Oknum Warga, Ambil-alih Lahan Translok Ojang di Sikka

55

MINGGU, 9 APRIL 2017

MAUMERE — Puluhan warga yang menempati perumahan di areal Transmigrasi Lokal (Translok) Ojang, Dusun Ojan, Desa Ojang, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, memilih meninggalkan lokasi transmigrasi, karena lahan basah dan lahan kering yang dibagikan kepada masing-masing kepala keluarga yang menempati lokasi Translok seluas masing-masing 1 hektare diambil kembali oleh oknum warga yang mengaku pemilik lahan.

Lokasi perumahan di Translok Ojang, Desa Ojang, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka yang dibiarkan terlantar.

Warga juga mengeluh, karena bantuan sapi yang diberikan kepada penghuni Translok oleh Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, turut diambil oleh oknum tersebut yang diketahui bukan pemilik lahan Translok, namun seolah-olah dibiarkan oleh pemerintah. “Setelah menempati lokasi Translok lahan pertanian yang dibagikan Pemerintah diambil kembali oleh oknum yang mengaku sebagai pemilik tanah yang saat ini bermukim di Desa Ojang,” ujar Benediktus Bayo Boho.

Ketua RT 11, RW 03 yang bermukim di lokasi Translok Ojang, ini, saat ditemui Cendana News, mengaku dirinya bersama warga yang masih menetap di lokasi Translok tidak bisa berbuat apa-apa dan hanya pasrah saja dan mencoba bertahan hidup dengan mengolah lahan pertanian milik masyarakat.

Benediktus membeberkan, dari 50 rumah yang dibangun di SP1 yang ditempati warga, hanya berjumlah 38 rumah saja, sementara di SP2 dari 51 rumah yang ditempati warga, hanya 3 rumah saja, sehingga dari total 101 rumah yang dibangun pemerintah, hanya 41 rumah saja. “Banyak yang kembali menetap di dusun-dusun di sekitar Translok, sebab mereka harus bertani, sementara lahan pertanian sudah diambil, sehingga tidak sanggup bertahan di lokasi Translok setelah pemerintah tidak memberikan bantuan biaya hidup,” ungkapnya.

Hal senada juga disampaikan Piterson Lewar, penghuni Translok yang ditemui Cendana News di hari yang sama. Dikatakan Piterson, setelah menempati lokasi Translok pada 2008, penghuninya selain dibagi lahan pertanian dan satu ekor sapi untuk dua rumah, juga diberikan makanan dan perlengkapan hidup termasuk pakaian.

Benediktus Bayo Boho (kiri) dan Piterson Lewar warga yang masih bertahan di lokasi Translok Ojang.

Bantuan tersebut berakhir pada 2013, dan sejak saat itu banyak penghuni yang meninggalkan lokasi Translok dan kembali ke kampung asalnya, sebab lahan pertanian pun telah diambil oleh pemilik lahan, sehingga warga tidak bisa memiliki pendapatan untuk menghidupi keluarga. “Saya bertahan di lokasi ini, sebab memiliki lahan pertanian yang diwariskan orangtua, meski luasnya tidak seberapa, tapi lumayan untuk sekedar membiayai kehidupan keluarga dari hasil pertanian ini,” tuturnya.

Piterson berharap, Pemerintah Pusat melalui Kementrian Tenaga Kerja dan Transmigrasi serta Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT bisa memperhatikan kelangsungan hidup dan nasib warga Translok, khususnya yang masih bertahan di lokasi ini. “Sayang, bila uang negara yang sudah dikeluarkan untuk pembangunan Translok ini tidak memberikan manfaat, padahal lokasi ini sudah dibangun dengan sangat bagus dan fasilitasnya pun awalnya sangat lengkap,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Komentar