Modal Uang Pinjaman, Martinem Sukses Buka Dua Usaha

51

RABU, 5 MARET 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Martinem (42), ibu rumah tangga, warga Dusun Sribitan, RT 3, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, hidup pas-pasan bersama kedua anak dan suami yang hanya bekerja sebagai petugas kebersihan (cleaning service). Pendapatan lain hanya diperoleh dari hasil menyewakan kios kecil yang diterimanya setiap 2 tahun sekali. 

Martinem membuat kerajinan bunga

Lama, Martinem memendam keinginan untuk bisa lebih berkarya menambah pendapatan. Namun, apa daya, sulitnya mencari modal menghalangi keinginannya. Dengan sabar dan iklas, Martinem menjalani hidupnya itu, sembari terus memupuk harapan di dalam benaknya. Hingga pada suatu ketika di 2014, Posdaya Kanthil Kuning di dusunnya mengenalkan program Simpan Pinjam Tabur Puja dari Yayasan Damandiri.

Martinem yang hadir mendengarkan sosialisasi tentang program Tabur Puja itu, bagaikan mendapat kabar dari Surga. Betapa, tidak? Program pinjaman itu begitu mudah persyaratannya. Bahkan, bisa diberikan kepada orang yang usahanya baru sekedar gagasan atau keinginan seperti dirinya. Tak ingin terlewatkan sia-sia, Martinem langsung unjuk diri sebagai calon nasabah.

Dengan menggandeng  6 orang tetangga di sekitarnya untuk diajak membuat kelompok tanggung renteng, Martinem mengajukan pinjaman. Hanya berselang satu minggu kemudian, setelah mengumpulkan foto kopi KTP dan C1 serta wawancara, Martinem mendapatkan pinjaman modal sebesar Rp1 juta. Uang itu digunakan untuk membeli sejumlah bahan pembuatan bunga tiruan dari daun lontar. Usaha ini terinspirasi dari kakaknya yang sejak lama sukses menekuni usaha kerajinan bunga hiasan itu.

Sembari belajar dari sang kakak, Martinem tekun merintis usaha barunya tersebut. Setiap hari, sejak pagi hingga sore, bahkan kadang hingga larut malam, Martinem merangkai daun lontar kering menjadi bunga hiasan. Berkat kesungguhannya itu usaha kerajinan bunga pelan-pelan berkembang, hingga tidak terasa modal pinjaman sebesar Rp1 juta bisa terlunaskan.

Martinem pun mengajukan pinjaman modal lagi untuk kedua kali, sebesar Rp2 juta. Uang itu digunakan untuk menambah jumlah produksi kerajinannya. Seiring dengan terus meningkatnya permintaan, Martinem mulai kewalahan. Ia pun kemudian mempekerjakan seorang karyawan untuk membantunya. “Pada awalnya, saya hanya bisa membuat sekitar 50-75 bunga dalam sehari. Sekarang, dibantu karyawan, bisa membuat 150-250 bunga. Saya menjualnya seharga Rp700 per biji. Saya setor ke toko-toko kerajinan di daerah Kasongan,” katanya.

Merasa sudah sedikit mapan, Martinem mencoba melebarkan sayap. Setelah pinjaman kedua, lunas, ia kembali mengajukan pinjaman modal sebesar Rp4 juta. Dengan uang itu, Martinem membeli gerobak, meja dan kursi, mangkok, gelas dan kebutuhan lain untuk membuka warung bakso dan mie ayam. “Tempatnya menggunakan kios yang dulu saya sewakan, karena sudah habis kontraknya. Jadi, saya pakai untuk membuka usaha sendiri. Apalagi, sekarang sudah ada bantuan pinjaman modal usaha Tabur Puja. Itu saya manfaatkan betul. Kalau tidak ada Tabur Puja, mungkin sampai sekarang kios itu masih saya sewakan, karena tak ada modal buat usaha,” katanya.

Dengan memperkerjakan seorang karyawan untuk mengelola warung bakso, Martinem mengaku bisa menjual sekitar 20-30 mangkok bakso dan mie ayam setiap harinya. Satu mangkok dijualnya Rp6.000, dengan sistem keuntungan bagi hasil dengan karyawannya. Kios milik Martinem kebetulan menempati lokasi strategis, di tepi jalan raya, dekat persimpangan masuk jalan dusun, sehingga bisa laris.

“Saya sengaja mempekerjakan karyawan untuk mengelola warung bakso, agar saya tetap bisa membuat kerajinan bunga. Kalau saya urusi semua, saya tidak sanggup memenuhi pesanan bunga. Tapi, dengan cara seperti ini, saya bisa dapat hasil lebih banyak, baik dari warung maupun dari membuat bunga. Jadi, bisa dapat hasil dobel,” katanya.

Dengan berbagai kemudahan pinjaman modal Tabur Puja, Martinem merasa mudah menjalankan dan mengembangkan usahanya. Karena itu, tahun berikutnya Martinem akan mengajukan pinjaman lagi untuk membuat kolam pemancingan ikan lele di lahan sekitar rumahnya.  “Nanti saya ingin meminjam Rp4 juta atau Rp5 juta. Untuk bikin kolam lele. Tapi, kalau bisa jangka waktu pinjaman diperpanjang, jadi tidak hanya 12 kali cicilan. Kalau bisa 18 atau 24 cicilan, biar mengangsurnya bisa lebih ringan. Kalau pinjam Rp5 juta dengan cicilan sebulan Rp500 ribu, agak berat,” harap Martinem.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar