Tabur Puja Kembangkan Kebun Kakao di Koto Hilalang

23

SABTU, 8 APRIL 2017

SOLOK — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Berkebun itu butuh modal yang besar. Untuk pembukaan lahan, pembelian bibit, perawatan, dan lain-lain. Mungkin hal inilah yang banyak mengganggu pikiran masyarakat yang ingin menekuni usaha perkebunan, terutama untuk tanaman jangka panjang.

Pak Afdal dan Bu Yusneti.

Namun, hal ini dibantah dengan bukti yang ditunjukkan oleh berbagai petani kebun yang hanya bermodal kecil. Di Nagari Koto Hilalang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, berbekal semangat untuk terus meningkatkan ekonomi ditambah dengan pola manajemen yang baik, Afdal (60) bersama istri, Yusneti (59), sukses mengubah lahan kosong seluas dua hektar menjadi produktif dan dapat menghasilkan kakao hingga 100 kg per minggu.

Di masa tuanya, dua orang suami-istri ini tidak dapat berdiam diri, hanya berpangku tangan sambil “ongkang-ongkang kaki”. Melihat kebun yang sangat berpotensi ditambah dengan lagi menjamurnya komoditi kakao sebagai tanaman tua, membuat semangat mudanya kembali bergelora.

“Badan boleh tua, tapi semangat kerja masih muda,” sebutnya sambil tersenyum memberi semangat untuk yang muda.

Memiliki anak lima dan sebelas cucu, kakek-nenek ini terus mengembangkan usaha. Selain bertani, mereka juga beternak itik dan berkebun kakao. Untuk ternak dan kakao, modal mereka berasal dari pinjaman jasa ringan Tabur Puja Posdaya Koto Hilalang di bawah naungan Koperasi KPRI Kencana BKKBN Kabupaten Solok yang bekerja sama dengan Yayasan Damandiri.

“Awalnya, kami mendapatkan pinjaman Rp2 juta yang digunakan untuk beternak itik,” sebutnya menceritakan awal meminjam.

Beternak itik merupakan pemasukan awal saat memulai pengerjaan tanaman kakao yang menghasilkan buah membutuhkan waktu. Sementara menunggu berbuah, perekonomian ditopang dari hasil ternak.

Penanaman kakao juga tidak dilakukan secara langsung, namun bertahap untuk mensiasati anggaran dan tenaga. Tahap pertama ditanam 400 batang. Karena angsuran lancar, di tahap kedua juga menambah bibit 400 batang.

“Untuk pinjaman tahap ketiga ini juga untuk menambah bibit kakao 500 batang,” katanya.

Penambahan secara bertahap tersebut memiliki beberapa alasan, di antaranya modal yang minim, pengerjaan yang berkelanjutan hingga hasil kebun yang sangat menggiurkan. Dalam beberapa waktu terakhir, pasangan suami-istri ini dapat mengumpulkan kakao kering dalam satu bulan 80 hingga 100 kg.

“Dengan harga Rp20 ribu saja per kilo, pemasukan per bulan dapat mencapai Rp2 juta. Alhamdulillah,” katanya.

Penghasilan tersebut hanya dari penanaman tahap pertama dan kedua yang sudah berbuah. Jika 800 batang yang ditanam pada tahap pertama maupun kedua, dan semuanya sudah menghasilkan, tentunya penghasilan yang dicapai juga meningkat.

“Jika terawat dari kecil, dalam 18 bulan, tanaman kakao sudah mulai berbuah,” sebut Pak Afdal memberikan sedikit ilmu.

Dari yang dihasilkan pada tahap pertama tersebut, menjadi salah satu alasan untuk terus mengembangkan dan menambah lagi 500 bibit kakao yang dananya berasal dari pinjaman di Tabur Puja.

Selain itu, untuk pemasaran sendiri, saat ini juga terbilang mudah, karena pengepul sudah mulai menjamur saat Tabur Puja juga menyalurkan pinjaman kepada para pedangang hasil kebun.

Tanaman kakao.

“Alhamdulillah, semuanya mulai bagus, hasil kebun meningkat serta pengepul sudah banyak sehingga petani sangat terbantu,” tutupnya.

Jurnalis:  ME. Bijo Dirajo / Editor: Satmoko / Foto: ME. Bijo Dirajo

Komentar