Sekolah Gembira, Pulihkan Kondisi Psikologis Anak Korban Longsor

68

KAMIS, 6 APRIL 2017

PONOROGO — Bencana tanah longsor yang terjadi di Dukuh Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung, Ponorogo pada Sabtu (1/4/2017) lalu membawa luka mendalam bagi para korban. Tidak terkecuali bagi anak-anak yang juga ikut menjadi korban. Bahkan, anak-anak ini kondisi psikologisnya sedikit terganggu, karena trauma dengan kejadian tanah longsor yang menimpa tempat tinggalnya.

Kondisi Sekolah Gembira.

Untuk mengurangi rasa trauma tersebut, ada puluhan relawan yang terdiri dari organisasi kepemudaan Indonesia Youth Dream dan Santri Tanggap Bencana (Santana) dari Pondok Pesantren SPMA Lamongan yang membangun Sekolah Gembira bagi anak-anak mulai dari PAUD hingga SD kelas 6.

Sekolah Gembira ini terletak di teras rumah milik Kepala Desa Banaran dan diikuti oleh 15 anak korban bencana. Setiap hari anak-anak ini diajari tema yang berbeda-beda namun selalu diselingi dengan permainan agar tidak jenuh. Jam belajar dimulai pukul 08.00-16.30 WIB.

Koordinator Santana, Zuli Dwi Prasetyo (35) saat ditemui menjelaskan, Sekolah Gembira ini berbeda dengan sekolah formal. Selain diisi dengan kegiatan yang bermanfaat juga harus yang menyenangkan untuk mengurangi rasa takut dan trauma untuk anak-anak korban bencana.

“Setiap pagi kami melakukan edukasi trauma healing kemudian dilanjutkan dengan Asupan Makanan Tambahan (AMT) biasanya susu dan buah, lanjut bermain sambil belajar, istirahat dan sore diisi dengan mengaji di mushola,” jelasnya kepada Cendana News di lokasi, Kamis (6/4/2017).

Koordinator Santana, Zuli.

Pemulihan kondisi trauma ini, lanjut Zuli, tidak bisa dilakukan sembarangan. Mengingat kondisi psikologis anak-anak terguncang akibat bencana. “Ada salah satu anak yang kehilangan adiknya, dia jadi pendiam dan penakut, kami dekati pelan-pelan akhirnya dia berani bicara kalau sedang memikirkan adiknya. Ini yang membuat kami harus memperhatikan dia lebih banyak,” ujarnya.

“Hari ini  kami mengambil tema hidup, kami bersama anak-anak mencari sampah bungkus makanan, diambil gambarnya dengan cara digunting dan ditempelkan di kertas untuk bahan cerita di depan kelas,” tuturnya.

Bahkan anak-anak yang seharusnya sekolah formal merasa ketakutan karena saat kejadian bencana, kebanyakan mereka sedang berada di sekolah dan langsung menyelamatkan diri sesuai dengan instruksi guru.

“Ada salah satu anak tidak mau sekolah katanya takut kena longsor dan lebih memilih disini. Kami yakinkan kalau bencana jangan sampai jadi penghalang mengejar cita-cita, sekolah itu wajib kalau tidak mau sekolah nanti mau jadi apa. Akhirnya anak tersebut paham dan mau sekolah,” tukasnya.

Relawan pengajar, Ayu.

Salah satu relawan pengajar asal Madiun, Ayu Wulandari, menambahkan, ini merupakan tugas pertamanya menjadi relawan pasca masuk ke dalam organisasi kepemudaan Indonesia. Di sini ia bertugas memberikan materi pendidikan yang berbeda setiap harinya.

“Kalau Santana lebih kepada agama, kalau kami ke pendidikannya,” tuturnya.

Menurut Ayu, ada pengalaman menarik saat menjadi pengajar. Saat mulai belajar, anak-anak meminta diajari menyanyi, tapi saat disuruh ganti menyanyi tidak mau.

“Bahkan saat pelajaran sedang berlangsung ada anak yang naik ke badan relawan, itu pengalaman lucu dan menarik buat saya,” pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti

Komentar