Tangkapan Cumi Melimpah, Untungkan Nelayan di Selat Sunda

401

SABTU, 1 APRIL 2017

LAMPUNG — Sejumlah nelayan di wilayah perairan Selat Sunda dan pesisir Timur Lampung mulai merasakan hasil tangkapan melimpah jenis cumi umi yang ditangkap sejak sepekan terakhir. Meski puncak musim cumi-cumi diprediksi akan terjadi pada pertengahan bulan April.

Sejumlah kapal nelayan di pusat pendaratan ikan Muara Piluk Bakauheni.

Salah satu nelayan yang juga pedagang ikan antar pulau, Kholil (50) mengungkapkan, dengan memiliki dua kapal penangkap cumi ia mengaku berhasil mendaratkan cumi sebanyak 1 ton dari dua kapal miliknya dan dijual ke pasar lokal serta pasar di wilayah Banten dan Jakarta. Ia mengaku, salah satu faktor melimpahnya cumi-cumi karena kondisi cuaca saat ini kerap hujan dan menjadi ciri khas banyaknya cumi di perairan wilayah pantai Timur Lampung dan Selat Sunda.

Kholil menyebu,t ia mengirimkan beberapa kuintal cumi hasil tangkapan kapal miliknya dan dari hasil membeli tangkapan nelayan lain ke sejumlah pasar tradisional di kota Bandarlampung, Kota Metro dan Bandarjaya, khususnya untuk cumi-cumi ukuran kecil. Sementara, cumi-cumi ukuran sedang dan besar digunakan untuk memasok sejumlah pedagang ikan besar di wilayah Jakarta dan Serang.

“Saat didaratkan, kita lakukan proses penyortiran karena sebagian besar cumi ditangkap dengan berbagai ukuran sementara permintaan pasar beragam. Ada yang meminta ukuran kecil dan ada yang ukuran besar sesuai minat pasar,” terang Kholil, salah satu nelayan di pusat pendaratan ikan Muara Piluk, Kecamatan Bakauheni, saat dikonfirmasi Cendana News , Sabtu (1/4/2017).

Melimpahnya hasil tangkapan cumi-cumi di perairan Selat Sunda dan perairan Timur Lampung diakuinya tidak serta merta mempengaruhi harga ikan di pasaran. Sebab ia menyebut musim atau tidak musim harga cumi tetap stabil dengan kisaran Rp35.000 per kilogram untuk cumi-cumi ukuran kecil, Rp50.000 untuk cumi-cumi ukuran sedang dan mencapai Rp65.000 untuk cumi-cumi ukuran besar.

Kholil, nelayan sekaligus pelaku bisnis jual-beli cumi.

Ia menyebut, pengaruh hanya terjadi dengan kuantitas tangkapan nelayan yang lebih banyak dibandingkan musim kemarau sebelumnya yang membuat hasil tangkapan cumi lebih sedikit. Namun soal harga tetap stabil. Permintaan akan cumi-cumi dari luar daerah dominan diminta dari sejumlah restoran seafood dan pasar ikan yang wilayahnya tidak memiliki laut sehingga permintaan cumi-cumi dan ikan laut tinggi.

Ia mengaku, memperoleh keuntungan hingga belasan juta dari berjualan cumi tersebut meski pembelian kepada nelayan dan juga kepada pelanggan masih dilakukan dengan sistem nota. Ia menyebut, pembayaran baru akan dilakukan setelah cumi-cumi tersebut laku dijual di sejumlah penampung di berbagai pasar dan nelayan akan menukarkan nota kepadanya sesuai dengan jumlah cumi-cumi yang dijual.

Salah satu penampung cumi-cumi dan berbagai jenis ikan lain di pusat pendaratan ikan Muara Piluk, Ida(42) mengungkapkan, melimpahnya hasil cumi-cumi membuat pendaratan ikan sejak awal April ini mulai meningkat dengan jumlah didaratkan mencapai dua ton per hari dari sejumlah nelayan. Ratusan nelayan banyak menyandarkan perahunya di dermaga Muara Piluk.

Ida, salah satu pengepul ikan di pusat pendaratan ikan Muara Piluk.

Ida menyebut, tangkapan ikan jenis lain saat ini sedang mengalami penurunan dibandingkan hasil tangkapan cumi. Selain permintaan cumi-cumi cukup melimpah harga cumi-cumi saat ini relatif stabil belum ada kenaikan sehingga permintaan konsumen juga cukup tinggi terutama dari sejumlah rumah makan penyedia ikan bakar dan pembuat cumi-cumi kering yang ada di wilayah pantai Timur Lampung.

“Cumi-cumi yang kami beli dari nelayan rata-rata sudah dipesan sejumlah agen di pasar ikan serta sejumlah pemilik restoran jadi kami pisah-pisah dalam drum khusus dengan es agar sampai di tujuan dengan kondisi masih segar,” ungkap Ida.

Ida mengaku, selama musim tangkapan cumi-cumi melimpah ia fokus pada jual beli cumi-cumi sementara ikan jenis lainnya yang lebih sedikit langsung diambil oleh para pelele atau penjual ikan keliling menggunakan kendaraan bermotor. Selain membantu para nelayan penangkap cumi-cumi ia menyebut perputaran uang selama musim cumi-cumi terbilang tinggi mencapai sekitar Rp500 juta per hari dari sejumlah nelayan, pengepul cumi dan penjual cumi ke pasar ikan.

Cumi-cumi.

Salah satu nelayan di wilayah Muara Piluk, Deden, menyebut, proses pencarian cumi-cumi yang dilakukan di perairan Selat Sunda dan pantai Timur Lampung menggunakan kapal khusus yang disebut kapal cumi dengan bagan congkel dan dilengkapi dengan cold storage sehingga nelayan bisa menyimpan dan mengawetkan cumi hasil tangkapan.

“Kendala kami hanya belum adanya pabrik es di Bakauheni sehingga kami terpaksa membeli es dari Kalianda yang harus dipesan terlebih dahulu untuk menyimpan di darat sehingga sesampai di darat langsung dikirim ke pelanggan,” terang Deden.

Meski kondisi cuaca di perairan Selat Sunda cukup tenang tanpa gelombang tinggi, namun kerap hujan yang justru menjadi faktor meningkatnya produksi tangkapan cumi-cumi para nelayan. Sejumlah nelayan bahkan mulai menyiapkan kapal-kapal untuk kembali melaut pada sore hari. Setelah pagi harinya mendaratkan cumi-cumi hasil tangkapan yang dilakukan pada malam sebelumnya. Musim cumi-cumi diakui sejumlah nelayan termasuk Deden dengan keuntungan hingga mencapai Rp10 juta per hari. Terutama saat hasil tangkapan cumi lebih dari 10 kuintal per hari dengan harga yang masih cukup stabil pada musim cumi-cumi bulan ini.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Komentar