Material Longsor Tebal Akibatkan Sulit Evakuasi Korban

51

SENIN, 3 APRIL 2017
 
PONOROGO — Keluarga korban bencana longsor yang terjadi di Dukuh Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo pada Sabtu (1/4/2017) pagi lalu, kini harus ekstra sabar, pasalnya Deputi II Penanganan Tanggap Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Tri Budiarto mengatakan, material longsor mencapai 80 ribu kubik. Dan yang menutup pemukiman warga mencapai kedalaman 6–17 meter sehingga sulit dilakukan evakuasi untuk korban yang tertimbun.

Proses pencarian korban longsor.

“Selain kendalanya karena material juga tiap pukul 14.00–17.00 WIB terjadi hujan sehingga mengurangi gerak kita,” jelasnya kepada Cendana News di lokasi, Senin (3/4/2017).

Proses evakuasi korban, lanjut Tri, sudah dilakukan sejak hari pertama bencana dengan mengerahkan delapan alat berat. Selain alat berat, juga menggunakan air untuk menyemprot tanah dan juga anjing pelacak yang digunakan untuk mencari kemungkinan korban yang masih tertimbun.

“Mengingat kondisi yang seperti ini, kemungkinan terjadi longsoran susulan sehingga tim relawan harus berhati-hati,” ujarnya.

Tri Budiarto

Menurut Tri, lamanya pencarian korban tergantung dari keputusan tim, biasanya pencarian korban antara 7–14 hari, melihat dari kondisi yang ada di lapangan. “Misalnya tidak diperpanjang juga, kami umumkan ke masyarakat, jika diperpanjang juga diumumkan, melihat kondisi ke depan,” tuturnya.

Dari hasil pengamatan di lapangan, Tri menambahkan, ada dua hal yang menjadi perhatian masyarakat dan pemerintah. Pertama kondisi bukit yang ditumbuhi oleh tanaman yang perakaran tidak dalam, juga tutupan vegetasinya jarang. Kedua, jenis tanah yang rapuh ditambah vegetasi yang kritis menyebabkan tingkat kelongsoran yang tinggi.

“Kami mengimbau warga untuk terus berhati–hati terutama saat musim hujan,” tukasnya.

Pihaknya mempunyai komitmen bersama guna pencarian, penyelamatan, dan evakuasi sebagai target utama  juga persoalan warga yang mengungsi. Kiriman bantuan tim pencari korban yang tertimbun berasal dari BPBD Jawa Tengah dan BPBD Jawa Timur dengan total 15 tim. “Kami bersama tim relawan dari GP Anshor, Muhammadiyah, rumah zakat, TNI, Polri dan Basarnas tetap melakukan evakuasi,” tandasnya.

Heri Purnomo

Sementara itu, Ketua Tim Tanggap Darurat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Heri Purnomo, menerangkan, pihaknya sudah bertanya kepada korban terkait proses relokasi dan mereka menyetujui usulan ini. Dan kini tim PVMBG melakukan pemetaan lokasi yang aman dengan menggunakan drone.

“Lokasinya harus yang aman dan luasannya sekitar satu hektar,” paparnya.

Bahkan warga mengaku bersiap menggunakan tanah pribadi mereka guna dijadikan lahan relokasi namun memerlukan bantuan dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo untuk material bahan bangunan.

“Ini inisiatif warga yang harus kita dukung, tentunya yang menjadi pilihan relokasi harus lebih aman,” pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti

Komentar