Pengusaha Jual Beli Pisang Terhambat Perputaran Uang

151

SENIN, 3 APRIL 2017

LAMPUNG — Komoditas pertanian jenis pisang dari Pulau Prajurit ke Pulau Sumatera serta beberapa pulau lain di antaranya Pulau Kandang Balak, Pulau Kandang Lunik dan Pulau Rimau Balak menjadi sektor usaha yang ditekuni oleh masyarakat di wilayah tersebut sebagai sumber penghasilan lain selain sebagai nelayan.

Hidup Abdulah

Salah satu pengusaha jual beli pisang di Desa Bakauheni, Hidup Abdulah (66) mengungkapkan, sebagian masyarakat di Pulau Prajurit dan Pulau Kandang Balak serta Kandang Lunik rata-rata merupakan petani dengan sistem “umbulan” atau huma yang dominan menanam jagung dan pisang.

Tingginya nilai ekonomis pisang saat ini, menurut Hidup Abdulah, membuat sebagian besar warga di pulau-pulau terluar tersebut menanam berbagai jenis pisang di antaranya pisang kepok, pisang ambon, pisang tanduk serta pisang sereh yang memiliki harga cukup baik. Dalam sekali pembelian, berbagai jenis tandan pisang Hidup Abdulah rata-rata 800 tandan per tiga hari dengan berat mencapai 8 ton.

“Sebagian besar petani pisang di beberapa pulau kecil di Selat Sunda saya beli dengan sistem mingguan sehingga warga memperoleh tambahan penghasilan setiap minggu,” terang Hidup Abdulah, salah satu pengepul pisang di Kecamatan Bakauheni saat dikonfirmasi Cendana News di pusat pengepulan pisang Bakauheni, Senin (3/4/2017).

Dalam sebulan, Hidup Abdulah mengaku mengirim sebanyak 16 truk komoditas pisang ke wilayah Provinsi Banten dan Jakarta di beberapa lapak yang sudah bekerjasama dengan dirinya. Satu truk dengan jumlah sekitar 800 tandan dan berat 8 ton dengan modal 18 juta sekali pengiriman dengan jumlah pengiriman seminggu dikirim 2-3 kali. Modal sebesar Rp 18 juta tersebut dipergunakan untuk biaya operasional membayar para tukang angkut, pengemudi, dan biaya transportasi kapal.

Berbagai jenis pisang di antaranya pisang sereh, pisang tanduk dan pisang ambon dibeli dari petani dari harga Rp12 ribu, Rp20 ribu hingga Rp45 ribu. Sementara di tingkat pengepul di Jakarta bisa mencapai Rp15 ribu hingga Rp60 ribu per tandan. Meski demikian, ia mengaku, perputaran uang dari bisnis jual beli pisang tersebut saat ini cukup besar dengan jumlah mencapai puluhan juta bahkan ratusan juta.

Di beberapa lapak yang menjadi langganan di Jakarta, Hidup Abdulah mengungkapkan, proses pengiriman pisang dilakukan sebanyak 800 tandan untuk sebanyak tiga lapak dengan sistem pembayaran bertahap sehingga bisnis jual beli pisang diakuinya harus membutuhkan modal cukup besar.

“Problem kami memang perputaran uang yang tidak lancar karena jarang kami mengirim pisang dengan sistem pesanan namun pembayaran dengan cara bertahap,” ungkapnya.

Sistem pembayaran dengan transfer tersebut, ungkapnya, dilakukan selang satu pekan sebab sebagian lapak masih harus menjual ke sejumlah pedagang buah, pembuat keripik serta pembuat kue. Kendala uang yang masih tertahan di beberapa lapak dengan perputaran uang yang masih terhambat tidak membuatnya putus asa.

Ia bahkan menyebut, perputaran uang selama satu bulan yang harus dikeluarkannya selama satu bulan bisa mencapai puluhan juta rupiah, meski proses uang yang diperolehnya cukup lama bahkan bisa mencapai satu minggu baru bisa ditransfer. Meski demikian, ia mengaku, harus tetap membeli pisang dari petani dengan sistem kontan dan tidak bisa dihutang sementara uang dari pengepul langganan di Jakarta dibayar dengan sistem kredit.

“Perputaran uang memang sedang tidak lancar, namun saya tetap bertahan menjadi pebisnis pisang sejak puluhan tahun silam. Hingga kini masih saya tekuni dan dilanjutkan anak saya,” ungkap Hidup Abdulah.

Pedagang pisang sedang merapikan dagangannya.

Meski perputaran uang bisnis jual beli pisang sedang lambat, namun ia mengaku, dengan masih banyaknya permintaan komoditas pisang masih cukup diminati oleh pedagang pisang di sejumlah pasar tradisional. Selain itu, permintaan akan pisang juga masih cukup tinggi dari pengusaha kerajinan keripik.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar