Penambahan BRT Koridor V dan VI Perlu Dikaji Kembali

67

SELASA, 4 APRIL 2017 
SEMARANG — Penambahan jalur Bus Rapid Transit (BRT) Koridor V (Mateseh-PRPP) dan VI (Undip-Unnes) masih menimbulkan polemik. Menurut pakar transportasi Unika Soegijapranata, Djoko Setijowarno, masih banyak aspek yang harus dibenahi saat jalur tersebut diberlakukan.

 Halte BRT di Jalan Pemuda.

Saat ditemui Cendana News (4/4/2017) dirinya menjelaskan, perlu adanya uji coba driver untuk mengenali jalur sebab di jalan yang akan dilalui masih banyak rintangan kabel dan dahan yang menjulur ke jalan, selain itu trotoar untuk mencapai halte juga belum dibangun.

“Kebanyakan pengguna BRT akan kesulitan untuk naik karena tidak adanya trotoar, padahal kebanyakan dari mereka adalah pejalan kaki,” ungkapnya.

Selain pelaksanaan penambahan koridor, pemerintah juga diharapkan untuk lebih serius mengawasi sebab selama ini diakui antara pelaksanaan dan pengawasan berjalan tidak seimbang. Banyak keluhan penumpang terkait kondisi knalpot BRT yang mengeluarkan asap hitam sehingga mengganggu pengguna jalan lainnya juga masih dibiarkan begitu saja.

Konsep pelaksanaannya pun tidak melibatkan pemilik angkutan umum sehingga menimbulkan kesan kurang mengakomodir. Dirinya menganggap jika saat ini stigma masyarakat masih kuat bahwa transportasi tidak akan berkembang selama masih dipegang oleh PNS

Sementara itu, Ketua DPRD Kota Semarang, Agung Budi Margono, menambahkan, perlunya fasilitas penunjang keberadaan BRT koridor V dan VI karena dirinya melihat sampai saat ini masih minim, selain trotoar juga perlu penambahan jumlah halte dan armada yang beroperasi agar masyarakat bisa nyaman ketika naik BRT

“Karena saat ini masih dalam keadaan pra kondisi kami memaklumi, tetapi ke depan perlu ada penambahan fasilitas penunjang,” ujar Agung.

Ketika disinggung tentang keberadaan sopir angkot di jalur tersebut, Agung membeberkan, bahwa Dishub perlu melakukan studi kelayakan dalam penambahan koridor tersebut untuk memastikan bahwa sopir angkot tidak terlalu terkena dampak yang besar.

Karena itu dipandang perlu bagi pemeritah untuk memberikan solusi yaitu membuat alternatif jalur baru bagi para sopir angkot seperti Ngesrep-Undip sebab pada dasarnya sopir angkot tersebut juga butuh penghasilan.

Hal ini harus dilakukan agar jangan sampai keberadaan BRT malah dianggap sebagai ancaman. Karena itu dirinya tetap mendukung pelaksanaan BRT tetapi perhatian terhadap pengusaha angkot juga tidak boleh dilupakan sebab mereka sudah lama berinvestasi dengan membeli kendaraan untuk mencari penghidupan selama bertahun-tahun.

 Pengamat Transportasi Unika, Djoko Setijowarno.

“Semua harus dikomunikasikan dengan baik agar BRT dengan sopir angkot tidak terlalu terganggu,” tambahnya.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Komentar