya dengan Tabur Puja Posdaya Dermaga yang berada di bawah naungan Koperasi KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri. Dengan pinjaman Rp2 juta, Ni Mel sudah mulai meningkatkan hari penjualan. Bahkan, saat ini, sudah masuk dalam pinjaman tahap III dengan dana pinjaman Rp3 juta.

“Biasanya hanya tiga kali dalam seminggu dan saat ini sudah dapat berjualan setiap hari,” sebutnya sambil melayani permintaan pembeli.

Dengan bertambahnya hari berjualan juga meningkatkan pendapatan Ni Imel setiap bulan. Meskipun ada keinginan untuk memperbesar tempat berjualan, namun karena menumpang di lahan orang, saat ini ia hanya bertahan berjualan seperti biasanya.

“Kalau besar pula tempat berjualan, marah nanti yang punya tempat, tidak bisa pula keluar mobil orang dari parkiran,” ucapnya sambil tersenyum.

Jurnalis: ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: Tabur Puja Solok

Komentar