Pasar Wuring, Ramai Pembeli di Saat Senja

93

SABTU, 8 APRIL 2017

MAUMERE — Terletak di Kampung Nelayan Wuring, Kelurahan Wolomarang, Kecamatan Alok Barat, Kabupaten Sikka, Pasar Wuring merupakan salah satu pasar tradisional yang berada di Kota Maumere, ibukota Kabupaten Sikka yang selalu ramai disambangi setiap sore.

Warga Wuring yang menjual ikan hasil tangkapan nekayan di daerahnya.

Pasar yang hanya berjarak 5 kilometer arah barat Maumere, ini hanya buka sejak pukul 15.00 WITA hingga pukul 21.00 WITA saban hari, yang awalnya dikhususkan bagi pembeli di Kelurahan Wolomarang dan sekitarnya. Namun, semakin hari pasar senja yang terletak persis di pinggir laut di belakang perumahan terapung warga Kampung Wuring, kian ramai disambangi pembeli yang berdatangan dari berbagai wilayah di Kota Maumere. “Saya setiap sore suka berbelanja di tempat ini, sebab untuk berjualan makanan di pagi hari dan harga jual ikan dan sayuran di tempat ini sangat terjangkau,” ujar Maria W. Parera.

Mery, sapaannya, yang menetap di Kelurahan Iligetang ini kepada Cendana News, Sabtu (8/4/2017) mengaku belanja di pasar tradisional Wuring sangat nyaman dan aman. Selain itu, sayuran dan ikan yang dijual di pasar ini pun segar-segar dan harganya bisa ditawar. “Pasarnya juga bersih dan aman dan pengunjung hanya bayar uang parkir dua ribu rupiah saja, baik sepeda motor maupun mobil,” paparnya.

Lukman, salah seorang pedagang di pasar, ini menyebut, para penjual sebagian besar berasal dari Kampung Wuring, sementara pedagang sayuran dan aneka hasil kebun banyak yang datang dari Wolomarang yang menetap di bagian perbukitan dan berprofesi sebagai petani. “Kalau yang jual ikan semuanya asli orang Wuring, dan mereka juga selain ikan juga menjual pakaian bekas dan kue dan aneka makanan lainnya,” ungkapnya.

Menurut Lukman, pengunjung pasar akan bertambah ramai bila menjelang pukul 17.00-18.00 WITA, sebab banyak pegawai negeri yang pulang kerja dan mampir berbelanja di pasar ini, khususnya membeli ikan segar. “Ikan yang dijual di sini segar, sebab didapat dari nelayan Wuring yang baru pulang melaut, sehingga banyak pembeli yang suka membeli ikan saat sore hingga malam hari,’ terangnya.

Pasar tradisional ini berada persis di pinggir tanggul penahan gelombang yang dibangun Pemerintah, dan berada di belakang perumahan warga, di mana para penjual akan menggelar dagangan di kedua sisi jalan semen. Selain itu, banyak juga penjual pakaian bekas di tempat ini yang menggelar dagangan di bangunan semi permanen beratap seng di sebelah selatan pasar serta belasan pedagang hasil kebun yang menggelar dagangan di bale-bale bambu.

Di bagian barat pasar ini, terlihat sampah-sampah menumpuk di ujung jalan yang dijadikan tempat sementara pembuangan sampah, yang akan diangkut saat pagi oleh petugas sampah dari Dinas Lingkungan Hidup, sehingga areal pasar tetap bersih.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Komentar