Opa Tami, Saksi Hidup Era Orde Baru dan Kini

101

SENIN, 3 APRIL 2017

JAYAPURA — Lebih dari 46 tahun merantau ke Tanah Papua, mampu hidup berbekal keahlian perbaikan atau servis jam tangan. Tak ada sedikit pun niatnya untuk berubah haluan dari usaha jual jasa servis itu yang hingga kini tetap menjadi tumpuan hidup keluarganya. Ia juga senang hidup di zaman Orde Baru saat itu.

Mustami sedang memperbaiki jam tangan di tempat usahanya.

Mustami, pria paruh baya kelahiran Enrekang, Sulawesi Selatan ini, sejak tahun 1971 lalu berkunjung ke Irian Barat (kini Papua) dengan dua bakat yaitu bakat seni musik dan bakat perbaikan jam tangan. Kedua bakat inilah yang harus ia pilih untuk meniti karir guna menafkahi dirinya.

Piawai memainkan alat musik gitar bas ia dapat saat berada di Makassar tahun 1967 hingga 1968. Saat hijrah ke Irian Jaya dirinya masih harus berdaptasi dengan situasi yang ada pada saat itu. Sementara beradaptasi dan mengisi kekosongan, dirinya pun membuka lapak servis jam di emperan toko sepanjang Jalan Cenderawasih (kini Jalan Ahmad Yani).

Ia mengaku zaman dulu dengan saat ini perbedaannya jauh sekali. Kalau dulu, kata dia, di kota ini tak banyak kriminal dan demo-demo seperti sekarang. Kendaaraan pun masih bisa dihitung dengan jari yang berlalu lalang di kota.

“Memang dulu trada (tidak ada) aman sekali, kita mau ke mana saja, aman. Bukan zaman sekarang. Memang enak sekali di zaman Orde Baru. Makanya kalau ada live musik itu saja hiburan kami,” kata Tami, sapaan akrabnya saat ditemui Cendana News, Senin (3/4/2017).

Setelah beberapa tahun, ia pun pindah ke Pasar Abe (kini Polsek Abepura), selain nyambi jualan dan servis jam tangan, dirinya membuka kios kecil-kecilan. Nah, kios ini juga satu nilai tambah baginya untuk memenuhi  kebutuhan sehari-hari juga uang makan.

“Kios saya saja setiap bulan tua bisa untung empat ribu rupiah, kalau bulan tua dapat Rp15 ribu. Syukur Tuhan tak berikan saya kekayaan, karena kalau kaya mungkin saya tak hidup lagi, karena angkatan saya di pasar semua sudah meninggal,” tuturnya.

Kehidupan di kepemimpinan Soeharto kala itu, ia tak terlalu kerja ekstra, karena ekonomi saat itu seperti harga barang-barang masih murah sekali, seperti harga emas (logam mulia) saat itu seribu rupiah per gramnya. Setahun hingga dua tahun setelahnya, pada tahun 1973 ia telah mempunyai banyak teman, kenalan serta relasi.

Ia sempat vakum tak berjualan dan servis jam tangan milik lantaran dapat tawaran bermain musik di Night Club Cenderawasih yang kini tempat tersebut menjadi kantor Ajudan Jenderal Kodam (Ajendam) XVII Cenderawasih. Kala itu di tahun yang sama dirinya dipanggil karena kepiawaiannya memainkan alat musik gitar bass.

“Kadang usaha saya itu dijaga oleh adik saya, tapi kalau servis jam saya tak aktif. Karena saya sudah di Night Club Cenderawasih. Saat itu saya digaji Rp15 ribu setiap bulannya,” tutur pria 68 tahun itu.

Pria paruh baya yang tak suka meminum minuman beralkohol itu memiliki sejarah cukup banyak, dimana sejak duduk di bangku SMP semasa di Makassar ia telah mengenal siapa itu Pance Pondaag, Ricky Hay, termasuk grub band legenda ‘Black Brother’ yang mayoritas sahabat karibnya saat mereka di Papua kala itu.

Pernah dirinya ditemui sesorang untuk dimintai nomor telepon selulernya, lantaran seorang pemain drum Pance Pondaag bernama Kiky mencarinya.

“Bapak dulu main band, ya? Terus saya diberikan nomornya Kiky. Terus saya telepon Kiky dan dapat kabar kalau dia sakit berat karena narkoba. Saya dengar begitu, langsung loyo, karena barang begitu kan nanti bisa bikin rusak tubuh,” kata kakek dari 9 orang cucu itu.

Tahun 2012 lalu, dirinya putuskan keluar dari band Cenderawasih dan memutuskan untuk tetap fokus servis dan menjual jam tangan dengan alasan gaji yang dibayar saat bermain band tak mencukupi kebutuhan keluarga, karena zaman telah berubah kebutuhan hidup cukup berat.

“Karena saya hanya dibayar kadang dibayar Rp300-400 ribu. Saya sudah sering mengeluh, dulu memang sering dikasih Rp100-150 ribu, makanya dinaikkan. Terakhir saya dipanggil tahun 2016 kemarin hibur tentara di Kodam Cenderawasih secara gratis saat ada pameran alutsista,” tuturnya.

Mustami sedang melayani konsumen.

Kini, pria paruh baya itu masih tetap menjual dan servis jam di emperan toko ruas jalan Abepura. Dari pengalaman itulah dirinya terus mensyukuri rezeki yang didapat dan ia menilai untuk menjadi orang disayangi keluarga di dunia ini cukup menikmati  hidup yang ada. Tak memburu harta dengan penuh emosi, karena ujungnya ia akan mendapat hal negatif dari hal itu.

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta

Komentar