Pencarian Korban Longsor Ponorogo, Terkendala Sulitnya Medan

81

MINGGU, 2 APRIL 2017

JAKARTA — Proses evakuasi dan pencarian puluhan korban yang diduga masih tertimbun tanah longsor di Dukuh Tangkil dan Kajaran, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Kabupaten Ponorogo, Jawa Timur, hingga kini masih terus berlangsung. Sejauh ini, dipastikan 2 orang tewas dan 26 orang lainnya masih dinyatakan hilang.

Sutopo Purwo Nugroho

Demikian pernyataan resmi yang disampaikan Kepala Kepala Pusat Data dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, kepada wartawan pada saat menggelar pers di Kantor Pusat BNPB, Jalan Pramuka, Matraman, Jakarta Timur, Minggu (2/4/2017).

Menurut Sutopo, beberapa kendala dalam melakukan upaya evakuasi dan proses pencarian puluhan korban yang diduga masih tertimbun tanah longsor, salah satunya adalah sulitnya akses jalan dan medan yang terjal, sebagaimana dialami oleh Tim SAR Gabungan, saat hendak mencapai lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP).

“Lokasi menuju TKP musibah tanah longsor di Desa Banaran, Kabupaten Ponorogo sulit dijangkau, kendalanya  adalah faktor medan yang terjal, jalannya sempit, hanya bisa dilalui satu kendaraan besar atau mobil secara bergantian, ditambah banyaknya warga masyarakat yang berdatangan di lokasi hanya sekedar melihat dan menyaksikan dari dekat musibah tanah longsor,  sehingga jalannya menjadi macet,” kata Sutopo.

Selain kendala medan, tidak adanya sinyal komunikasi telepon seluler GSM dan juga gangguan komunikasi radio, sehingga untuk sementara hingga saat ini jalur komunikasi dan informasi hanya bisa dilakukan dengan menggunakan telepon satelit.

Sutopo juga mengatakan, proses  evakuasi dan pencarian puluhan korban yang diduga tertimbun tanah longsor tadi siang sempat dihentikan untuk sementara. Salah satunya karena di sekitar lokasi TKP tanah longsor sempat diguyur hujan deras, sehingga menyulitkan dan mungkin juga bisa membahayakan keselamatan personel Tim SAR Gabungan, bila ada longsor susulan.

Jurnalis: Eko Sulestyono/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Eko Sulestyono

Komentar