Nelayan Pesisir Ketapang, Cari Ikan dengan Jaring

177

MINGGU, 9 APRIL 2017

LAMPUNG — Kondisi perairan Lampung yang masih tak bersahabat untuk melaut, terutama di bagian tengah, tak menghalangi sebagian nelayan tangkap di Kecamatan Ketapang untuk mencari ikan. Bahkan, beberapa anak sekolah yang memanfaatkan liburan, ikut mencari ikan di pesisir pantai yang mulai surut.

Arman, mencari ikan dengan jaring tradisional

Salah satu nelayan di Dusun Sumur Induk, Desa Sumur, Kecamatan Ketapang, Sudin (34), mengungkapkan, nelayan di wilayah tersebut dalam beberapa pekan terakhir enggan melaut untuk mencari ikan akibat kondisi cuaca yang memburuk. Namun, sebagian nelayan masih tetap melaut dengan berlindung di beberapa pulau kecil, seperti Pulau Rimau Balak dan Pulau Rimau Lunik. Selain itu, sebagian nelayan hanya mencari ikan di sekitar perairan setempat yang berbentuk teluk, sehingga sedikit terlindung dari angin Barat dan gelombang tinggi.

Menurut Sudin, dalam kondisi cuaca angin kencang dan gelombang tinggi, sebagian nelayan juga menangkap ikan dengan cara tradisional menggunakan alat tangkap jaring, pancing dan alat penangkap ikan tepian, di antaranya jenis serok dan sodong atau dikenal masyarakat setempat dengan sungkur. Penggunaan sungkur yang terbilang mudah dan bisa digunakan di tepian pantai yang landai dan berlumpur untuk mencari ikan dan udang.

Selain sungkur, beberapa nelayan juga memasang jaring panjang yang dikenal dengan payang untuk menangkap ikan yang ada di sekitar pesisir pantai, di antaranya jenis ikan lapan-lapan, dan ikan bandeng yang banyak berada di wilayah perairan payau pesisir Ketapang. “Kami takut pergi ke tengah, karena cuaca sedang tidak bagus. Makanya, kami mencari ikan di tepian dengan perahu, ada juga anak-anak yang mencari ikan dengan sungkur dan jaring, karena kawasan ini dekat dengan tambak bandeng, sebagian banyak yang berkembangbiak di tepi pantai berair payau,” ungkap Sudin, ditemui Cendana News, Minggu (9/4/2017).

Menurut Sudin, sebagian hasil tangkapan nelayan tersebut jarang diperjualbelikan, melainkan untuk konsumsi sendiri. Salah satu anak pesisir pantai, Arman (14), mengungkapkan, jaring angkat atau serok, sondong atau sungkur, dibuat dari bambu yang dirakit sedemikian rupa, dengan penambahan jaring dan dioperasikan dengan cara dibentangkan dalam air.

Arman mengaku, setiap akhir pekan atau hari libur, selalu mencari ikan untuk lauk bersama kawan-kawannya atau keluarga. Namun, dalam kondisi musim udang dan musim bandeng, Arman kerap memperoleh udang dan bandeng dalam jumlah yang cukup banyak sehingga terkadang dijual kepada warga yang ingin membelinya. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, Arman mengaku menangkap ikan tanpa menggunakan perahu dengan menggunakan jaring angkat jenis sungkur mulai sulit memperoleh udang atau ikan.

“Udangnya mulai sedikit, justru saya malah dapat banyak sampah plastik, kaleng bahkan terkadang sampah-sampah lain yang dibuang, yang saya buang ke darat lagi kalau terkena sungkur,”ungkap Arman.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Komentar