Petral Bubar, Pertamina Hemat 6,9 Triliun Rupiah

36

JUMAT, 7 APRIL 2017

JAKARTA — Pemerintah Indonesia melalui PT. Pertamina (Persero) secara resmi telah memutuskan membubarkan dan menutup perusahaan Pertamina Energy Trading Limited (Petral). Keputusan Pemerintah membubarkan Petral  untuk selama-lamanya tersebut terbukti cukup menguntungkan, salah satunya penghematan pembelian impor minyak BBM dari luar negeri.

Daniel Purba (kiri), VP ISC PT. Pertamina (Persero).

Petral selama ini memang dikenal merupakan salah satu anak perusahaan milik Pertamina yang ditugaskan menangani masalah terkait impor Bahan Bakar Minyak (BBM) untuk Pertamina. Petral bisa dibilang merupakan salah satu perusahaan Pertamina yang bermarkas di Singapura.

Sebagai pengganti Petral, Pertamina kemudian membentuk Integrated Supply Chain (ISC) untuk menangani terkait kegiatan impor BBM dari luar negeri untuk Pertamina. Dengan bubarnya Petral dan terbentuknya ISC, maka Pertamina mengklaim bisa melakukan penghematan atau efisiensi dari impor BBM lebih dari 1 triliun rupiah.

Banyak faktor yang mempengaruhi mengapa impor BBM untuk Pertamina menjadi hemat dan efisien selain faktor dibubarkannya Petral. Sekarang prosedur pembelian atau impor BBM menjadi lebih transparan dan efisien . Kemudian pengolahan  impor BBM dari luar negeri yang masih berupa minyak mentah dapat diolah atau “diblending” di dalam negeri.

“Setelah Petral dibubarkan, impor BBM kita jauh lebih hemat dan efisien, dalam waktu relatif singkat kita berhasil melakukan penghematan atau efisiensi sekitar 100 juta Dolar Amerika (USD) atau sekitar 1,3 triliun rupiah dalam kurun waktu 1 tahun,” ujar Vice President Intregated Supply Chain (ISC) PT. Pertamina (Persero) Daniel Purba saat jumpa pers di Kantior Pusat Pertamina, Gambir, Jakarta Pusat, Jumat (7/4/2017).

Daniel Purba juga menjelaskan, diiperkirkan dalam kurun waktu antara 2015 hingga 2017, penghematan pengolahan BBM impor minyak mentah tersebut diperkirakan bisa mencapai sekitar 523 juta USD atau sekitar 6,9 triliun rupiah. Menurut Daniel Purba itu belum termasuk efisiensi dan penghematan dari sektor lainnya yang telah dilakukan oleh Pertamina sebelumnya.

Jurnalis: Eko Sulestyono/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Eko Sulestyono

Komentar