Murtini, Buruh Tani yang Berdaya, karena Tabur Puja

0
13

SELASA, 4 APRIL 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sebelum bisa mandiri, Murtini (48), warga Dusun Sribitan, RT 2, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, hanya bekerja sebagai buruh tani. Penghasilannya tak lebih dari Rp800 ribu per bulan. Bersama suaminya yang juga hanya bekerja serabutan, Murtini harus mencukupi kebutuhan ekonomi keluarganya sehari-hari. 

Murtini, di ladang bayam dan kangkung miliknya.

Dengan berbagai keterbatasan, bahkan dengan sekolahnya yang hanya lulus SD, Murtini tak pantang menyerah menghadapi kehidupan. Wanita paruh baya dengan satu anak ini tiada henti berupaya mencari pekerjaan, dan berwirausaha sendiri dengan bercocok-tanam ketela dan jagung di tanah pekarangannya. Tetapi, usahanya ini tak memberinya hasil yang berarti.

Pada 2014, ketika program Simpan Pinjam Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) Yayasan Damandiri masuk ke dusunnya, Murtini pun merasa mendapat secercah harapan. Pasalnya, melalui program yang disalurkan oleh Posdaya Kanthil Kuning, itu siapapun anggota Posdaya bisa meminjam modal. Tanpa agunan dan syarat memberatkan, dan tanpa segala prosedur yang membuatnya pusing kepala.

Rasa ingin mengubah nasib yang sejak lama tumbuh di benaknya, mendorong Murtini untuk segera memanfaatkan pinjaman itu. Ia tak ingin menyia-siakan kesempatan itu. Bagi Murtini, hanya itu cara yang memberinya solusi permodalan. Murtini menyadari, dengan kondisi ekonomi keluarganya, tak mungkin bagi sebuah bank atau lembaga simpan pinjam lainnya percaya, jika Murtini nanti bisa mengembalikan pinjamannya.

Karenanya, hanya lewat Tabur Puja itu Murtini bisa pinjam modal. Dan, pada kali pertama, sesuai aturannya, Murtini meminjam uang untuk modal usaha sebesar Rp2 juta. Uang pinjaman itu digunakannya untuk usaha beternak ayam. Sebanyak 10 ekor ayam kampung beserta pakan dan kandang dibuat di pekarangan rumahnya, dan dengan tekun merawatnya.

Tetapi, ternyata saat itu nasib baik belum berpihak kepada Murtini. Usaha beternak ayam kampungnya, gagal total. Separuh dari ayam-ayamnya mati mendadak karena penyakit. Murtini, bangkrut. Namun, demi menjaga kepercayaan dan harapan baru, dengan berbagai daya dan upaya Murtini tetap tertib mengangsur pinjamannya ke Posdaya Kanthil Kuning. Bahkan, setelah lunas, Murtini kembali bangkit dan mengajukan pinjaman lagi untuk modal usaha lainnya.

Kali kedua meminjam, Murtini mendapatkan pinjaman sebesar Rp3 juta. Uang itu digunakannya untuk modal usaha sesuai bakatnya yang selama ini dilakoni, bercocok tanam. Dengan pengalaman menanam ketela dan jagung yang pernah gagal, Murtini kemudian memilih tanaman lain, yaitu sayuran.

Uang Rp3 juta hasil pinjaman Tabur Puja digunakan Murtini untuk membeli bibit sayuran berupa bayam dan kangkung cabut. Juga sejumlah pupuk, dan obat hama, untuk mengantisipasi datangnya penyakit di kemudian hari.  Di lahan seluas 900 meter persegi bekas lahan ketela dan jagung yang gagal, Murtini pun mulai menyemai harapan lagi. “Setiap pulang kerja, pada sore hari, saya ke sawah untuk merawat sayuran. Menyiram, memupuk dan membersihan alang-alang. Kadang juga dibantu suami,” kata Murtini.

Di bidang pertanian dengan menamam bayam dan kangkung cabut itu, Murtini mendapatkan jalan rejekinya. Usahanya itu berhasil. Setiap hari, Murtini bahkan bisa panen, karena bayam dan kangkungnya ditanam dengan sistem berjenjang. Dalam sehari, Murtini mengaku bisa mendapatkan 300 unting  (ikat) bayam dan 200 unting kangkung.

Hasil panennya itu dijualnya ke pengepul yang letaknya tak jauh dari dusunnya. Dan, dari hasil panen setiap hari itu, Murtini bisa mendapatkan uang minimal Rp100.000, yakni dari hasil menjual bayam sekitar Rp80-100.000, dan kangkung cabut sekitar Rp40-50.000. “Alhamdulillah, sekarang sudah bisa mendapat hasil lumayan. Bisa untuk mencicil pinjaman dan memenuhi kebutuhan harian,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar