Tabur Puja Bebaskan Ni Dewi dari Belitan Rentenir

0
22

MINGGU, 2 APRIL 2017

SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — “Kukkuruyuuuuuk,” bunyi kokok ayam memecah kesunyian. Dinginnya udara pagi menemani Ni Dewi membuka warung dagangannya yang berada di pinggiran Danau Singkarak, Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Beberapa tandan kelapa muda berjejer di depan warungnya yang menjual berbagai ragam dagangan, mulai mie rebus, nasi goreng hingga lontong.

Kunjungan Cendana News ke Posdaya Gerbang Mas Muaro Paneh.

“Ni Dewi, bayar angsurannya!” kata penagih utang yang mengagetkan pemilik warung.

Sambil ngedumel dalam hati, wanita paruh baya itu memasukkan tangan ke dalam kantong celana dan merogoh beberapa lembar uang sepuluh ribu kemudian memberikan kepada penagih utang.

“Belum terbit matahari, sudah ditagih utang sama rentenir,” sungut Ni Dewi dalam hati.

Untuk kesekian kalinya, setiap pagi, yang datang pertama kali ke warungnya bukanlah pembeli, namun penagih utang dari “bank keliling” yang berseliweran di daerah tersebut. Ia harus membayar cicilan setiap hari dalam kurun waktu 40 hari harus lunas. Bunga yang tinggi hingga 50 persen dalam 40 hari terasa sangat memberatkan. Apalagi untuk pedagang kecil yang omzet per harinya di bawah Rp300 ribu.

Kunjungan Cendana News ke Posdaya X Koto Diateh.

“Untung jualan pun tersisa hanya untuk membayar utang,” keluhnya saat berbincang-bincang dengan sesama pedagang yang sedang membuka warung dagangan.

Selepas kepergian penagih utang, Ni Dewi larut dalam lamunan. Pikirannya berputar mencari cara untuk dapat mengembangkan usaha tanpa harus terlibat lagi dengan rentenir atau “bank keliling”. Terlintas dalam benaknya untuk mencoba meminjam kepada bank yang ada, namun ribetnya persyaratan membuatnya mengurungkan niat.

“Apa yang harus dijadikan agunan, apa nanti disetujui, berapa lama proses cairnya?” pertanyaan demi pertanyaan menggema dalam hati dan menambah murung raut wajah Ni Dewi, pagi itu. Ia pun mulai bertanya kepada sesama pedagang, dimana bagusnya untuk mendapatkan pinjaman yang mudah, tanpa agunan, bunga kecil, dan prosesnya cepat.

Karena rajin bertanya, akhirnya ia pun mendapatkan jawaban untuk memecahkan permasalahan yang dihadapi. Jawabannya ada di Tabur Puja (Tabungan dan Kredit Pundi Sejahtera) bagian dari Posdaya di bawah naungan Koperasi KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri.

“Syarat yang musti dilengkapi yakni KTP suami istri dan kartu keluarga,” sebut Yusnarlis (58) penanggung jawab Posdaya Dermaga, Sepuluh, Koto Singkarak, Kabupaten Solok.

Kunjungan Cendana News ke Posdaya Saniangbaka.

Tahap pertama, Ni Dewi mendapatkan pinjaman Rp2 juta dan dapat diangsur setiap minggu. Di tahun kedua, Ni Dewi mendapatkan pinjaman Rp3 juta dan meningkat setiap tahapnya. Dan sekarang pun, sudah masuk pinjaman ke-4.

“Alhamdulillah, berkat tabur puja, usaha saya kian berkembang, bahkan sudah bisa menabung. Hadirnya Tabur Puja di sini membebaskan saya dari belitan rentenir,” sebut Ni Dewi.

Inilah sekelumit cerita yang berangkat dari beberapa kali kunjungan Tim Cendana News ke sejumlah Posdaya yang ada di Kabupaten Solok, Sumatera Barat. Dalam mengembangkan usaha yang menjadi kendala utama pedagang kecil yakni permodalan. Hal ini juga dimanfaatkan oleh rentenir atau “bank keliling” untuk menjerat masyarakat kecil dengan pinjaman yang mudah dan cepat. Namun harus dikembalikan dalam jangka waktu 40 hari atau kurang dengan bunga mencapai 50 persen.

Beruntung di beberapa daerah yang terjangkau, Tabur Puja Posdaya mampu menekan perkembangan rentenir yang sudah menjadi “rahasia umum” dan dapat mengangkat kualitas hidup masyarakat. Hal ini jugalah yang menggerakkan Supervisor Damandiri Area V Wilayah Sumatera Barat untuk bekerja sama dengan Koperasi KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok.

“Karena semua orang berhak mendapat kesempatan untuk meraih masa depan yang lebih baik,”sebut Edi Suandi, Supervisor Damandiri Area V Wilayah Sumatera Barat dalam beberapa kesempatan.

Jurnalis: ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: Tabur Puja Solok

Komentar