Para Guru SDN Kolit di Sikka, Berharap Gedung Baru

41

SABTU, 8 APRIL 2017

MAUMERE — Sebanyak 5 orang guru honor komite yang digaji sebesar Rp100 ribu sebulan, berharap agar Dinas Pendidikan dan Kepemudaan Kabupaten Sikka, segera membangun Gedung Sekolah SDN Kolit yang selama ini hanya berupa gedung sekolah darurat.

SDN Kolit masih berlantai tanah dan berdinding bambu

Keinginan ini tentu beralasan, karena sejak didirikan dengan status SD Satu Atap Kolit pada 2013 hingga menjadi Sekolah Definitif SD Negeri Kolit di 2014, para murid masih belajar di gedung yang berlantai tanah dengan dinding bambu belah. Demikian disampaikan Lasarus Pala, S.Pd., Guru SDN Kolit, Desa Ojang, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, saat ditemui Cendana News di sekolahnya, Sabtu (8/4/2017).

Menurut Lasarus, tiga ruang kelas masih menggunakan bangunan darurat yang dibangun orangtua murid dengan luas sekitar 12 meter persegi, sementara sebuah ruang kelas harus menggunakan bangunan Balai Desa dan UPT milik Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi NTT. “Kami terpaksa melakukan kegiatan belajar mengajar di ruang kelas seadanya, sebab bangunan sekolah yang dibangun Dinas Pendidikan dan Kepemudaan Kabupaten Sikka tidak kunjung selesai sejak 2016,” ungkapnya.

Murid kelas 3, 4 dan 5, terang Lasarus, melaksanakan kegiatan belajar mengajar di bangunan berdinding bamboo, sementara Kelas 2 menempati Balai Desa, sedangkan Kelas 6 dan Kantor Kepala Sekolah dan ruang guru harus menggunakan gedung milik UPT Dinas Tenaga Kerja danTransmigrasi Provinsi NTT yang dibiarkan terlantar.

Hal senada juga disampaikan Diana Pisesa Bahar, yang mengajar selama 5 tahun di SDN Kolit, Emanuela Vinata yang juga 5 tahun mengajar, Helena Heling setahun mengajar serta Fransiska Ade Arini yang baru mengajar selama 3 bulan di SDN Kolit. Kelima guru honor ini merupakan para guru yang setia mengajar di sekolah ini dan mencurahkan tenaga dan pikiran untuk membantu mencerdaskan anak-anak didik yang orang tuanya hanya berprofesi petani miskin. “Sebagai guru kami kasihan melihat anak-anak didik harus belajar di sekolah dengan fasilitas terbatas, meski mereka tidak mempersoalkannya,” tutur Helena.

Kelima Guru Honorer SDN Kolit berpose bersama para murid di depan Kapela Santo Antonius dari Padua di Dusun Kolit.

Disebutkan Helena, sekolah yang berjarak sekitar 95 kilometer arah timur Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka ini menampung 48 murid yang berasal dari Dusun Kolit dan Dusun Lewomudat yang berjarak sekitar 2 kilometer arah utara sekolah ini. “Sekolah ini belum memiliki kelas enam, sebab baru lima tahun didirikan dan kami harap pada 2017 ini Pemerintah sudah bisa membangun gedung sekolah dengan enam ruang kelas, sehingga kegiatan belajar mengajar lebih nyaman,” pintanya.

Arini, guru asal Koting yang berada di sebelah barat Kota Maumere dan berjarak sekitar 120 kilometer dari sekolah ini mengaku jauh-jauh ke kampung ini untuk menjadi guru, meski cuma digaji Rp100 ribu sebulan, sebab salah seorang anggota keluarganya menetap di Dusun Kolit. “Kalau bisa, Pemerintah memperhatikan sekolah kami dan nasib para guru, sebab saat ini saja kami masih kekurangan meja, lemari buku dan juga papan tulis,” terangnya.

Apa yang disampaikan kelima guru honor komite ini, tentunya juga merupakan keinginan Bernadus Buto, Sang Kepala Sekolah yang menetap di Dusun Ojang, yang siang itu tak sempat ditemui Cendana News, di lokasi sekolah.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Komentar