Tabur Puja, Wujudkan Impian untuk Punya Usaha

55

JUMAT, 7 APRIL 2017

YOGYAKARTA — Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sejak menikah dan berkeluarga sekitar 6 tahun silam, Andita (25), warga Dusun Kalipucang, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, harus selalu berada di rumah untuk mengasuh anak semata wayangnya. Kebutuhan sehari-hari sepenuhnya ditanggung oleh suaminya yang bekerja sebagai tukang ojek online. 

Andita menunjukan cacing dagangannya

Pendapatan suami yang tak seberapa, dengan tanggungan seorang anak berusia 5 tahun yang mulai memasuki usia sekolah, membuatnya berpikir untuk membuka usaha demi mendapatkan penghasilan tambahan. Namun sebagaimana kendala yang dihadapi orang pada umumnya, keterbatasan modal usaha membuatnya harus menunda impiannya memiliki usaha tersebut.

Sekitar 2016, lalu, sebuah peluang menghampiri wanita berambut panjang itu, tatkala di Posdaya Kenanga I di dusunnya ada program Simpan Pinjam Tabur Puja. Semula, Andita tidak menyangka jika usahanya yang masih sebatas rencana itu bisa diberi pinjaman. “Saya kira hanya Tabur Puja saja yang bisa memberi pinjaman kepada orang yang usahanya belum terlihat sama sekali,” katanya.

Adnita pun mengajukan pinjaman modal sebesar Rp2,5 juta untuk memulai usaha jual beli cacing di rumahnya. Usaha itu dipilih, karena kebetulan suaminya dulu pernah bekerja sebagai sales cacing di sebuah peternakan. Andita pun membeli sejumlah kebutuhan awal, seperti rak, tempat penampungan cacing serta sejumlah barang lainnya. Andita juga menggunakan modal pinjaman itu untuk membeli cacing di sebuah peternakan di daerah Imogiri, untuk dikemas dan dijual kembali.

“Setiap pagi sebelum berangkat kerja, suami beli cacing kiloan di daerah Imogiri. Setelah itu, cacing saya bungkus satu per satu di rumah menjadi kemasan kecil. Kalau sudah selesai, suami akan menitipkan cacing-cacing itu ke warung-warung pakan burung. Cacing itu biasa dipakai untuk umpan para penghobi mancing,” katanya, saat ditemui Cendana News, belum lama ini.

Dalam 3-4 hari sekali, Andita bisa mengambil sekitar 30-50 kilogram cacing, yang kemudian dikemasnya menjadi sekitar 600 bungkus. Setiap hari, suaminya akan mengantarkan cacing-cacing tersebut ke sekitar 20 warung pakan burung. Tak hanya di sekitar wilayah Bantul dan Yogyakarta, namun juga sampai ke Sleman, Kulonprogo, Wonosari, hingga Magelang, Jawa Tengah. “Alhamdulillah, kalau dulu tidak ada pendapatan sama sekali, sekarang sudah bisa mendapat pemasukan tambahan. Ya, lumayan, sehari bisa dapat Rp200-300 ribu,” katanya.

Menurut Andita, adanya program Simpan Pinjam Tabur Puja memberikan banyak manfaat bagi ibu rumah tangga yang ingin memulai usaha seperti dirinya. Dibanding program pinjaman lain, persyaratan Tabur Puja dinilai lebih mudah, karena tanpa ada jaminan. Selain itu, pembayaran cicilan juga bisa dilakukan di lingkup dusun, tanpa harus mengantri di bank. Dibanding pinjaman seperti rentenir, bunga pinjaman Tabur Puja juga jauh lebih ringan.

“Kalau program seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) itu bunganya memang lebih kecil. Tapi harus pakai jaminan dan syarat izin usaha. Disurvei, pula. Sementara kalau seperti saya ini, kan sebelumnya tidak punya usaha sama sekali dan bisa diberi pinjaman,” katanya.

Selain bisa untuk membantu suami mencukupi kebutuhan sehari-hari seperti membeli susu anak, dari hasil usaha itu Andita mengaku juga bisa menabung untuk biaya sekolah anaknya ke depan. Ia mengaku, biasanya menyimpan sebagian hasil usaha berjualan cacing itu dalam bentuk perhiasan emas, seperti cincin, kalung atau gelang. “Kalau misal butuh uang, kan tinggal dijual,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar