Penyewaan Mesin Pemanen Padi Menjamur Buruh Tani Mulai Tergeser

502

RABU, 5 APRIL 2017

LAMPUNG — Teknologi pertanian yang memberikan dampak positif dan negatif di tengah-tengah masyarakat. Positifnya, proses penanaman hingga pemanen lebih cepat dan berbagai keunggulan lain. Sementara untuk negatifnya, buruh tani yang menggantung hidupnya dari usaha tersebut mulai berpikir untuk mencari pekerjaan lainnya.

Proses pemanenan padi menggunakan mesin

Salah satu petani di Desa Sumbernadi Kecamatan Ketapang Kabupaten Lampung Selatan, Junaidi (40) menyebutkan, penggunaan mesin pemanen padi (combine harvester) yang disewakan oleh warga setempat mulai mendapat perhatian petani. Dalam dua masa panen terakhir, sebagian besar lahan seluas satu hektar tersebut memanfaatkan teknologi tersebut.

“Selain lebih cepat, penggunaan mesin tersebut memperoleh hasil panen padi yang lebih bersih dan tidak banyak yang terbuang dibandingkan dengan sistem tradisional,” sebutnya kepada Cendana News, Rabu (5/4/2017).

Junaidi mengakui, alasan utamanya memilih menggunakan mesin tersebut di antaranya peningkatan produktifitas. Selain itu, lokasi lahan yang dimilikinya sangat cocok menggunakan mesin alat dan mesin pertanian (alsintan). Sejak masa tanam dengan menggunakan mesin penanam padi (rice transplanter) dan juga mesin pemanen padi (combine harvester) atau mesin perontok padi. Sebab lahan yang datar dan cukup luas membuat penggunaan mesin perontok padi mekanis lebih dirasa menguntungkan.

“Kalau mesin perontok manual atau menggunakan tenaga manusia sudah saya bandingkan dalam satu hektar tingkat kehilangan gabah selama masa pemanenan mencapai 100 kilogram akibat tercecer, tidak sempurna proses perontokan serta tentunya lebih lama,”ungkap Junaidi.

Proses pemanenan menggunakan mesin combine harvester

Menyikapi harga yang cukup mahal untuk pembelian mesin perontok padi mekanis, petani lebih memilih untuk menyewa, meski biaya untuk satu hektar mencapai Rp2,5 juta per hektar.

“Meski masih cukup tinggi harga sewa namun efesiensi waktu proses pemanenan cukup terasa dengan hanya membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk lahan satu hektar sementara untuk menggunakan tenaga manual membutuhkan waktu sekitar tiga hari,” sebutnya.

Harga sewa tersebut diakuinya cukup sebanding dengan hasil yang diperoleh meski ia mengakui masih harus membayar tenaga kerja untuk proses pengangkutan atau dikenal dengan “ngunjal” dari lokasi sawah ke tepi jalan untuk dibawa pulang ke rumah.

Sarmijo, buruh tani yang beralih jadi buruh angkut

Namun sisi lain dari penggunaan tersebut, berdampak pada penggunaan tenaga kerja. Pekerjaan yang mungkin masih dapat dilakukan buruh tani di antaranya sebagai buruh angkut atau pengunjal.

Seorang buruh tani, Sarmijo menyebutkan, sebelum ada mesin pertanian mulai dari traktor dan mesin penanam, dirinya yang tidak memiliki lahan sawah bisa bekerja dengan mencangkul sawah dan juga saat memanen bisa ikut membantu melakukan proses pemanenan.

Meski demikian saat ini masih bisa menjadi tenaga pengunjal dengan memindahkan gabah dalam karung seberat rata rata 50 kilogram ke tepi jalan dengan upah sekitar Rp3.000 per karung dan jarak yang lebih jauh bisa dengan upah Rp5.000 per karung. Sekitar 100 karung diakuinya diunjal seorang diri sementara rekan lainnya menggunakan kendaraan roda dua.

“Saat penggunaan mesin perontok padi digunakan hanya pekerjaan ini yang bisa kami lakukan menjadi buruh angkut karena semua sudah dikerjakan dengan mesin mulai dari mengolah tanah, tanam hingga panen,” terang Sarmijo.

Meski penggunaan mesin mesin untuk proses pengolahan tanah, penanaman, pemanenan, Sarmijo mengaku proses tersebut sudah umum dilakukan. Sebagian warga yang tak lagi bisa menjadi buruh tanam kini mulai beralih menjadi tenaga kerja di bidang lain seperti buruh penanam, pembersih lahan dan memanen jagung bagi para perempuan.

“Sementara bagi kaum laki laki masih bisa menjadi tenaga pengangkut atau dikenal dengan ojek jagung sebab pergeseran penggunaan tenaga manusia menjadi tenaga mesin membuat penggunaan tenaga kerja mulai tergeser pelan pelan,” sebutnya.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Komentar