Tabur Puja, Datang, Rentenir, pun Hilang

97

RABU, 5 APRIL 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Jerat lintah darat, rentenir, ternyata tak hanya terjadi di daerah pelosok dan terpencil. Namun, rentenir bahkan menyergap puluhan warga perajin gerabah dan keramik, pedagang maupun buruh, di selatan kawasan Sentra Kerajinan Gerabah di Kasongan, Bantul, Yogyakarta.  

Dusun Kalipucang

Berada di selatan kawasan Desa Wisata Kasongan, Dusun Kalipucang, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, merupakan sebuah pedukuhan yang cukup ramai. Terdapat sekitar 440 Kepala Keluarga (KK), tersebar di 6 wilayah Rukun Tetangga (RT), dengan mayoritas warga berkerja sebagai pedagang, perajin keramik atau gerabah dan buruh.

Hampir di setiap sudut jalan dusun itu, sejumlah perajin gerabah dan keramik nampak membuka usaha, mulai dari kelas menengah, kecil maupun mikro. Sejumlah gapura dan tugu dari bahan gerabah, juga terlihat menghiasi jalan masuk utama sebagai penanda atau identitas dusun.

Banyaknya warga yang berprofesi sebagai pedagang maupun perajin gerabah dan keramik, membuat Dusun Kalipucang menjadi sasaran serta incaran para rentenir atau lintah darat. Tak jarang, mereka menawarkan pinjaman menggiurkan, namun dengan bunga tinggi yang sangat memberatkan.

Sejumlah warga yang termakan rayuan para rentenir, bahkan ada yang sampai kehilangan tanah, untuk bisa terlepas dari lilitan hutang yang terus-menerus menumpuk. Namun, sejak adanya program Simpan Pinjam Tabur Puja dari Yayasan Damandiri, yang disalurkan melalui KUD Tani Makmur, dan Posdaya Kenanga I di tingkat dusun, pada sekitar 2014, ketergantungan warga Dusun Kalipucang kepada rentenir, mulai berkurang, bahkan kini sudah hilang sama sekali.

Sri Martilah

Ketua Posdaya Kenanga I, Sri Martilah, menuturkan, pihaknya sengaja menerima program Tabur Puja sebagai upaya mengurangi ketergantungan warga di dusunnya kepada rentenir. “Sekitar tiga tahun lalu, KUD Tani Makmur mengenalkan program Simpan Pinjam Tabur Puja. Lalu, saya sosialisasikan kepada para warga di tiap RT. Ternyata, warga merespon baik,” katanya.

Banyaknya warga dusun yang memiliki usaha kecil, namun tidak memiliki modal besar, serta ancaman jeratan para rentenir menjadi alasan utama Sri Martilah menerima program Tabur Puja. Selain itu, program Tabur Puja juga memiliki banyak keunggulan dibanding unit usaha simpan pinjam lainnya. “Keunggulan Tabur Puja itu antara lain tanpa agunan, prosesnya mudah, syaratnya cuma fotokopi KTP dan KK, setelah wawancara, seminggu langsung cair. Tidak harus disurvei, dan bunga pinjamannya pun tidak memberatkan. Sangat jauh jika dibandingkan rentenir,” bebernya.

Keunggulan lain yang juga dimiliki Tabur Puja, menurut Sri, adalah seluruh prosesnya bisa dilakukan di Posdaya. Mulai dari pengajuan, seleksi, pencairan hingga pembayaran angsuran. Sehingga, warga tidak perlu jauh-jauh datang ke bank atau kantor tertentu. “Keuntungan lainnya, kita juga bisa sekaligus menabung. Jadi, setiap tahunnya kita menerima hasil dari tabungan itu,” ujarnya.

Selama sekitar 3 tahun berjalan, saat ini program Tabur Puja  di Dusun Kalipucang telah menyasar sekitar 66 KK, terdiri dari 11 kelompok. Setiap kelompok terdiri dari 3-12 anggota, dengan dana yang disalurkan mencapai Rp199juta.  “Program Tabur Puja ini sangat bermanfaat bagi peningkatan ekonomi warga. Khususnya, dalam mengurangi jeratan para rentenir. Sejak beberapa tahun terakhir, bahkan sudah tidak ada lagi rentenir yang datang ke dusun ini. Salah satunya berkat adanya program Tabur Puja,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar