Tanah Retak Ancam Lima Puluh Enam Rumah di Ponorogo

100

KAMIS, 6 APRIL 2017

PONOROGO — Bencana masih belum bisa terlepas dari bumi Reog. Beberapa hari lalu, terjadi peristiwa longsor di Pulung, Ponorogo, menyebabkan 28 korban hilang. Kini bencana tanah retak juga terjadi di Desa Dayakan, Kecamatan Badegan, Ponorogo, dan mengancam 56 rumah warga.

Retakan di rumah Miswan.

Retakan terjadi pada Rabu (5/4/2017) pada pukul 21.00 WIB, mengenai rumah Toimin (65) dan Miswan (40) dan juga bangunan sekolah TK Muslimat.

Bhabinkamtibmas Desa Dayakan, Bripka Didik Harianto, saat ditemui menjelaskan, tanah yang retak tersebut merupakan tanah yang sudah retak sebelumnya pada beberapa waktu lalu dan semakin parah usai diguyur hujan dengan intensitas tinggi malam tadi.

“Yang paling terdampak rumah Toimin dan Miswan dengan lebar retakan mencapai 40 cm dan kedalaman 4 meter, juga dinding TK Muslimat mencapai 10 cm dan juga masjid Sabilul Huda,” jelas Didik kepada Cendana News, Kamis (6/4/2017).

Retakan di rumah Toimin.

Menurut Didik, saat retakan terjadi, warga sempat mendengar suara gemuruh dan tanah yang bergetar. Dalam waktu yang singkat, rekahan terjadi di lantai dan dinding rumah warga, bahkan sebagian genteng juga ikut runtuh.

“Retakan terjadi di wilayah bagian atas, wilayah Salam, Watuagung, merembet ke bawah hingga Jalan Raya Dayakan–Watuagung. Awalnya membelah jalan sekarang merambat ke bahu jalan kurang-lebih 5 meter dan berpotensi longsor,” ujarnya.

Akibat takut terulang kembali seperti kejadian bencana longsor di Pulung, Bripka Didik bersama anggota Polsek Badegan, Babinsa dan perangkat desa mengimbau warga terdampak agar segera mengungsi ke tempat yang lebih aman jika terjadi hujan dengan intensitas tinggi.

“Sudah ada 78 KK yang terdampak mengungsi ke rumah warga, karena sampai saat ini suara gemuruh masih terdengar di wilayah yang paling dekat dengan retakan,” tandasnya.

Bripka Didik Harianto.

Sementara itu, Toimin selaku saksi menambahkan, ia awalnya tidak mengira tanah di rumahnya labil, namun usai menyaksikan sendiri tanah di rumahnya mengalami keretakan, ia mulai panik.

“Saya takut dan khawatir, nantinya seperti kejadian longsor akibat retakan tanah seperti di Pulung kemarin, makanya saya memilih mengungsi, kadang malah masih terdengar suara gemuruh,” pungkasnya.

Jurnalis: Charolin Pebrianti / Editor: Satmoko / Foto: Charolin Pebrianti

Komentar