Pinjaman Lunak, Percepat Peningkatan Usaha Jahit Rumahan

163

SELASA, 4 APRIL 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Bermodal mesin jahit seadanya, Islamiyan (51), warga Dusun  Sribitan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, membuka usaha jahit pakaian di rumahnya. Setiap kali ada order yang mengharuskan memasang kancing baju dan obras, Islamiyan harus membawanya ke tukang jahit lain, karena belum memiliki mesinnya.

Islamiyan

Islamiyan mulai membuka jasa jahit pakaian sejak 2011, lalu. Ibu asal Surabaya, Jawa Timur, itu memang sejak muda hobi menjahit. Baju dan celana berbagai model dijahitnya dengan telaten. Selain hobi, usaha itu juga dilakukan untuk menambah penghasilan. Namun, keterbatasan alat yang dimiliki, membuatnya harus mengeluarkan biaya tambahan. Bahkan, juga harus pergi ke kota untuk mencari penjahit lain yang mesinnya lebih lengkap.

“Waktu itu, saya harus mengobras, mengitik-itik atau memasang kancing baju ke tukang jahit lain, karena belum memiliki mesinnya. Biasanya itu saya harus ke daerah Madukismo atau ke Wirobrajan, Kota Yogyakarta. Tapi, lebih sering ke Wirobrajan, karena di Madukismo kurang lengkap dan sering tutup,” katanya.

Usaha jahit pakaian dengan keterbatasan alat, dilakoni Islamiyan dengan sabar, tekun dan berhemat. Sebab, untuk menambah satu mesin jahit saja baginya tidak mudah. Harganya mahal, dan tambahan modal pun tak ada. Namun, empat tahun kemudian, 2015, Islamiyan mulai mendengar ada program Simpan Pinjam Tabur Puja Yayasan Damandiri, yang dijalankan oleh Posdaya Kanthil Kuning, di dusunnya.

Mengetahui kemudahan proses, keringanan persyaratan maupun cicilannya, Islamiyan pun mengajukan pinjaman sebesar Rp2 juta. Uang itu digunakan untuk membeli mesin pemasang kancing baju. Sejak itu, Islamiyan tak harus ke tukang jahit lain untuk memasang kancing baju jahitan pelanggannya. “Tapi, saya masih tetap harus ke tukang jahit lain untuk mengobras dan mengitik-itik. Karena dua alat itu saya juga belum punya,” katanya.

Seiring waktu berjalan, Islamiyan yang tekun berusaha, selalu menyisihkan hasil dari menjahit untuk membayar angsuran hingga lunas. Dan, di tahun kedua, ia mengajukan pinjaman lagi sebesar Rp3 juta, untuk membeli mesin obras dan itik-itik. “Maka, saya tidak perlu lagi jauh-jauh ke tukang jahit lain. Bahkan, setiap pesanan bisa cepat diselesaikan dan pelanggan tidak perlu lama menunggu. Sehari saja sudah jadi. Tidak seperti dulu, harus menunggu lama hingga beberapa hari,” katanya.

Dengan kelengkapan mesin jahit yang dimiliki, biaya produksi menjadi berkurang, dan proses kerjanya pun semakin efektif dan cepat, dan tentu saja berimbas kepada bertambahnya pelanggan dan penghasilannya. “Sekarang, dalam satu hari saya bisa mengerjakan dua pesanan. Kalau dulu, satu saja belum tentu selesai. Kalau pas ramai, satu minggu bisa 20 pesanan. Untuk penghasilan, satu pesanan itu biasanya mendapat Rp80 ribu. Tinggal mengkalikan saja dengan jumlah pesanan,” katanya.

Bagi Islamiyan, keberadaan Simpan Pinjam Tabur Puja jelas sangat membantu dalam mengembangkan usaha. Tanpa ada bantuan modal, pengusaha kecil seperti dirinya tentu akan sulit berkembang. Apalagi, berada di pedesaan yang cukup jauh dari wilayah perkotaan. “Dari hasil menjahit ini, saya bisa menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Juga bisa membantu meringankan suami, karena suami saya sudah punya tanggungan pinjaman untuk cicilan rumah,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar