Misteri dan Pesona Mantera Cinta Rusdin Tompo

38

KAMIS, 6 APRIL 2017

MAKASSAR  —-  Aku melamarmu bukan dengan sebongkah harta yang kumiliki/Aku melamarmu dengan kelaki-lakianku. Demikian petikan puisi berjudul “Aku Melamarmu dengan Kelaki-lakianku” karya Rusdin Tompo dalam kumpulan puisinya berjudul  Sehimpun Puisi Mantera Cinta.

Suasana diskusi dan peluncuran Sehimpun Puisi Matera Cinta di Makassar, Rusdin Tompo mengenakan batik biru.

Demikian salah satu puisi dari penyair asal Makassar ini yang kebanyakan menyukai tema cinta dan perasaan dalam karyanya.  Sehimpun Puisi Mantera Cinta diluncurkan di Hotel Aerotel Smile, Jalan Muchtar Lufti, Makassar, Kamis (6/4/2017). Peluncuran buku ini diprakasai Badan Perpustakaan dan Kearsipan Kota Makassar.

“Puisi ini saya dedikasikan untuk perempuan. Saya sudah membuat puisi sejak SMP dan buku ini kumpulan puisi saya,” kata Rusdin yang mengaku menggunakan kesepian menulis sebuah karya.

Menurut Rusdin cinta membuat orang bisa melakukan apa saja, termasuk perbuatan yang sebetulnya dia tidak sukai.  Salah satu puisinya berjudul “Perempuan-perempuan Bercahaya” terinspirasi dari kasus aktual tentang perempuan yang terjebak dalam prostitusi online.

Dalam puisi yang lain berjudul “Terang Untukmu” pernah dibacakan waktu malam renungan AIDS/HIV,/ Dari lirik puisi itu jelas Rusdin menunjukkan simpatinya terhadap perempuan (juga yang laki-laki) yang menjadi korban. Di sini Rusdin mengartikan cinta bukan hanya soal asmara, tetapi juga kemanusiaan.

Aku Punya lilin dalam gelap menyala penuh hangat/Lilin yang sumbunya dari semangatmu/Lilin yang ditancapkan di lubang harap di mana nama-namamu berserakan di dalamnya/ Kuberi pita bersilang merah sebagai cendera mata bahwa kau tetap ada bersamaku

Di antara yang hadir terdapat anggota DPRD Sulawesi Selatan,  Sri Rahmi yang juga menjadi pembicara.  Puisi-puisi karya Rusdin menurut dia mengandung misteri.

“Puisi dia penuh dengan romansa yang membuat saya melankolis. Penulis tahu bagaimana rasa sedih, patah hati, bahagia dalam puisi-puisinya dan membuat dia menjadi produktif,” ujar Rahmi.

Rahmi  juga mengungkapkan tidak hanya romansa tapi juga ada beberapa puisi yang mengandung spiritual yang kuat.  Salah satu puisi yang berjudul “Tiada Syair di Tubuhku” ini sangat mengandung spritual yang kuat.

Rusdin Tompo pernah meraih penulis terbaik se-Sulawesi Selatan pada 2016 dari sebuah grup media di Makassar.  Selain Sehimpun Puisi Mantera Cinta, penyair kelahiran Ambon,3 Agustus 1968 juga pernah menulis Cerita Tentang Toraja, Mimpi Seorang Prajurit, Mneolak Takluk dan sebagainya.

Alumnus Fakultas Hukum Universitas Hasanuddin (Unhas) ini juga kerap memenangkan lomba puisi sewaktu masih tinggal di Ambon.  Selain aktif menjadi penulis Rusdin juga pernah menjadi Ketua Komisi Penyiaran Indonesia Daerah Sulawesi Selatan 2007-2010 dan periode 2011 hingga 2014.

Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Nurul Rahmatun Ummah

Komentar