Tabur Puja, Beri Jalan Suwarti Mengubah Nasib

87

SABTU, 8 APRIL 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Di tengah kondisi hamil tua, Suwarti (40), warga Dusun Kalipucang, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, nampak masih cekatan membuat kerajinan bambu. Istri tukang becak yang tengah mengandung anak ketiga itu seolah tak terkendala kondisi perutnya yang semakin membesar.

Suwarti, membelah bambu yang akan dianyam menjadi keranjang.

Dengan penuh ketekunan, setiap hari Suwarti membuat keranjang anyaman bambu untuk menambah penghasilan keluarga. Ya, pendapatan suaminya sebagai tukang becak yang tak menentu memang tak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Padahal, Suwarti memiliki tanggungan 2 orang anak yang mulai memasuki usia sekolah, serta 1 calon anak yang masih dalam kandungan. Sebagai wanita desa yang hanya lulusan SMP, Suwarti tak memiliki banyak keahlian, selain membuat kreneng keranjang dari anyaman bambu.

Suwarti mengaku sudah mulai mencari tambahan penghasilan dengan membuat anyaman bambu sejak masih muda. Ia biasa membuat keranjang anyaman itu sejak pagi hingga sore hari, saat memiliki waktu luang di sela kesibukannya sebagai ibu rumah tangga. Sayangnya, meski melakukan pekerjaannya dengan tekun, hasil yang didapatkan dari menganyam bambu ternyata tak seberapa. Bagaimana, tidak? Suwarti hanya mendapat penghasilan sekitar Rp14 ribu setiap harinya. Hasil itu didapat dari menjual sekitar 15-20 anyaman bambu, setiap hari dengan harga satunya sekitar Rp700, saja.

Untuk menyambung kebutuhan keluarga, Suwarti tak jarang harus meminjam uang kepada tetangga atau sanak saudara. Beruntung, adanya program Simpan Pinjam Tabur Puja di dusunnya, memberinya kesempatan untuk meminjam modal usaha. Ia pun memanfaatkan kesempatan itu untuk mengajukan pinjaman sebesar Rp2 juta, pada 2014, lalu. Selain untuk menyambung hidup, modal itu digunakan untuk memodali usahanya membuat kerajinan bambu. “Ya, untuk tambahan modal usaha. Untuk beli bambu, dan alat-alatnya, seperti pisau, arit, gergaji, bendo, dan sebagainya,” katanya.

Suwarti dan tiga ekor kambing, yang menjadi harapannya.

Setelah mampu melunasi cicilan di tahun pertama, Suwarti kembali mengajukan pinjaman modal usaha di tahun berikutnya. Terakhir ini, ia memberanikan diri meminjam modal usaha sebesar Rp4 juta. Uang itu digunakan untuk mencoba beternak kambing di pekarangan rumahnya.

Bersama suaminya, Suwarti membuat sebuah kandang kambing berukuran sekitar 3 x 2 meter persegi. Ia juga membeli sebanyak 6 ekor kambing anakan dengan maksud untuk dibesarkan dan dianakkan. Semula, usahanya itu berjalan lancar. Namun, beberapa waktu kemudian, 3 ekor anak kambingnya mati, karena terserang penyakit. Sehingga, hanya tinggal 3 ekor kambing saja yang kini dipeliharanya. “Ya, mau bagaimana lagi? Namanya juga usaha, pasti ada resikonya,” katanya.

Meski belum mendapat hasil dari beternak kambing, Suwarti berharap dari 3 ekor kambing peliharaannya itu. Kambing yang kini telah besar itu diharapkan bisa beranak-pinak lagi dan menjadi banyak, sehingga bisa dijual untuk menambah pemasukan keluarga.

Untuk mencicil angsuran pinjaman setiap bulan, Suwarti menambung dari hasil membuat anyaman bambu yang dilakukan setiap hari. Ia juga menyisihkan sebagian penghasilan suaminya dari menarik becak. Ia mengaku bersyukur, adanya program Tabur Puja bisa memberinya jalan usaha dan harapan mengubah nasib, dan menghindarkannya dari iming-iming rentenir yang sempat menawarinya. “Ya, bersyukur ada pinjaman dari Posdaya. Karena bisa pinjam tanpa jaminan. Bunganya juga ringan. Tidak memberatkan. Memang dari usaha beternak kambing ini saya belum mendapat hasil, tapi bisa untuk tabungan ke depan,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar